Tour Leader Story (Part 3)

Standard

Biasanya saya bikin postingan Ask Me tapi bukan sebagai tour leader. Sekarang saya bakal bikin postingan Ask Me, pertanyaan-pertanyaan umum jamaah yang suka bikin saya bingung buat jawab. Tapi jawabnya sekenanya ya. Haha, kan nggak lagi ngejawab pertanyaan jamaah. Kalo jamaah langsung yang tanya, niscaya saya akan mendongeng…

#1 Aslinya mana?

Hm, dari dulu saya paling susah jawab ini. Bukan karena jawabannya. Tapi karena terusan pertanyaannya jadi panjang. Saya lahir di Padang Sidimpuan, 15 Desember 1991. Tapi nggak bisa bahasa sana karena saya cuma numpang lahir.

#2 Jadi kalo gitu tinggal dimana?

Tinggalnya pindah-pindah tergantung ada acara apa. Tapi alhamdulillah sebelum dicoret dari KK, saya masih tergolong ikut orang tua saya di Madiun. Hm, karena papa saya PNS dan penempatannya di Madiun. Mama saya juga tinggal di Madiun.

#3 Apa hubungannya sama Makassar? Kok Global ini pusatnya di Makassar?

Emm..itu bermula dari…ah ceritanya panjang. Intinya mama saya kenal sama yang punya, kemudian jadi jamaah, kemudian jadi perwakilan, kemudian saya jadi tour leader.

#4 Jadi masih ada hubungan saudara sama yang punya travel Global Makassar?

Iya, saudara satu nenek buyut. Adam dan Hawa.

#5 Sering banget ke Arab, mau cari jodoh orang Arab ya?

Nggak. Orang Arab sekarang jahat. Nggak bermaksud mendeskreditkan Rasulullah SAW, tapi yang saya tau dan saya alami sendiri, mereka nggak baik.

#6 Sudah menikah apa belum?

Belum.

#7 Masih kuliah apa sudah lulus?

Sudah lulus.

#8 Kuliah jurusan apa? Dimana?

Jurusan International Business Management. Di Universitas Ciputra, Surabaya.

#9 Berapa bersaudara?

Dua.

Hmm, itu sih most questioning questions. Dilanjutkan dengan perkembangan pertanyaan-pertanyaan sejalur yang makin melebar jawabannya. Iya, saya ini bisa dibilang suka krisis identitas kalo ditanyain aslinya mana. Pasti orang bakalan heran sama tempat lahir saya, mama saya yang Jawa dan papa saya Cina, kakak saya yang ada di Amerika, tempat tinggal saya yang nggak jelas tiap ditanya beda jawabannya lagi dimana, hubungan antara saya yang berasal dari multikultur itu dengan travel Makassar yang bikin saya jadi tour leader, dan saya yang belum menikah tapi nggak mau dapet orang Arab padahal kesempatannya terbuka lebar.

Hhh. Begitulah.

Saya tadi siang baru aja dipukul dari belakang sama orang Arab. Bikin saya jadi makin ilfeel. Sebelumnya juga saya pernah terjebak di lift sama orang Arab dan langsung dipeluk dan dicium yang segera saya berontak sebelum dia bertingkah lebih lanjut. Karena hal itu juga saya pernah berniat berhenti jadi tour leader. Saya juga sering dilamar orang Arab saat itu juga. Mereka bilang bisa menafkahi saya dengan berlimpah ruah tanpa saya harus capek-capek bekerja sebagai tour leader. Ada juga yang waktu saya lagi beli barang trus kedip-kedipin mata sambil manyun-manyun ngegodain. Wededededeh, najis.

Kejadian-kejadian yang nggak menyenangkan begitu kalo keinget bikin miris, jadi kadang saya keluar pake cadar, supaya nggak diganggu. Dan sejak hari itu saya nggak lagi ramah sama mereka. Senyum enggak. Liat muka mereka juga enggak. Saya juga sudah diwanti-wanti sama mutthawif-mutthawif saya supaya nggak terlalu ramah dan senyum, lebih banyak acuh aja sama mereka. Begitulah kenyataannya. Jangan ketipu sama muka Arabnya, nggak semua orang Arab berperilaku Nabi Muhammad.

Segitu dulu cerita saya hari ini, ya. Lagi nungguin buka puasa nih. Saya melakukan hal yang lain dulu. Mehehehee.

