About Life

Standard

Life is like a party. You invite a lot of people, some leave early, some stay all night, some laugh with you, some laugh at you, and some show up really late. But in the end, after the fun, there are few who stay to help you clean the mess. And most of the time, they aren’t even the ones who made the mess. These people are your real friends. They are the ones who matter the most.

I used to have those kind of people beside, behind, and in front of me. They were always around. That was before the mess I made. Now I understand that what the past is past, no matter how much we have done for them, some won’t appreciate us. Release them. Go where we’re appreciated and understood.

I used to believe I have them. And now I realize, those days are gone.

Standard

I always fall to people who response,”You will always have me,” when I don’t have anyone or when I was on my worst time, dark days, and lowest point on my life. But those people who said that usually the one who left me with no word to say, except one, my sister.

She give me her back, her support, her thought, and I love her to infinity and beyond. – with Rani Ayunda Diana

View on Path

Standard

Sore kemarin kami jalan-jalan, pertama kami singgah ke Jamarat tempat jamaah haji melempar jumroh kemudian ke Jabal Nur.

Jabal Nur, gunung tertinggi di kota Mekkah, disitu terdapat Gua Hira tempat Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kali. Selama 40 hari Rasulullah SAW berada disana.

Gua Hira bukan seperti gua yang kita ketahui, Gua Hira berukuran kecil, hanya cukup dimasuki 3 orang untuk shalat. Sisanya bisa menunggu di mulut gua. Di tempat sesederhana itu Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril.

Konon, malaikat Jibril tidak langsung turun ke Gua Hira melainkan singgah di gunung yang ada di seberang Jabal Nur.

Proses pendakian ke Gua Hira membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, karena saya dan tante @tiarasyafruddin banyak singgah duduk untuk bernafas. Sambil takjub kami membayangkan perjuangan Khadijah yang setiap hari membawakan Nabi Muhammad SAW makanan dengan menempuh medan yang berat, belum ada tangga seperti sekarang, sementara kita melalui tangga aja masih ngos-ngosan.

Turun dari Gua Hira membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, kaki kami gemetaran karena harus menumpu di lutut. Ditambah salah kostum, kami pakai long dress, dan tante @tiarasyafruddin pake wedges. Subhanallah.

Alhamdulillah kami diberi rezeki berupa kesempatan, kesehatan, waktu luang, untuk bertafakur ke Gua Hira.

Masha Allah, masha Allah.

PS: Pardon my kucel face yang penuh debu, keringet, dan minyak jadi satu sampai di atas 😅😅😅 – with tiara, kholil, and Sofyan at Jabal Nur – Ghar Hira

View on Path

Standard

Meet my partners!
Ada mas Sofyan, ustad Kholil, dan ustad Nasir. Foto yang atas kita ambil bulan Februari, foto yang bawah adalah foto tahun lalu waktu kita mau pisah. Jadi foto berempat kita cuma dua. Mau foto bareng susah banget, soalnya jadwalnya beda-beda, masing-masing sibuk dengan kerjaan masing-masing. Karena selain jadi tour leader, mutthawif, perwakilan, juga jadi penunjuk jalan, tukang service ac, tukang handuk, tukang mencet tombol di atm, tukang apa aja serba bisa, hahaha.
Terakhir saya gabungin dan tunjukkin foto ini ke mas Sofyan, dia bilang,“Hahaha, nggak ada yang berubah, kusam semua”. Memang belum ada yang berubah, belum ada yang menikah, jadi bahasannya itu terus,“Kapan menikah?”, “Jadi sama itu nggak?”, “Sama itu aja”, “Duluan aja menikah,”

Begitu terus sampe Doraemon balik ke abad 22. – with kholil and Sofyan

View on Path

Standard

Alhamdulillah dini hari tadi acara tahajud di Hijr Ismail, sholat sunnah taubat di tempat sholat sunnah taubat Nabi Ibrahim AS, dan sholat syukur di belakang multazam berjalan lancar. Saya yang awalnya jaga tas waktu jamaah melaksanakan ibadah, sempet diliatin sama orang-orang yang lewat. Mungkin dikira saya jasa penitipan tas seluruh dunia.
Baru setelah jamaah semua selesai, saya dan ibu eka diantar tante tiara melakukan ibadah yang sama seperti yang jamaah lakukan. Alhamdulillah, jalan yang ada di depan saya selalu kosong, selalu longgar, seolah selalu diberikan celah untuk lewat mulai dari sholat taubat, tahajud, dan sholat syukur. Di tempat sholat sunnah taubat nabi Ibrahim AS misalnya, tiba-tiba setelah ibu Eka berdoa dan pindah, tempat itu kosong, jadi saya langsung loncat nempel kesitu dan berdoa. Kata tante Tiara,“Berdoa disini sangat mustajabah, saking mustajabahnya nggak ada doa jelek yang diterima.”

Baru saya nempel berdoa disitu lagi mau nangis, trus tante tiara ingetin saya dari belakang,“Melva minta jodoh”. Saya yang awalnya mau nangis jadi geli sendiri. Sampe diingetin minta jodoh. Saking pada gemes juga kali ya ini orang selow selow aja nggak ngerti nasibnya gimana pasrah aja.

