Standard

Jangan pernah lupa, Allah memberikan pertempuran terberat pada hamba-hambanya yang terkuat. Dan tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan hambaNya.

Skripsi contohnya. Siapa sangka kita bisa melalui skripsi dan jadi sarjana, padahal kalo dibuka lagi itu buku skripsi kayak nggak percaya kita yang ngerjain, kayaknya susah banget. Dulu kesusahan, sekarang udah kelupaan.

Jadi, skripsi adalah salah satu contoh ujian terberat yang bisa kita lalui walopun keliatannya kita nggak mampu.

View on Path

Jangan Gitu Dong!

Standard

Sore ini saya pergi ke sebuah pondok yang tempatnya lumayan jauh dari rumah saya. Saya cuma disuruh nyokap ngasih amanah ke pondok itu. Udah nyasar, orangnya ditelpon nggak diangkat, ngasih alamat juga nggak jelas, cuma ngasih alamat berupa nama desa dan wilayah, nggak ada nomer jalan pula. Bolak balik saya nanya ke orang, sampe akhirnya nemuin itu pondok. Tadi saya sampe di pondok itu sekitar abis ashar, saya ketokin kantor, rumah pengurus, nggak ada yang ngerespon. Sampe akhirnya ujan deres banget dan saya masih nyari payung yang kecepit di antara satu kuintal beras yang dimasukkin mobil saya. Akhirnya walaupun payungnya udah ketemu, saya tetep basah kuyup.

Saya jalan nyari orang yang ada di sekitar pondok itu. Saya nyari nama orang yang dikasih ke saya untuk ngasihkan amanat dari nyokap saya. Saya udah kayak Cinta Laura yang ujan-ujanan di jalanan becek dan nggak ada ojek. Lagian buat apa saya naik ojek orang saya bawa mobil juga. Sampe akhirnya saya yang basah kuyup bagaikan tikus kecemplung got ini ditemukan oleh sodaranya pengurus pondok. Saya disuruh balik lagi ke rumah pengurus pondok itu, jadi Cinta Laura KW Super Grade AAA ini melewati jalanan becek lagi tanpa ojek menujur ke rumah pengurus pondok.

Udah ketemu. Udah basa-basi.

Saya cerita kalo saya tadi nyasar. Tapi orangnya nggak tertarik sama cerita saya. Hiks. Jadi saya gagal cari perhatian. Trus amanah nyokap saya udah dikasih ke pondok itu. Kemudian orangnya bilang sesuatu mengenai sumbangan. Beliau mau mendirikan masjid dan mengajak orang-orang untuk menyumbang untuk beli tanah yang kemudian diwakafkan. Trus saya diem lama. Saya diem bukan karena mikir, saya diem karena saya kebelet pipis, kedinginan, dan nggak dikasih minum sama pengurus ini.

Setelah arwah saya balik ke tubuh saya, saya mengembalikan kesadaran saya. Jujur, walaupun sebagai sesama muslim tapi saya kurang setuju cara mencari uang dengan cara menarik sumbangan untuk masjid, untuk pondok, atau untuk apa saja yang mengatasnamakan agama. Kalau kita memberikan secara sukarela, alhamdulillah, tapi kalau model cari uang di tengah jalan untuk pengembangan masjid, atau dari rumah ke rumah minta sumbangan untuk pembangunan masjid, saya kok kurang setuju. Kalo mau dapet duit ya berusaha, jangan mengandalkan sumbangan. Nanti mentalnya jadi mental suka minta.

Singkat cerita, pengurus pondok ini kasih saya nomor rekening dan suruh saya untuk ajak jamaah saya, mama saya, papa saya, untuk menyumbang di tanah wakaf ini. Lalu saya pamit pulang dalam keadaan basah kuyup, kebelet pipis, dan haus itu tadi. Saya pun balik ke rumah dan cerita sama mama saya tentang ini. Saya kurang respek sih sama pondok dan ustad/ustadzah yang modelnya cari sumbangan, hidup dari belas kasih, atau rasa nggak enak hati sesama muslim kalo nggak ngasih duit kok ntar dibilang pelit, dibilang nggak mau beramal, dll. Saya rasa amal ibadah seseorang itu urusan dia dan Tuhannya.

Yah, kalo bisa sih yang suka minta sumbangan di tengah jalan, di bis, dll itu juga jangan gitu dong. Kesannya kita ini kok agama yang umatnya suka minta-minta. Merusak citra aja deh. Jangan gitu dong.