Tour Leader Story (Part 2)

Standard

Maaf banget baru ngelanjutin ini sekarang. Inipun disempetin karena ada waktu. Saya inget temen saya Galih Edwin Hidayat nanyain saya dan ngedukung saya untuk nerusin postingan tentang tour leader di blog saya. Sedih banget kalo inget ini, bulan Maret lalu seharusnya saya jumpain papa mamanya Galih waktu lagi umroh, tapi karena saya bingung lokasi hotelnya, akhirnya saya nggak sempet kesana. Dan belakangan ini papanya Galih meninggal, bahkan saya belum sempet jumpain beliau. Innalillahi wa innailaihi rajiun, semoga beliau khusnul khotimah. Aamiin.

Ada orang yang pernah bilang ke saya,”Kabeh ki sawang sinawang,” (dalam bahasa jawa yang artinya semua itu tergantung bagaimana kita ngeliatnya), dan saya inget banget sorot matanya, raut wajahnya, penekanan kalimatnya saat dia ngomong itu. Kesannya santai, tapi ada banyak hal yang akan selalu jadi misteri kecuali kita sendiri yang berjalan di atasnya.

Ini tentang pekerjaan yang saat ini kita geluti. Berapa banyak dari kita yang akhirnya jadi pegawai bank padahal lulusan universitas ternama dengan jurusan yang nggak ada hubungannya? Berapa banyak dari kita yang masih duduk di belakang meja sambil mengerjakan pekerjaan kita dan berfikir apakah sudah ada di jalur yang benar? Berapa banyak dari kita yang menerima gaji sambil membandingkan pekerjaan kita dengan teman yang lainnya? Berapa banyak dari kita yang mengeluhkan ada di tempat yang tidak sesuai dengan passionnya?

Kabeh ki sawang sinawang.

Hampir setiap waktu saya kalimat-kalimat bernada iri dengan pekerjaan saya ini masuk ke telinga saya. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak mau bekerja di bidang seperti saya, bolak-balik ke tanah suci, bisa berdoa sepuas hati, dekat sekali dengan Illahi, pekerjaan yang mulia, tidak perlu memikirkan biaya akomodasi. Tentu semua orang melihat dari sudut pandang abu-abu yang tidak pernah mereka bayangkan apa yang kami alami sebagai tour leader, khususnya di perusahaan kami Global Inspira Indonesia (GII).

Selama ini, direktur GII terlibat langsung sebagai tour leader. Selain memantau jamaah, melayani jamaah, berhubungan dengan perwakilan, memantau perkembangan visa, memantau keluar masuknya jamaah, berhubungan dengan agen, menerima kritik dan saran, membangun jaringan, apapun dilakukan untuk perkembangan perusahaan.

wpid-wp-1433949190953.jpeg

Bagian melayani jamaah. Melayani jamaah tidak hanya tersenyum dan bertanya pada jamaah,”Sehat pak? Sehat bu? Sudah makan?”. Tapi memastikan jamaah lengkap, mencari jamaah ketika hilang, melengkapi kekurangan yang ada perusahaan sesuai kritik dan saran yang membangun, membantu jamaah yang sakit, membantu jamaah yang kesulitan dalam hal apapun termasuk kekurangan handuk, kran air mati, kran air bocor, AC tidak menyala, AC terlalu dingin, mencari nasi mandi (makanan khas Arab), menunjukkan letak pasar, menunjukkan tempat-tempat belanja, mengantarkan jamaah ke ATM, mengatur kamar, memastikan mutthawif bekerja dengan baik, menghitung jumlah jamaah beserta koper, menyimpan label bagasi, berjalan minimal 2-4 km dalam sehari untuk memantau beberapa hotel sekaligus, dan lain-lain.

Bagian memantau perkembangan visa. Saya yang bulan lalu tidur satu kamar dengan Tante Tiara selaku direktur, ikut memantau kenaikan harga visa, keluarnya visa, dan ikut harap-harap cemas. Dalam hal ini saya belajar, ijin masuk ke negara yang setiap bulan saya kunjungi ini tidak semudah dan seprofesional negara seperti Amerika Serikat. Mungkin ini disebabkan karena banyaknya kuota yang masuk ke negara ini, berbeda dengan Amerika Serikat yang tidak terlalu banyak orang bisa masuk kesana, ditambah persayaratan yang begitu ketat. Tidak bisa juga kita mengurus visa umroh untuk keberangkatan tahun depan. Dan Saudi Arabia juga tidak mengeluarkan visa secara berurutan, mereka mengeluarkan visa secara random. Harga pun semakin naik menjelang bulan Rajab, Syaban, dan Ramadhan. Bagaikan bisnis dengan hukum permintaan yang semakin tinggi, maka semakin naik pula harganya. Travel-travel menjerit. Berusaha memilih tetap berkomitmen untuk memberangkatkan jamaah dengan resiko rugi atau tetap mengambil untuk dengan mengorbankan komitmen pada jamaah. Provider-provider harap-harap cemas. Berharap kebagian visa dan persetujuan visa (mova) untuk mereka segera keluar. Sebagian provider paket visa beserta hotel menahan harga visa hingga makin tinggi sehingga mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari travel yang memilih untuk tetap berkomitmen tapi belum mendapatkan visa. Pihak yang mengeluarkan visa dengan santai mengeluarkan visa 5 biji setiap hari dibagi untuk seluruh travel di Indonesia. Sementara saya meringis tidak paham.