Setelah itu kami masuk ke Hijr Ismail, yang biasanya padat merayap. Di depan saya ibu Eka kegencet orang yang badannya segede gaban, sementara saya di belakang bu Eka berdiri nggak ada yang ngedusel. Saya dan bu Eka pisah tempat sholat, bu Eka di depan, saya cari tempat di belakang. Saya dipanggil sama mas-mas yang lagi berdoa, suruh sholat di tempatnya sementara dia mau berdiri dan kasih tempatnya untuk saya. Masha Allah alhamdulillah, longgar sekali.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, segala puji bagi Allah, sejak kedatangan sampai saat ini, walaupun jalan jauh, kontrol jamaah dari beberapa hotel dari hotel ke hotel yang jaraknya nggak deket tapi masih diberikan kesehatan, keselamatan, perlindungan, kemudahan oleh Allah SWT. – with Anugrah and tiara at Al-Masjid Al-Haram | المسجد الحرام

View on Path

Standard

Jangan pernah lupa, Allah memberikan pertempuran terberat pada hamba-hambanya yang terkuat. Dan tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan hambaNya.

Skripsi contohnya. Siapa sangka kita bisa melalui skripsi dan jadi sarjana, padahal kalo dibuka lagi itu buku skripsi kayak nggak percaya kita yang ngerjain, kayaknya susah banget. Dulu kesusahan, sekarang udah kelupaan.

Jadi, skripsi adalah salah satu contoh ujian terberat yang bisa kita lalui walopun keliatannya kita nggak mampu.

View on Path

Jangan Gitu Dong!

Standard

Sore ini saya pergi ke sebuah pondok yang tempatnya lumayan jauh dari rumah saya. Saya cuma disuruh nyokap ngasih amanah ke pondok itu. Udah nyasar, orangnya ditelpon nggak diangkat, ngasih alamat juga nggak jelas, cuma ngasih alamat berupa nama desa dan wilayah, nggak ada nomer jalan pula. Bolak balik saya nanya ke orang, sampe akhirnya nemuin itu pondok. Tadi saya sampe di pondok itu sekitar abis ashar, saya ketokin kantor, rumah pengurus, nggak ada yang ngerespon. Sampe akhirnya ujan deres banget dan saya masih nyari payung yang kecepit di antara satu kuintal beras yang dimasukkin mobil saya. Akhirnya walaupun payungnya udah ketemu, saya tetep basah kuyup.

Saya jalan nyari orang yang ada di sekitar pondok itu. Saya nyari nama orang yang dikasih ke saya untuk ngasihkan amanat dari nyokap saya. Saya udah kayak Cinta Laura yang ujan-ujanan di jalanan becek dan nggak ada ojek. Lagian buat apa saya naik ojek orang saya bawa mobil juga. Sampe akhirnya saya yang basah kuyup bagaikan tikus kecemplung got ini ditemukan oleh sodaranya pengurus pondok. Saya disuruh balik lagi ke rumah pengurus pondok itu, jadi Cinta Laura KW Super Grade AAA ini melewati jalanan becek lagi tanpa ojek menujur ke rumah pengurus pondok.

Udah ketemu. Udah basa-basi.

Saya cerita kalo saya tadi nyasar. Tapi orangnya nggak tertarik sama cerita saya. Hiks. Jadi saya gagal cari perhatian. Trus amanah nyokap saya udah dikasih ke pondok itu. Kemudian orangnya bilang sesuatu mengenai sumbangan. Beliau mau mendirikan masjid dan mengajak orang-orang untuk menyumbang untuk beli tanah yang kemudian diwakafkan. Trus saya diem lama. Saya diem bukan karena mikir, saya diem karena saya kebelet pipis, kedinginan, dan nggak dikasih minum sama pengurus ini.

Setelah arwah saya balik ke tubuh saya, saya mengembalikan kesadaran saya. Jujur, walaupun sebagai sesama muslim tapi saya kurang setuju cara mencari uang dengan cara menarik sumbangan untuk masjid, untuk pondok, atau untuk apa saja yang mengatasnamakan agama. Kalau kita memberikan secara sukarela, alhamdulillah, tapi kalau model cari uang di tengah jalan untuk pengembangan masjid, atau dari rumah ke rumah minta sumbangan untuk pembangunan masjid, saya kok kurang setuju. Kalo mau dapet duit ya berusaha, jangan mengandalkan sumbangan. Nanti mentalnya jadi mental suka minta.

Singkat cerita, pengurus pondok ini kasih saya nomor rekening dan suruh saya untuk ajak jamaah saya, mama saya, papa saya, untuk menyumbang di tanah wakaf ini. Lalu saya pamit pulang dalam keadaan basah kuyup, kebelet pipis, dan haus itu tadi. Saya pun balik ke rumah dan cerita sama mama saya tentang ini. Saya kurang respek sih sama pondok dan ustad/ustadzah yang modelnya cari sumbangan, hidup dari belas kasih, atau rasa nggak enak hati sesama muslim kalo nggak ngasih duit kok ntar dibilang pelit, dibilang nggak mau beramal, dll. Saya rasa amal ibadah seseorang itu urusan dia dan Tuhannya.

Yah, kalo bisa sih yang suka minta sumbangan di tengah jalan, di bis, dll itu juga jangan gitu dong. Kesannya kita ini kok agama yang umatnya suka minta-minta. Merusak citra aja deh. Jangan gitu dong.

Sorry, just saying.