I Want To Throw A Chair To These People

Standard

I don’t really understand why people can’t just shut them mouth rather than bad mouthing people, talking like they know every single fight and tear in my past. They came and said things like,”Makanya jangan asal nemu, Mel.” Everything happened for a reason. And my reason is none of your business. There’s nothing in my life such as “nemu”. I just wrote that before. There’s nothing happen in a coincidence.

Hey, you know what? I am not the good guy here. I am the bad guy in the movie so that’s why we both hurt. And I hurt myself. And I hurt people. That’s why it makes me a bad guy in the movie I play. Why are you guys talking like you know the whole story when you don’t even know what role I was in?

These people…these people who play good in front of me, act like they care but then hurt me, act like the know but they don’t know, pray for me (thanks to you for this) and then say bad things in front of me, act sad when I was sick but then they’re just curious on the family drama we have, really people…I want to throw you guys a chair.

What is going on with you? If you can’t say something good, don’t say something that will hurt other people. If you don’t know whether it will hurt em or not, if you doubt it, you better keep silence. You will never be friend with me with those character. Geez. Astaghfirullah. We really really have to do so much istighfar.

What? I mad? Yes, I am. Look, I am going to forgive you. But I don’t know about the chair..

Tour Leader Story (I don’t remember what part anymore)

Standard

Maybe, just maybe, saya adalah tour leader yang merepotkan tahun ini karena beberapa issue mulai dari kenaikan harga visa umroh progressive sampai biaya mahrom. FYI, akan ada biaya tambahan untuk jamaah yang berangkat umroh tanpa mahrom. Termasuk tour leader. And that refers to me. Jadi, selama ini kantor selalu menanggung biaya mahrom saya karena saya belum bersuami atau kadang diakalin dengan cara menggandengkan saya sebagai mahromnya siapa gitu hahaha. 

Beberapa waktu yang lalu ada wacana bahwa kedutaan besar Saudi Arabia akan menaikan harga visa untuk repeat jamaah mulai dari 2000 riyal per jamaah. Dan karena saya kena progressive, saya hitung saya harus bayar sekitar 5000 sampai 8000 untuk pengulangan keberangkatan dalam 2 tahun, kalau dihitung dalam rupiah sekitar 20 sampai 30 jutaan. Lumayan. Lumayan berat untuk perusahaan ngeluarin duit sebanyak itu buat seorang tour leader atau petugas.

Berhubung sebagai pemanasan untuk tahun depan yang jamaahnya super banyak di paket paket super hemat, jadi saya menerima tawaran jadi tour leader di sebuah travel juga untuk keberangkatan pertengahan bulan ini. Mereka hari ini rapat and said things like they pay for the mahrom fee for me. And then I just feel guilty for them. Mungkin mereka ngiranya saya sudah menikah jadi nggak perlu bayar biaya muhrim, but turns out they have to pay it karena saya ternyata belum menikah. Well…

I will be having a mahrom anyway, so please bear with me patiently hahaha.

Miss My Smile and Chubby Cheek 

Standard

Hahaha, it’s been a while sejak saya masih chubby dan kemudian jadi berasa balik SMA karena tiba-tiba kurus gitu. Kayaknya terlalu banyak dosa sehingga saya harus bertaubat. Rasanya yang dibangun sejak 2013 sampe 2016 tiba-tiba ilang karena kurus lagi. Padahal untuk bisa sampai di berat badan sekian butuh ribuan kilometer, bermacem macem makanan, temen-temen yang kuat dan hebat, doa orang tua, dan tentunya cinta.

I am nothing without em all. Just like tonight. Aku bahkan udah nggak inget kapan terakhir selfie dengan wajah riang gembira dan bahagia dengan pipi chubby yang akan dihina hahaha. But I’m kinda miss it. Beberapa temen sampe chat ke saya,”Aku kangen Mepa yang ceria”. Ada yang chat bilang,”Aku kangen senyumnya Mepa. Mepa kalo senyum cantik.” Ada yang kangen saya ajakin makan melulu. Dan lain lain. Sekarang bejibun makanan tapi saya nggak selera makan. Astaghfirullah. Bukannya nggak bersyukur tapi gimana ya..aku pun juga berusaha makan itu tapi nggak abis. Biasanya yang laper mata aja aku enggak. Mau di depan kantor ada Burger King, Upnormal, Dunkin Donuts….I don’t know where my appetide gone.

Well..I’m trying. So please be patience on waiting for my chubby cheek smile and laughter again. I’ll be healthy and happy again. This is just about the process. Everything’s gonna be alright. I will be fine. 

Kebetulan?