7754b-original

Saya sampai di Indonesia pada tanggal 23 Mei. Sementara jamaah yang mengalami penundaan di Indonesia sudah mencapai puluhan ribu. Di travel kami sendiri masih ada beberapa, dengan alasan yang sama yakni visa.

Bagian berhubungan dengan agen. Sampai di Indonesia, saya, ibu saya, dan suami Tante Tiara, Pak Edwin yakni pemilik yang juga direktur Global Inspira Indonesia, bersama-sama menghadiri undangan presentasi ke beberapa daerah. Melayani pertanyaan jamaah, menerima kritik saran yang masuk, dan mengadakan pemantapan untuk keberangkatan jamaah selanjutnya. Agen tidak selamanya satu visi. Ada agen yang baik, ada agen yang tidak baik. Sama seperti pemeluk agama. Ada orang Islam yang baik, ada orang Islam yang tidak baik, ada orang non Islam yang baik, ada orang non Islam yang tidak baik. Get over it. Sebisa mungkin kita harus bisa menutup kekurangan agen dengan menjadi tetap satu visi yaitu membantu jamaah untuk bisa berangkat ke tanah suci. Kami mengupayakan yang terbaik semampu kami. Terjadi penundaan, keterlambatan karena visa, rumah didatangi jamaah meminta pertanggung jawaban, dimaki-maki, ditunjuk-tunjuk, tapi kami tetap pada komitmen kami untuk mengupayakan yang terbaik bagi seluruh jamaah. Tidak ada secuil niat dari kami mengambil keuntungan dari keterlambatan ini. Merugi? Jelas.

Hari ini saja saya pergi ke Kediri untuk meminta ijin pada Ustad di Pondok Gontor Putra 3. Salah satu jamaah kami yang seharusnya berangkat hari ini beralasan tidak bisa menunda umroh ini karena ada yudisium. Kami mengupayakan kepada Ustadnya untuk memberi ijin pada jamaah kami. Alhamdulillah, tidak ada hasil yang mengkhianati proses. Jauh-jauh kami pergi demi selembar kertas ijin, diberikan dengan mudah oleh Ustad tersebut.

Karena yang orang lihat hanya yang di permukaan, mereka tidak punya kemampuan untuk menyelami dasar pekerjaan kita, jadi mereka selalu bilang,”Enak ya jadi kamu, aku juga mau,”

Boleh. Silakan saja. Saya yang lebih sering tidur bersama dengan jamaah saya sering keluar di pagi-pagi buta dan kembali ke kamar di tengah malam buta. Jamaah di kamar saya sering bertanya,”Kapan perginya mbak? Naik apa? Pulang kapan? Acara apa?”

Saya suka iseng nongkrong di lobby, berkeliaran di tempat-tempat jamaah biasa bertebaran, di masjid, di toko-toko perbelanjaan, cuma pengen liat raut wajah mereka. Tapi itu kalo lagi iseng. Selebihnya saya jalan pantau dari hotel satu ke hotel yang lain. Setiap ada kegiatan yang diagendakan oleh travel, setidaknya saya harus ada disana walaupun sebentar, untuk menunjukkan bahwa jamaah kami tidak pernah kami tinggalkan begitu saja. Kami selalu ada untuk jamaah.

wpid-wp-1433949216010.jpeg

Bulan Maret lalu saya membawa 95 jamaah. Singkat cerita saat tawaf dan sa’i, tiba-tiba ada jamaah yang masuk ke grup saya (sebelumnya saya bagi jamaah menjadi 4 kelompok). Pada saat itu kondisi saya sudah mau berangkat sa’i, dan ibu ini bernama ibu Warni berkata kalau beliau mau pergi pipis. Saya kaget. Saya bilang,”Ibu jangan pergi sendiri, nanti ibu hilang,” sambil setengah berteriak. Ibu yang sudah agak berlari menjauh ini kembali dengan mata berkaca-kaca,”Saya ini punya diabetes, Mbak. Saya nggak bisa tahan pipis.” Saya langsung merasa bersalah dan menyesali perbuatan saya.