Sorry, just saying.

Tour Leader Story (Part 1)

Standard

10157388_251221105063504_2136159317_nAssalamualaikum wr wb. Bismillah ir rahman ir rahim.

Halo, nama saya Melva Sabella. Walaupun nggak ada yang tanya dan sebagian yang baca sudah tau nama saya karena blog ini juga namanya pake nama saya, tapi biar terkesan sopan saya kenalan dulu. Untuk mempersingkat penulisan agar saya nggak capek nulisnya, demikian perkenalan dari saya. Sekian dan terima duit 3 milyar dollar.

Baik, demikian basa basinya. Sekarang saya mau bercerita. Setelah lama vakum dari blog dan adventure kesana sini, mungkin sebagian pada penasaran kenapa saya menghilang dari peredaran makhluk aneh. Jawabannya adalah karena saya sedang beribadah, cari bekal kalo tiba-tiba saya mati karena sekarang usia bukan jaminan yang tua bakal mati duluan.

Sejak tahun 2013, saya jadi jamaah umroh paket plus Palestine (seperti yang pernah saya ceritakan di post tahun 2013). Alhamdulillah saat itu saya berangkat umroh bersama mama dan papa saya, saya memperhatikan tour guide yang menjelaskan informasi tentang Palestine dan Jordan dengan bahasa Inggris, sambil sedikit-sedikit merenangkan kepana mama saya yang juga nggak bisa bahasa Inggris. Bisa sih, tapi lebih banyak sok taunya dibanding bener-bener bisa. Papa saya juga bisa sih, karena nilai TOEFLnya aja 525, tapi lebih banyak ngarangnya dari pada ngertinya. Sementara rombongan jamaah yang berasal dari Jawa ataupun Makassar yang tidak paham bahasa Inggris, kesulitan untuk memahami pembicaraan. Walaupun disitu ada tour leader kami yang bernama om Firman, tapi om Firman sibuk sekali mengurus fasilitas yang akan kami gunakan dan memastikan semuanya beres, jadi saya disuruh mama dan direktur travel yang kami gunakan (yang kebetulan ikut) untuk membantu om Firman menerjemaahkan informasi yang disampaikan tour guide yang bernama Ehab Suleman ke jamaah. Saya yang kebetulan juga anggota dari Ikatan Raka Raki Jawa Timur dan Paguyuban Kakang Mbakyu Kota Madiun, yakni organisasi perkumpulan Duta Wisata, jadi sudah ada dasar untuk menjelaskan dengan attitude yang pernah saya pelajari disana. Sementara dengan naluri jiwa sosial yang tinggi, saya alhamdulillah tidak kesulitan membantu jamaah yang berusia lanjut.

10168096_251220571730224_332684912_n

Nah, bermula dari situ tahun berikutnya yakni tahun 2014 saya diajak untuk berangkat umroh lagi bersama direktur dan rombongan jamaah ke Palestine. Masalahnya, beberapa hari sebelumnya saya ditelpon oleh direktur travel bahwa visa direktur kami tidak bisa keluar. Dikarenakan direktur kami laki-laki, masih muda, dan berdasarkan visa yang ada di paspor tercatat sering bolak balik pergi ke Arab, mungkin dikhawatirkan ada misi yang beliau bawa ke Palestine, sehingga visa beliau tidak turun. Alhasil, saya diberangkatkan tanpa direktur. Saya hanya ditemani oleh satu tour leader yang bernama mbak Lia Amalia yang juga pernah berangkat ke Palestine, tapi 12 tahun yang lalu. Memang beliau profesional dalam bidang tour leader, namun masalah ingatan materi, saya lebih segar karena baru satu tahun saya pulang dari Palestine.

1520715_251219035063711_735072566_n

Beberapa teman saya tanya, apa suka dukanya saat berangkat ke Palestine? Akan saya jawab disini.

Kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi disana. Apakah akan menyenangkan, apakah akan mengerikan, apakah akan mengharukan. Dua kali saya pergi kesana, dua kali pula kesan yang ada. Kepergian saya yang pertama, semuanya menyenangkan dan mengharukan. Saya melihat Masjid Al Aqsa secara langsung, Dome of The Rock secara langsung, saya bisa berkenalan dengan tour guide yakni Ehab Suleman dan banyak mendapatkan informasi dari beliau. Jamaah yang saya bawa juga tidak rewel. Cuaca bersahabat. Imigrasi alhamdulillah lancar. Secara keseluruhan alhamdulillah semua baik. Sedangkan kepergian saya yang kedua kalinya, saya membawa sekitar 60 jamaah. Ada jamaah yang sakit jantung. Ada mantan pejabat yang maunya diprioritaskan. Ada dokter yang rese setengah mati dan berusaha jadi tour leader sampe jamaah jadi bingung dia ini siapa. Dan tour guide pada perjalanan saat itu bukan tour guide yang tahun lalu kami pakai, dia suka marah-marah dan profit oriented. Dia juga nggak bawa rombongan jamaah saya ke beberapa tempat yang dulu kami kunjungi. Dan waktu perjalanan pulang, ketika kami mau keluar dari Palestine, ada penembakan di imigrasi keluar antara Jordan dan Israel. Konon, ada hakim Jordan yang ditembak oleh tentara Israel sehingga imigrasi tutup berjam-jam. Setelah kami antri berjam jam, mulai dari bangun tidur, tidur, sampe bangun lagi, antri nggak juga bergerak. Akhirnya karena takut ketinggalan pesawat ke Jeddah, kami cari imigrasi lain yang jauhnya 90km dari Jericho. Kami memutuskan demikian saat di Jericho, jamaah yang seharusnya saat makan siang sudah ada di Laut Mati, siang itu masih ada di Jericho. Ada jamaah yang ngomel-ngomel. Ada jamaah yang menyabarkan. Ada jamaah yang turut mendoakan. Kami beruapaya semaksimal mungkin untuk kebaikan seluruh jamaah. Akhirnya kami menempuh perjalanan ke imigrasi yang lain dan sampai di Laut Mati saat makan malam. Setelah makan malam kami tidak sempat lagi transit di hotel transit yang memiliki rumah makan mewah dan sudah dipesan khusus oleh direktur kami, karena kami harus mengunjungi Goa Ashabul Kahfi yang terletak di Amman sebelum kami menuju bandara untuk melanjutkan penerbangan. Sisanya adalah cerita saat jamaah berada di Madinah dan Makkah. Cerita ini akan menjadi keseharian saya di bulan-bulan berikutnya. Karena ini masih part 1, maka akan saya ceritakan di part-part berikutnya karena ini sudah hampir jam 23.00 waktu setempat dan jam 1 nanti saya harus berangkat ke airport untuk pemberangkatan umroh paket berikutnya ke Madinah dan Makkah. Terima kasih sudah menyimak. Sampai jumpa.

Wassalamualaikum wr wb.

Foto-foto keberangkatan jamaah paket plus Masjidil Aqsa bisa dilihat di Facebook Pages: Global Inspira Indonesia.

Tentang Bersyukur

Standard

image

Bismillah ir rahman ir rahim.

Setelah sekian lama saya nggak ngepost tulisan saya sendiri, akhirnya saya punya keberanian untuk menulis lagi. Belakangan mungkin bahasa saya udah nggak sesantai dan sebahagia dulu, saya kasih tau, saya lagi stress dan kurang travelling sama orang-orang kesayangan saya.

Tapi hal itu balik lagi ke topik yang akan saya bahas, yaitu bersyukur dan tidak mencampuri urusan orang lain. Seiring dengan perkembangan teknologi, sosial media merambah dan semakin melekat dalam kehidupan sosial kita yang pada dasarnya membuat kita makin anti sosial. Dengan adanya sosial media, yang jauh terasa dekat, yang dekat juga merasa lebih dekat dengan yang yauh. Hahaha.

Belakangan saya yang (dulunya) ada dimana-mana, jadi nggak ada dimana-mana karena pada taunya saya sibuk dan nggak asik lagi, nggak bisa diajak kemana-mana. Iya, memang itu yang terjadi. Sebenernya waktu sih banyak, ijinnya yang nggak turun. Kadang bos saya lebih suka saya diem aja di rumah daripada saya harus menikmati ciptaan Allah di luar sana. Hahaha.

Coba kalo saya anak nakal, pasti disuruh di rumah juga saya bisa aja ngelakuin hal yang maksiat. Maksiat toh nggak cuma bisa dilakukan kalo di luar rumah, di dalam rumah aja juga bisa. Bos saya tampaknya kurang bersyukur dan menginginkan saya jadi wanita sholeha sempurna. Hmm, aamiin. Siapa tau saya jadi satu-satunya di dunia ini sebagai makhluk yang sempurna.

