Yah itu berita bagus juga sekaligus doa buat saya, AMIN. Kehidupan saya yang sekarang memang sepintas tertebak begitu saja, bahagia bahagia saja, dengan orang tua Mr and Mrs Abdul Munap everything’s alright. Kakak kuliah di US, Melva kuliah di Ciputra, all about finance terlihat sangat oke.

Beruntunglah Melva Sabella dengan segala yang dimilikinya, teman teman segudang mm lebih dari gudang sih. Sahabat dimana mana, dan segala coretan tentang hidupnya, selain cintanya sama galih semua pasti tentang hal hal yang bahagia sejahtera kalaupun dia sedih pasti ada aja hal yang mengalihkan perhatiannya.

Saya sangat bersyukur dengan semua ini. Kesehatan? Hehe, asal tidak stress dan tidak capek Melva akan tetap hidup damai sejahtera kan. Apalagi?

Jadi dapatkan Anda katakan pada saya bagaimana hidup saya bisa seperti ini?

Tentu tidak. Karena yang Anda lihat adalah Melva in present.

Saya akan ceritakan pada Anda Melva in the past. Sebelumnya akan saya beritahu pada Anda bahwa ini agak memalukan, jadi be ready for that.

Namaku Melva Sabella putri bungsu dari Bapak Abdul Munap dan Ibu Rahmawati Eka Putranti. Panggil aja Melva atau Mepa. Aku lahir di Padang Sidimpuan Sumatera Utara, dan jangan bayangkan Padang Sidimpuan adalah kota penuh lampu yang nggak pernah mati kayak Las Vegas, atau kota yang di pagi hari kamu bisa lihat pelangi dan pegunungan bahkan kebun teh. No.

Aku lahir di daerah yang konon sekarang udah digusur, ya baca baik baik, di-gusur, bernama Kampung Teleng. Dalam bahasa kami, Kampung Teleng artinya kampung yang miring, memang dareah itu miring, jadi kira kira kalo kalian berdiri sih yang kanan lurus yang kiri ditekuk biar bisa tetep seimbang. Kalo nggak kalian bakalan menggelinding mengikuti jalan karena pengaruh gravitasi bumi.

Kelahiranku berlangsung oke oke saja, yang aku tau waktu aku lahir aku cantik banget, semuanya bangga gitu sama aku, bibir merah banget dan kulit yang cantik, putih banget juga. Tapi kegembiraan itu nggak berlangsung lama, soalnya Melva Sabella bayi yang dibanggakan orang itu menjelma menjadi tuyul hitam angus mbulak setelah 3 hari. Aku curiga aku telah ditukar. Yah mencoba realistis saja deh sekarang.

Dengan keadaan seperti itu, Melva kecil nggak punya foto. Orangtuaku beralasan jaman dulu belum punya kamera. Tapi saya tetap yakin mereka nggak mau motoin aku gara gara aku buruk rupa, buktinya kakakku yang nyebelin itu punya banyak foto di masa kecilnya. Bedebah banget kan?

Melva kecil disayang banget sama kakaknya walau dia jelek. Suatu hari, Melva lagi maen di depan tivi dan si kakak yang masih berumur [ berapa ya? Nggak ngerti pokoknya masih kecil ] menjaganya. Sesaat setelah itu, si kakak pergi sebentar dan tidak menyadari kalo si Melva kecil lagi pup. Kakak pun cuek aja nggak peduli. Terjadilah hal yang aneh, si Melva kecil yang nggak ngerti kalo itu adalah pupnya dia sendiri mencoleknya dan memasukkannya ke dalam mulut. Menyadari hal itu si kakakpun terkejut dan berteriak,

“Maaaaaaaaaaaaaa, mepa makaaaaan eeekkkkk!”

Bodo banget kan kakakku , bukannya diangkat kek malah teriak padahal aku lagi menikmati kan? Mungkin gara gara makan itu aku jadi pinter banget, buktinya sejak kelas 1-6 SD aku mesti juara 1. Kalo kalian nggak percaya, coba aja.

4 responses »

  1. Pingback: Cerita dari Mama « The Little Things She Said

  2. hahaha,tau tau nyasar ke blog nya mantan mbak yu madiun ini….
    tulisanmu nggawe aku ngakakk…hahahahaha…

  3. Pingback: Jatah Gagal | The Little Things She Said

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s