Setelah seluruh rukun umroh selesai dilakukan, kami kembali ke hotel termasuk Ibu Warni. Saya pastikan seluruh jamaah sudah mendapat kamar yang nyaman. Saya turun ke lobby dan mendapati ada bapak-bapak duduk di depan hotel. Saya tanya,”Bapak kok nggak masuk ke kamar?”

“Saya masih tunggu istri saya tadi mencar mbak,”

“Istri bapak asmanipun sinten?”

“Bu Warni, Mbak”

“Lho, bu Warni sudah ada di kamarnya, Pak. Ada di kamar 811″

“Mosok, Mbak? Coba saya mau lihat dulu, Mbak,”

Kemudian saya antar Bapak ini ke kamar istrinya. Begitu mendapati istrinya ada di kamar, Bapak ini langsung bahagia kayak anak kecil dapet arum manis,”Iya betul, Mbak. Makasih ya!!”

Sesederhana itu sebagai tour leader mendapatkan kebahagiaan. Bisa menyamankan dan membahagiakan jamaah, itu kepuasan yang tak terhingga. Saya masih selalu ingat memori ini karena sehari setelah umroh, saya memilih tempat sholat Isya bersama jamaah dari Madiun bernama Tante Tika, di depan Kakbah, saya keinget Bu Warni. Saya berfikir, semoga orang tua saya selalu sehat dan saat menjalani umroh tidak sampai kesulitan karena penyakit-penyakit. Dan setiap perjalanan saya menjadi tour leader, melayani jamaah, meninggalkan kedua orang tua saya di rumah dengan pikiran-pikiran mereka dan kekhawatiran mereka apakah saya bekerja dengan baik, apakah saya menjadi anak yang sholeha, apakah saya mampu menjaga kepercayaan mereka, apakah saya mampu memenuhi semua yang mereka angan-angankan, saya selalu berdoa supaya ketika saya jauh dari mereka, akan selalu ada tangan-tangan Tuhan yang menggantikan saya menjaga kedua orang tua saya dimanapun mereka berada, sama seperti saya melayani dan menjaga jamaah saya.

15cea-original

Dan saya selaku admin dari salah satu media sosial Global Inspira Indonesia, selalu mendoakan keselamatan petugas, semoga seluruh kegiatan yang bernilai ibadah, diterima oleh Allah SWT, segalah jerih payah, keringat, keluhan, kesabaran, digantikan Allah dengan berkah dan pahala yang tidak ternilai harganya. Insha Allah, aamiin.

Di atas segalanya, alhamdulillah, terima kasih yang tak terhingga atas segala kesempatan yang diberikan kepada saya, dan pertemuan saya dengan orang-orang yang bekerja di lahan ini, sama-sama satu perjuangan melayani tamu Allah, untuk Bp. Muhammad Edwin, Ibu Mahditiara, Ibu Rahmawati Eka Putranti, Bp. Abdul Munap, Bp. Sofyan Ilyas, Bp. Kholil Ismail, Bp. Nasir, Bp. Fauzi, Bp. Nawawi, Bp. Syakrie, Bp. Munir, Bp. Barmawi Mukri, Ibu Maemunah Barmawi, Ibu Koeswidayati Ardho, dan seluruh tim yang banyak membantu dan tidak bisa saya sebut satu-satu, tapi saya sangat sayang dengan seluruh tim yang bertugas. Sehat-sehat selalu ya!

Trus Kalo Orang Bilang Begitu, Kenapa?

Standard

Tentang hidupmu. Kalo ada orang yang memberikan pendapat, memberi asumsi, menyimpulkan, menghakimi, cuma karena orang yang bilang kayak gitu, bukan berarti apa yang mereka bilang itu bener kan? Trus kalopun yang mereka bilang itu bener atau salah, terus kenapa? Apa dunia ini akan berubah sesuai apa yang mereka bilang? Dunia bisa aja ribut senyinyir mulut-mulut nggak bertanggung jawab, mendadak jadi ahli agama, paham segala macam ilmu, berlogika yang dibenarkan oleh otak mereka sendiri, berkata mereka bertindak sesuai ilmu yang mereka miliki, tapi apa yang jadi misteri hati, masa depan yang akan terjadi, tetap kuasa Illahi.