Standard

Konon katanya, semua yang terjadi di dunia ini itu nggak ada yang kebetulan. Bahkan ada buku juga yang ngomongin tentang itu. Ada juga temen saya yang waktu itu nanyain saya tentang pendapat saya tentang itu. Dia jelasin ke saya dengan segala logikanya dan perhitungannya tentang hidup. Sayangnya, waktu itu saya sibuk makan cemoe dan dia juga tau saya nggak ngerti itung-itungan jadi dia cuma perlu orang untuk mendengarkan. Well, mungkin untuk itu saya diciptakan. Mungkin.

Tapi yang jelas, bukan kebetulan dia cerita tentang itu karena sekarang dan pada detik ini saya keinget tentang itu. Kalo memang kebetulan itu ada, tentu aja dedaunan yang jatuh itu bakalan terbilang jatuh karena kebetulan. Nggak ada tulisan daun jatuh tak pernah membenci angin. Yaiyalah, gimana caranya dia membenci angin kalau dia nggak pernah tau caranya membenci? Daun tentu aja nggak membenci angin karena dia bahkan tidak dilahirkan untuk membenci. Bagaimana dia bisa melakukan sesuatu yang nggak pernah dia tau sebelumnya? No. There’s nothing happen in coincidence.

So, let’s prove it. Am I a coincidence to you?

And how did we get here I guess we found each other. But guessing is not a wise thing to do….I guess.

And let’s prove that you’ll not leave after you knew that I’m a real mess and a compilation of disorders. Or else you change your mind, haha. Feel free to not enter the door then.

Let’s see if we’re a coincidence or not.

Standard

Flight jam 15.10
Minta disamperin jam 13.30,”Can you go to the airport now?”

What? Like right now? R u high or something?

14.50 waktunya boarding macet di depan bandara.

My God­čśŽ

Masuk gih, ketinggalan pesawat nanti.
Belum kok belum ada tulisan final call.
Kamu dimana?
Kamu pake peci?
Kamu pake jilbab?
Kamu yang pake baju biru?
Kamu petugas bandara ya?

Pak, saya jangan ditinggal ya pak. Saya cuma ada perlu sebentar. Tunggu bentar banget.

Tangan kamu kenapa gemeteran?
Bukan. Bukan karena kita. Jangan kayak orang jatuh cinta deh. Tapi aku laper. Tadinya mau ngajak kamu makan. Tapi kamunya ternyata cuma mimpi, singgah bentar trus balik lagi. Jadi aku bangun dari kenyataan deh.

See you.

Kemudian macet lagi. Subhanallah, Jakarta.

View on Path

Tentang Al Kahfi

Standard

Seringkali kita mempertanyakan dan langsung menghakimi apa yang kita lihat tanpa kita tau apa alasan orang melakukannya. Dan saat kita menyadari bahwa yang kita lakukan itu salah, semua sudah terlambat. Tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk berhijrah. Jauh sebelum hits kata “move on”, sudah terlebih dahulu ada kata “hijrah”. Sesungguhnya Allah lebih tau apa yang menjadi niat kita. Bukan untuk mengesankan orang lain, bukan untuk membuat orang lain cinta pada kita, bukan untuk pencitraan, tapi semata-mata untuk Allah ta├íla.

Saya bukan mau cerita tentang sejarah Ashabul Kahfi. Toh juga mau kita perdebatkan berapa sebenernya orang yang disebut Ashabul Kahfi itu juga nggak boleh kan. Hari ini sebenernya mau cerita tentang saya sendiri yang selalu ngingetin orang untuk baca Al Kahfi dan diingetin orang untuk baca Al Kahfi, tapi baru ini saya baca juga sekalian sama artinya. Mengejutkan sih. Tapi ya walo sebenernya kaget, saya nggak perlu bilang wow sambil nyanyi fantastic baby-nya BIG BANG.

Antara agak dan sangat merefleksikan diri saya sendiri. Ketika diceritakan dalam surat Al Kahfi bahwa Nabi Musa mengikuti Nabi Khidir dan Nabi Khidir memperbolehkannya dengan syarat harus bersabar dan tidak boleh mempertanyakan apa yang Nabi Khidir tunjukkan tanpa Nabi Khidir sendiri yang menjelaskan kepada Nabi Musa. Tapi saat ditunjukkan oleh Nabi Khidir akan suatu hal, Nabi Musa selalu saja mempertanyakan bahkan semacam “ngejudge” Nabi Khidir bahwa yang dilakukan beliau salah sementara Nabi Musa tidak tau yang sebenarnya.

Sebenarnya sangat manusiawi yang kita lakukan sampai saat ini, mempertanyakan, menghakimi, merasa lebih tau, merasa baik, merasa lebih baik, dan sebagainya, padahal sebenarnya kita tidak tau alasan Allah menempatkan kita pada keadaan kita saat ini. Padahal Allah Maha Baik. Padahal Allah Maha Esa. Padahal Allah Maha Kuasa. Allah mengatur semuanya sendiri sementara kita tidak memikirkan Allah. Bahkan negarawan saja berkata, jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tanyakan pada dirimu apa yang kamu berikan untuk negaramu. Tapi kita bahkan tidak pernah berpikir, jangan tanyakan apa yang telah Allah berikan kepadamu, tanyakan kepada dirimu sendiri, apa yang kamu sudah berikan untuk Allah?

