Sebenernya saya sudah lupa part ke berapa episode ini. Kalo nggak 4 ya 5. Whatever lah.

Ready? Cerita saya mulai.

Sejak kecil saya punya kebiasaan buruk, yakni kalau tidak keturutan pasti marah. Dengan gejala, muka ditekuk, jalan bungkuk, nggak mau ngomong, atau paling cute ya nangis. Itu yang membuat saya menjadi sangat amat egois. Karena kebiasaan itulah hampir sekeluarga besar saya tau bahwa apa yang saya inginkan harus keturutan.

Pada lebaran kelas 4 SD. Saya, kakak saya, dan sepupu saya diberi baju kembaran. Sebenarnya saya itu paling nggak suka baju yang kembar, karena saya tidak bisa keliatan lebih cantik dibandingkan yang lainnya. Karena menurut saya baju itu, sebagus apapun kalo orangnya jelek, pasti nggak ngefek. Nah, pada waktu kelas 4 pokoknya jaman jaman saya masih culun, nyebelin, nggak bisa menemukan kecantikan diri sendiri itu, saya merasa kalau saya ini jelek. Jadi harus pakai baju yang benar benar cocok sehingga enggak keliatan jelek karena kakak dan sepupu saya itu cantik.

Kemudian, ada saat dimana kami bertiga harus berfoto. Lalu salah seorang keluarga jauh berkata kepada kakak saya,”Aduh ayunee…” (aduh cantiknyaa.red), berpaling kepada sepupu saya,”wah ini yaa yang dari luar negeri, aduh lucunee”……jangan tanya apa yang dibilang sama saya. Boro boro bilang, sang saudara itu melihat dan menatap mata saya, saya juga menatap matanya. Kemudian dia ngeloyor. Ngambek dimulai, ronde pertama. Ding ding.

1, 2, 3.. Kamera.. cekrikk.. Saya pun berfoto tanpa senyum dan menjauh dari adik sepupu saya.

One word. Suram.

Dan kebiasaan ngambek saya itu tidak berhenti sampai disitu. Beranjak dewasa egoisme saya mulai bertambah. Tapi bukan berarti saya menuntut orang lain untuk mewujudkan apa yang saya inginkan. Saya berusaha menjalankan hidup ini dengan cara saya. Dan untungnya saya tidak bodoh, egoisme tersebut membantu saya dalam beberapa kasus.

Nah, Melva Sabella yang suka nggak jelas di twitter maupun facebook ini dikenal orang sebagai orang yang sekarang cukup manis dan tidak jelek lah kalo dibanding dulu. Tapi kalian harus tau….

Begini ceritanya..

Saya suka buka buka album foto keluarga saya disana saya menemukan kejanggalan disela foto foto kakak saya. Foto kakak saya lagi. Foto kakak saya. Foto anak orang lain. Foto..foto..foto..FOTO SAYA MANAAAAAAA????

Bisa ditebak, kakak saya yang cantik dan sering ikut karnaval. Dan saya yang tidak punya foto, tidak pernah ikut karnaval. Ya memang benar tebakan Anda, karena saya jelek. Saya bukan ngomong gitu karena subjektif saya, tapi saya sudah sempet protes sama mama saya.

“MA, kenapa kok aku nggak punya foto waktu kecil?”

“Soalnya kita belum punya kamera, nak”

“Bohong, aak aja banyak fotonya, kok aku nggak ada fotonya? Berarti dulu kan punya kamera,”

“Itu yang moto bukan mama dan papa, tapi uwak,”

Berkali kali alasannya itu itu saja. Setelah saya dewasa, saya bisa mengerti kalau dulu saya itu jelek. Apalagi setelah kemaren saya buka buka album foto lagi dan menanyakan hal yang sama.

“Ma, seriusan nih ma, masa sih aku nggak punya foto satu pun? Gara gara aku jelek kan ma?”

“Mama sama papa itu nggak tega moto kamu,”

“Hahahahahaha,” <— itu aku yang ketawa. Silakan dibaca sebagai, ketawa ngenes.

___________________________________

Kehidupan suram saya itu bisa saya mengerti dan saya maklumi sekarang. Banyak orang yang dulu mengenal saya dan ketemu lagi via facebook bilang, “Wah, Melva sekarang sudah besar.. tambah cantik aja.” Mendengar kata kata tersebut tentu saja kata pertama saya adalah ALHAMDULILLAH, memuji Allah SWT. Dilanjutkan dengan kata kata dalam batin, “setan alas, dulu aja ngelirik aku aja ogah, sekarang manis manis sama aku.” Diakhiri dengan kata ASTAGHFIRULLAH.

Yang lucu nih ya, saya yang memang kebiasaan punya tampang kucel dan nggak mbois. Bahkan ada waktu dimana saya ini nggak bisa dandan, sikap tomboy, dan cuek, sekarepe dewe dan lain lain itu, berbanding terbalik kalau saya lagi dandan. Karena kalo saya lagi dandan, saya keliatan kayak anak baik baik, yaaa walopun saya ini memang anak baik baik sih. Cuma kalo lagi dandan tu saya nggak keliatan kayak kayak kepribadian saya yang biasanya.

Tapi yaaaa, positif thinking aja. Seorang pakar kecantikan pernah berkata sama saya dan pernah saya baca bukunya, bahwa kecantikan yang terpancar ketika wanita memakai make-up adalah kecantikan yang sesungguhnya, dalam diri yang terpendam. Entah telah dieksplorasikan, ataupun masih dalam bentuk potensial.

Hahaha, kalimat tersebut bisa saya jadikan acuan untuk menghibur diri agar tidak sakit hati ketika ada orang komentar di facebook saya. “Fotonya menipu,” especially by Elan <– sahabat saya.

Kecantikan itu bersifat subjektif kok. Cantik buat saya, belum tentu cantik buat Anda, dan sebaliknya.

Demikian postingan tentang kecantikan dalam hidup saya.

Part 4 – Selesai

5 responses »

  1. Pingback: Cerita dari Mama « The Little Things She Said

  2. Hahaha,,,,bisa ditambahkan dalam cerita waktu lihat2 album foto, di sela2 fotoku ada foto anak tengil, dan dirimu bilang,”Bayi siapa sih ini kok jelek amat?”, aku, “jelek banget ya mep?”, mepa, “siapa sih ini ak?jangan2 ini aku ya?”, “hwahahahaa”, aku pun ngeloyor pergi dengan bahagia melihatmu menderita.

  3. owhh jadi ini melva “mbakyu kota madiun” jaman dahulu
    “Ma, seriusan nih ma, masa sih aku nggak punya foto satu pun? Gara gara aku jelek kan ma?”
    “Mama sama papa itu nggak tega moto kamu,”
    “Hahahahahaha,” <— itu aku yang ketawa. Silakan dibaca sebagai, ketawa ngenes."
    Ngakakk bgt Part ini.
    Ya org org tua pernah berkata pas Kita kecil. "Jangan suka ngejek temen perempuan yg jelek,nanti klo gedenya cantik kamu nyesel lho."
    Dannnn itu benar terjadi wahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s