Hari ini juga.

Saya lagi capek, lemes, dan banyak pikiran. Tiba-tiba ada orang yang ngomong tentang saya dan menyimpulkan tentang tindakan yang saya ambil berdasarkan asumsinya sendiri. Mau menyanggah kok ya rasanya buat apa. Sanggahan saya mungkin tidak menggenapkan. Toh di dunia ini ada kok Yang Maha Tau. Buat apa kita meladeni orang-orang yang ngomongnya tinggi selangit sampe lupa turun, mungkin udah mau ikut Isra Miraj sama Rasulullah SAW kali.

Beberapa tahun yang lalu, saya post berseri-seri tentang Kata Orang Hidup Saya Bahagia yang bisa kalian temukan di pages blog ini. Yang baca dengan pikiran terbuka pasti ngerti apa maksud saya. Hanya karena saya ngepost dengan gaya bahasa yang santai dan nggak peduli apa kata orang, apalagi dengan judul Kata Orang Hidup Saya Bahagia, bukan berarti lalu hidup saya penuh dengan pesta bahagia.

Siapa yang tau berapa kali saya berantem sama kakak saya dan sedih banget ketika orang bilang saya “manis”, sementara kakak saya “cantik”. Kalo sekarang diceritain sih jadi lucu dan bego. Tapi pada paham nggak betapa sakitnya anak kecil yang punya masa kecil kayak gitu? Udah rambutnya nggak tumbuh, mukanya kucel, om-om saya bahkan manggil saya kayak singa laut atau “klamudan pelok” (bahasa jawa buat mangga yang udah dikulum-kulum tinggal biji dan serabutnya), seumur hidup dibandingin sama kakak saya yang bak Ibu Kita Kartini, emang enak?

Siapa yang tau berapa kali saya minder karena masa kecil yang kayak gitu? Mama saya selalu lihat kakak saya dengan tatapan yang beda dengan saat mama liat saya. Berapa kali saya bilang ke kakak saya,”I know she loves you more than me”, karena saya iri sama kakak saya.

Sekarang liat saya udah besar, bisa diliat orang, saudara-saudara yang dulunya cuma tau nama saya dan anggep saya sebelah mata sampe nanya,”Kok beda banget sekarang?” sambil ngeliat saya takjub. Iya, singa laut yang dulu udah berubah jadi manusia ya?

Saya sempet cerita soal ini ke Direktur saya, Tante Tiara, beliau sampe ketawa ngakak. Saya pun cerita dengan santai dan ikut ketawa. Itu toh sudah masa lalu yang saat ini sudah menjadi bagian dari diri saya. Hanya karena judulnya ada kata “bahagia”, bukan berarti saat itu hidup saya bahagia.

Ada juga cerita soal saya yang berumur berapa taun itu ketauan lagi makan eek saya sendiri. Ya kalo sekarang saya ceritain juga ngefeknya apa. Toh itu eek yang sudah saya makan udah jadi eek lagi dan mungkin sudah berkumpul bersama dengan eek-eek lain di samudra sana (hah ini kenapa jadi ngomongin eek sih). Tapi kalo waktu TK saya cerita itu sama temen-temen saya, niscaya saya pasti dicap sebagai pemakan eek dan fix nggak punya temen.

 Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Apapun yang sudah terjadi di masa lalu sampai hari ini, membentuk karakter dan pribadi saya hingga saat ini. Dan dari metamorfosis yang terjadi dalam hidup saya, saya bersyukur karena diberikan kemampuan untuk memaknai dan menghargai prosesnya. Dengan adanya saya saat ini, okelah walaupun saya masih selalu minder sama orang yang lebih cantik, seenggaknya saya mau berpikiran terbuka, belajar, bahwa apapun yang terlihat buruk pada saat itu, bukan jaminan selamanya akan menjadi hal yang buruk, apalagi hanya karena “katanya orang”. Dan apa yang terlihat baik pada saat itu belum tentu selamanya akan menjadi yang terbaik. Akan ada hal-hal lain yang menyamai kebaikannya atau bahkan melampauinya.

Jangan sombong. Jangan pedulikan apa kata orang. Berjalanlah di jalan yang lurus. Berpegang teguhlah pada nilai-nilai positif yang membuatmu teduh.