Masih saja kita berbuat maksiat. Masih saja kita mendzalimi orang lain dan diri sendiri. Masih saja kita bersikap seolah-olah kiamat belum dekat. Masih saja kita menantikan orang yang kita cintai padahal dia pun hamba ciptaan Allah. Masih saja kita tidak menantikan perjumpaan kita dengan Allah. Dan masih saja kita tidak berbuat kebaikan dan amal saleh.

Bahkan di akhir surat Al Kahfi pun disebutkan,

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.

Saya pun bukan sebaik-baiknya orang atau bahkan mungkin saya tidak pantas menyuruh orang untuk berhijrah padahal toh diri saya sendiri masih hina penuh dosa. Menurut pengalaman saya, menulis akan mengingatkan kita pada diri sendiri, saat kita mengingat kembali dan membaca apa yang telah kita tulis di masa lalu, bahwa kita selalu mengingatkan diri kita untuk bangkit dan selalu memperbaiki diri minimal lebih baik dari hari kemarin, kita akan terkejut sudah sampai dimana kaki ini melangkah. Tulislah hal yang baik, karena sekecil apapun perbuatan kita akan kita pertanggung jawabkan di akhirat.

Alhamdulillah

Standard

Alhamdulillah. Allah tidak pernah meninggalkan kita semua. Tidak memberikan kita musibah tanpa memberikan jalan keluarnya. Tidak memberikan musibah lebih dari kesanggupan kita melaluinya. Buktinya, saya di Palestine kedinginan dan koper saya hilang, sampai sekarang saya masih hidup. Ada penembakan di perbatasan Jordan dan saya bawa jamaah 90 orang, ternyata saya juga masih bisa melaluinya. So the point is, how worst life could be?

Alhamdulillah, keeping the circle small to positive people and sholih or sholihah people sangat berguna dalam berhijrah. Mereka adalah orang-orang yang akan selalu mengingatkan kita bahwa semua yang ada di dunia ini sudah ada yang mengatur. Libatkan Allah dalam segala sesuatu. Semua sesuai kadarnya, tapi bersyukur dan mengembalikan kepada Allah, sebanyak-banyaknya.

Alhamdulillah, Allah memberi kita akal pikiran yang membuat kita bisa berpikir dengan akal sehat. Berusaha memperbaiki kesalahan. Dan terus berusaha memperbaiki diri. Terus bermuhasabah. Hal yang baik terjadi karema Allah, hal yang buruk terjadi karena kecerobohan diri kita. Orang yang merugi adalah orang yang hari ininya lebih buruk dari hari kemarin.

Alhamdulillah. Saya salut sama Raina yang semakin cantik, semakin kuat nun jauh disana, jauh lebih kuat dari saya padahal dulu kalo saya ngambek aja dia nangis. Saya salut sama Dhany yang tetep stabil dan ganteng, walo pernah nungguin orang selama bertahun-tahun dan akhirnya ditinggal juga. Beberapa pesan yang terngiang-ngiang di kepala saya,”Kalau kamu dan pasanganmu memang di arah yang lebih serius, apalagi mau menikah, kalian akan mensyukuri kelebihan masing-masing dan saling memperbaiki kekurangan masing-masing.”

Katanya, “Egois nggak sih kalo kita nyuruh orang yang menyakiti kita untuk pergi padahal mereka yang ngajarin kita untuk jadi lebih dewasa?”

Alhamdulillah. Memang kata “baik”itu misterius. Menjadi baik, membaik, terbaik, baik-baik, baikan, semua punya subjektifitas sendiri. Alhamdulillah dulu, alhamdulillah lagi, alhamdulillah terus. Jangan lupa memperbaiki diri. Jangan terlena bahwa kita sudah jadi lebih baik lalu merasa lebih baik dari yang lainnya. Astaghfirullah.

Astaghfirullah, jangan sampai kita tidak membantu orang lain yang berusaha berhijrah. Astaghfirullah, kebaikan hanya milik Allah. Dunia ini hanya tipu daya yang sementara. Mau menggenggam erat sesuatu yang hanya titipan Allah, juga nantinya bakal kita kembalikan. Berdoa aja yang terbaik. Sabar. Usaha yang terbaik. Insha Allah, Allah sesuai prasangka kita. Dan alhamdulillah Allah pun sudah janjikan sama kita, kita akan dapatkan sesuai apa yang kita niatkan. Jadi, berprasangka sama Allah yang baik-baik, niatkan untuk yang baik-baik, insha Allah hasilnya baik. Hihi. Alhamdulillah.