Kisah Siapa?

Standard

Yah mau bagaimana lagi. Keikhlasan memang akan berbuah bahagia. Namun awal dari sebuah keikhlasan bisa jadi berupa deraian air mata. Tidak terbilang menjadi berapa hati itu terpatahkan, tidak terkira hati itu remuk redam. 

Yang membuahkan luka mungkin bukan karena luka lama yang dikorek lagi. Tapi mengetahui bahwa kita bukan lagi satu-satunya. Lebih lagi saat mengetahui bahwa kita bahkan tidak ada dalam pilihan. Luka lama yang judulnya adalah jika dia bukanlah aku, berganti menjadi luka baru yang berjudul jika aku bahkan tidak ada dalam pilihanmu. 

Lalu, ini kisah siapa? 

Bagaimana aku bisa berakhir disini tanpa siapa-siapa?

Seperti mimpiku terdahulu, menjadi bagian dari mimpimu. Tapi kau menjawab, untuk apa jika mimpi hanyalah mimpi. 

Saat menyenangkan memiliki mimpi yang terwujudkan, ketika mimpi kita bersama jadi kenyataan, saat kita saling memimpikan. Kenyataannya mungkin bisa menjadi tidak menyenangkan, saat ternyata aku memimpikan orang yang memimpikan orang lain. Bahkan di dalam mimpinya pun aku tidak ada disana. Ah, baguslah jika mimpi yang seperti itu sebaiknya tidak usah terwujud saja. 

Biar saja dibilang egois. Toh itu demi menyelamatkan hati. Siapa yang akan menyelamatkan hati ini kalau bukan diri sendiri? 

Sekali Lagi

Standard

Entahlah.

Tapi rasanya luka-luka yang kau balut kelambu merah jambu itu membuat rasa sayangmu menjadi semu. Jika kelambunya tersingkap, semua luka tampak jelas. 

Saat kau bilang ingin pergi, kau jadi orang bebas lagi. Saat kau ingin kembali, aku rasa menjadi satu-satunya orang bodoh yang membuka jendela di malam hari saat nyamuk demam berdarah mulai kelaparan. 

Akhirnya kita berpagut maut, saling menikam dan mencurigai, berkata sayang namun tak mempercayai. Memang betul ternyata waktu merubah banyak hal walaupun tidak segalanya. Tapi lukanya masih tetap sama. Caramu pergi, ke siapa kamu kembali, semua masih tetap sama. 

Aku? Kita? Ah itu hanya kata ganti. Sebenarnya, menjadi pengganti itu menyebalkan. Alih-alih menjadi pengganti, lebih baik menjadi orang ketiga serba tahu dalam sudut pandang ceritamu. 

Ah, biar saja. Biar saja kalau kamu mau berlalu. Ini bukan pertama kali. Kalau memang bukan aku, masa bisa rasa cinta kurubah menjadi kelabu?

Standard

Ke Starbucks jaman sekarang pake piyama dan sendal jepit. Tenang pi, banyak bodyguardku 💪 sebentar lagi jadi Presiden kan, lagi atur Mas Ipul jadi menteri agama, mas Sofyan menteri Pariwisata, mas Daus di kedutaan, pak Pras jadi menteri Perhubungan, mas Prima Primo jadi juru bicara, nanti semua jamaah kita kasih visa furoda hahaha.

Mimpi kan bebas 😄🙌 – with Ipoeel, daus, and Sofyan at Starbucks

View on Path

Plat Nomer Cantik dan Papaku Yang Ajaib

Standard

Barusan lagi ngobrolin masalah perpanjangan mobil. Ternyata kena mahal terus-terusan karena mama beli mobil bekas yang platnya cantik. Kata supir saya suruh ganti yang plat biasa aja.

“Yaudah ganti aja besok, kan mobil untuk angkut koper juga nggak harus platnya cantik.”

“Gitu ya? Yaudah selanjutnya diganti plat aja.”

“Lah iya, nggak usah cari yang cantik, cari yang akhlaknya baik aja.”

“Iya ya, yang penting sholeha.”

Kemudian semua gagal fokus.

Trus papa nyeletuk,”Eh ini ada Pak Warno nanyain tentang umroh”

“Pak Warno siapa?”

“Itu pak Warno yang panggilannya Jet Li”

“Hah? Kok bisa dari Warno ke Jet Li?”

“Soalnya dia putih,”

“Lah papa juga putih kok nggak ada yang panggil papa Chow Yun Fat?”

“Iya ya, apa Tau Ming Se gitu.”

Zzzz. Salah makan semua ini anggota keluarga.

Standard

Namanya manusia beda-beda yak.

Sejam yang lalu saya dengerin manusia yang curhat kalo doi dikecewakan Logan yang akhirnya mati begitu saja bahkan baca sms aja pake kacamata dan bahkan Logan jadi supir uber juga jadi permasalahan dalam hidupnya.

Sedangka semenit yang lalu ada yang update kalo Logan adalah best movie of the week.

Sementara itu setiap baca tulisan Logan yang ada di pikiran saya masih aja buah kalengan yang biasanya dibikin es buah.

Hhh..namanya juga hidup. Kalo nggak sama, ya beda. Yaiyalah. Zzz.

View on Path

Standard

Karena orang jaman sekarang orang sering nggak ngerasa kalo apa yang ditanyakan itu menyakitkan bagi yang ditanya dan yang ditanya sering baper dengan pertanyaan si penanya maka hendaknya semua saling bersiap membalas dengan bijak tanpa harus membawa pisau lalu menyembelihnya sebelum hari raya kurban. – with Fadhila Husna

View on Path

Patokan Umur

Standard

Seharusnya, nggak ada yang mengharuskan. 

Entah karena hidup di Indonesia atau di luar angkasa sana juga sama ya, masyarakatnya pada sangat perhatian satu sama lain khususnya momen momen yang digaris bawahi. Umur sekian seharusnya sudah lulus, umur sekian seharusnya sudah menikah, umur sekian seharusnya sudah punya anak, umur sekian seharusnya sudah inilah itulah apalah entahlah. 

Tapi ya namanya juga hidup. Entah dari mana awalnya dan siapa yang mengawali mengharuskan sesuatu berdasarkan umur. Sebagian beraninya sama sesama manusia, saling mengukur dan berusaha membuat diri sendiri merasa lebih baik. Padahal mereka sendiri yang membuat patokan. Sambil nggak merasa bahwa mereka sedang mematok rejeki yang diberikan Allah. Memberikan batasan batasan terhadap kekuasaan Allah. 

Allah kasih rejeki kita semua sama, derajatnya sama, semua berdasarkan kekuatan hambaNya, Allah lebih tau tentang kita semua. Nggak usahlah mengharuskan tentang hidup ini seharusnya bagaimana, ada yang lebih berkuasa, pamali tau. 

Tidur gih. Barangkali besok bangun terus dilamar (aamiin).