Tentang LDR

Standard

Halo semuanya, kayaknya sudah sejak 200 tahun yang lalu saya nulis postingan terakhir saya langsung via wordpress. Semacam waktu masih punya temen gila-gila yang sekarang udah pada (berusaha) lulus dari bangku kuliah. Kayaknya yang kuliahnya rada bener cuma saya sama Raina deh. Yang lain di semester akhir (alhamdulillah) menemukan cinta dan beranjak move on (dari cinta lama, bukan dari status mahasiswa). Sebagian temen-temen sudah mulai merasakan Long Distance Relationship (LDR) dan mulai alay di sosial media sampe saya pengen bunuh diri liatnya. Yakali kalo LDRnya beda benua, beda zona waktu, beda negara, beda alam apalagi, lah ini pada beda kota yang bisa disamperin naik kereta, naik bis, naik pesawat apalagi.

Ngomong-ngomong soal LDR, saya mau kasih tips buat yang LDR.

1. Jangan gampang baper.

Sekarang dengan adanya sosial media yang setiap detik punya bahan baper, kalian bakal ngenes kalo apa-apa dibikin baper. Kakak saya pernah nasehatin saya, nggak semua masalah perlu dipemasalahin, kadang diem aja itu cukup menyelesaikan masalah, apalagi masalah yang awalnya nggak ada trus jadi ada karena baper. Pret.

2. Nggak usah semua hal tentang perjuangan LDR kalian post di sosial media.

Sosial media itu untuk bersosialisasi, to fit in the society. Kalo kalian tampilin semua screenshoot pacaran kalian, trus pacaran di sosial media setiap detik setiap waktu, padahal juga bisa pake private message via apapun nggak usah saya sebutin, trus setiap detik ngegalauin LDR kalian, niscaya yang ada bukannya kalian fit to the society tapi malah jadi bikin iritasi buat society.

3. Pahami kerjaan dan kegiatan pasangan kalian sepenuh hati.

Kalian adalah pendukung bagi pasangan kalian. Anggeplah saat seluruh dunia ini nggak mendukung dia, ya itu peranmu untuk ada di samping dan di belakangnya. Jangan jadi musuh bagi kegiatan atau kerjaan pasangan kalian dengan menentang apapun yang pasangan kalian lakuin. Jadilah supporter positif yang sama-sama berjalan menuju kebaikan sambil berdoa supaya sibukmu dan sibuknya adalah sibuk yang membawa kebaikan bagi kalian.

4. Jaga kepercayaan.

Menjaga kepercayaan itu sama dengan tidak memberikan celah bagi pasanganmu untuk beralih. Jangan memberikan alasan untuk mereka menjadi nggak percaya sama kamu. Masih nyimpen foto mantan, foto gebetan, atau apapun yang bisa memicu kecurigaan. Kalo bisa menghindari masalah, ngapain sih mancing-mancing?

5. Berdoa bersama.

Saya termasuk orang yang sangat percaya sama sugesti. Saya percaya Allah Maha Tepat Waktu. Dia tidak pernah terlambat atau bahkan terlalu cepat. Allah tau waktu yang tepat kapan dikabukannya doa-doa kita. Jadi perbanyak berdoa bersama, karena doa sendiri sudah terlalu mainstream dilakukan oleh para jomblo :p

Sekian saran untuk pasangan LDR di luar sana. Semoga bermanfaat. Kalo tidak bermanfaat, seenggaknya jangan sampe kalian dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu (loh apa ini)

Standard

“Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup. Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan. Tapi hanya anak-anak miskinlah yang melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan. Tapi hanya mereka yang hidup sederhanda yang bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yang terbaik.

Hiduplah sederhana. Berjalanlah dengan rendah hati. Mencintailah dengan tulus”

View on Path

About Life

Standard

Life is like a party. You invite a lot of people, some leave early, some stay all night, some laugh with you, some laugh at you, and some show up really late. But in the end, after the fun, there are few who stay to help you clean the mess. And most of the time, they aren’t even the ones who made the mess. These people are your real friends. They are the ones who matter the most.

I used to have those kind of people beside, behind, and in front of me. They were always around. That was before the mess I made. Now I understand that what the past is past, no matter how much we have done for them, some won’t appreciate us. Release them. Go where we’re appreciated and understood.

I used to believe I have them. And now I realize, those days are gone.

Standard

I always fall to people who response,”You will always have me,” when I don’t have anyone or when I was on my worst time, dark days, and lowest point on my life. But those people who said that usually the one who left me with no word to say, except one, my sister.

She give me her back, her support, her thought, and I love her to infinity and beyond. – with Rani Ayunda Diana

View on Path