Saya rasa dengan segala nikmat yang diberikan Allah SWT sejak kita lahir di dunia, sudah cukup dan tidak pantas rasanya untuk tidak bersyukur dan menginginkan lebih. Saya rasa apa yang ada sebaiknya diolah untuk menjadi sesuatu yang lebih dari diri kita, maksudnya meningkatkan kemampuan diri sendiri, bukan berarti harus iri pada apa yang tidak kita miliki, yakni kelebihan orang lain.

Di sosial media, banyak sekali orang yang punya waktu berlebih, ijin dari sana sini berlebih, uang berlebih, sehingga bisa digunakan untuk bersenang-senang yang kemudian di upload. Tanpa mereka sadari, makhluk seperti saya yang dulunya juga begitu, jadi merasa kecil hati.

Di sosial media, banyak sekali yang suka mencampuri urusan orang lain, maksudnya menunjukkan kepedulian, yang ada malah memicu bom waktu rasa tidak bersyukur seperti yang ada pada gambar di atas.

Pada dasarnya kita sudah diberi dengan cukup, pikiran kita saja yang menuntut kita untuk tidak bersyukur, sekeliling kita yang mempengaruhi pikiran kita, dan hati kita yang membuat kita merasa kecil.

Sebagai sesama makhluk sosial, marilah kita menggunakan sosial media dengan bijaksana, tidak untuk memata-matai urusan orang lain, tidak untuk mengurusi urusan orang lain, dan tidak untuk menyakiti orang lain.

Wassalamualaikum wr wb.

Repost – Baik

Standard

Baik bisa jadi buruk ketika semua dipaksa baik.

Baik baik saja tidak selalu berarti baik.

Baik jadi dipertanyakan ketika kita terus bertanya “Sebaik apa?”

Baiklah bukan berarti patuh, mungkin itu terucap dalam dendam.

Baikan bisa berarti akur dan membaik.

Terbaik sering dijadikan panutan. Apakah itu baik?

Membaik adalah pulih, pulih itu berbeda dengan memaafkan.

Berharap baik adalah wajar, apakah baik untuk terus berharap?

“Baik baik ya disana!” Adalah harapan tulus yang berujung misteri.

Kebaikan adalah mutlak.

Terlalu baik sering berujung bencana.

Sebaik baik nya merupakan motivasi yang basi.

Namun yang terpenting..

Baik mu

Baik ku

Baik yang mana?

===============

Paragraf di atas sudah saya repost berkali-kali dimana saja, saya kutip itu dari  iga massardi’s blog: http://igamassardi.wordpress.com/2010/07/24/b-a-i-k/

Saya baca berkali-kali pun nggak pernah bosen dan tetep kagum sama tulisannya. Dalem dan logis.

I love you beyond infinity, Aak

Standard

IMG_1666

There is a sister I love the most in the whole world. I call her aak, because when I was kid I can’t say “kakak” correctly.  She promised to buy me 2 million rupiahs house when she was in elementary school (but now I still wish for it to be true, lol). She is more beautiful than me (which when I was kid I never want to admit it and would be mad of it), and she always will. She is the bravest sister I know. She put her finger on a witch who hit me when I was in junior high school. She was mad to a guy who did wrong to me and my family. She is the strongest sister I know, she lose valuable things in her life, but she can move on with her life. She through bad things in her life, but still give me her best smile. I did her wrong not only once, but over and over until she worried about my self, but she still always worry about me. I take her for granted, but she still help me over and over.

DSCF5278

There are times like this, time when I plan to lose it all, to give it up, to not continue about anything, I want her to know that I love her, I thank God for her, I pray for her, and I will always be your silliest, absurd, and ridiculous younger sister.

Till we meet again, my lovely sister.

DSCF5292

Standard

BIJI BUAH KURMA

Suatu ketika, Rasulullah SAW dan para sahabat RA sedang ifthor. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji- biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing- masing. Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji- biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam- diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah. Kemudian Ali RA dengan tersipu-sipu mengatakan, “Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.”

Nabi pun tersenyum dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau, memakan kurma berikut biji-bijinya”. (HR. Bukhori)

View on Path