Masa masa SD saya adalah masa sekolah yang paling panjang. Bayangkan 6 tahun saya bersekolah, lama sekali sampai akhirnya saya lulus. Saya adalah murid yang sungguh cerdas ketika masa itu. Saya tidak perlu harus les kesana kemari, entah mengapa saya bisa secerdas itu. Mungkin karena hal yang telah saya ceritakan di [ part 1 ].

SD MANISREJO 5.

SD saya bukan SD yang favorit dan terkenal, tidak punya kolam renang dan asrama. Tidak punya kantin yang keren. Tapi kami bahagia berada di sekolah itu. Banyak hal yang mengejutkan disana. Kami yang anak kampung ini diajari ibu guru yang pintar pintar dan sabar sabar. Diajak untuk mengamati dan melakukan berbagai macam percobaan. Sebagai anak kampung yang cantik jelita, saya selalu kagum dengan hal hal yang diajarkan dan membuat saya bisa.

Kecerdasan saya di SD bisa dibayangkan dengan kejadian kejadian berikut ini.

Ketika saya pindah di SD tersebut, saya mendapatkan teman yang sangat banyak karena ternyata mereka berasal dari TK yang sama dengan saya. Maklum letaknya berdekatan antara TK, SD, dan rumah kami semua. Pada saat itu, saya duduk di belakang sendiri bersama teman saya. Kemudian saya sedang berusaha menghilangkan kegugupan saya sebagai anak baru. Saya menggigit pensil saya dan memutar memutar mutarnya berulang kali hingga mulut saya penuh dengan serbuk kayu dari pensil. Kemudian, teman saya menengok ke arah saya dan tertawa keras sekali menyebabkan seisi kelas menengok ke arah saya. Rencana awal saya untuk menghilangkan kegugupan justru berujung kepada gugup yang berkepanjangan hingga saya menangis keras sekali sampai umbel saya ndelewer kemana mana. Cerdas kan?

Ketika saya kelas dua, saya punya guru baru yang sekaligus menjadi wali kelas saya. Suatu waktu, kami mengumpulkan PR yang ditugaskan. Ketika dibagikan kembali, buku saya tidak ada. Dan saya pun dimarahi ibu guru baru itu. Saya menangis karena malu dilihat teman teman saya. Saya sudah menjelaskan bahwa saya sudah mengumpulkan tugas tersebut, entah bagaimana tugas itu menjadi tidak ada. Tapi ibu guru tidak percaya. Kemudian, saya bercerita pada ibu saya dan bersikeras hendak pindah sekolah.

Ibu saya bertanya,”Mau pindah sekolah lagi? Kemana?”

“Ke Kalimantan! Pokoknya Kalimantan!”, jawabku. Padahal saya tidak pernah berniat ke Kalimantan, hanya saja saat itu saya terobsesi pada Kalimantan. Ibu saya diam saja. Besoknya saya tidak mau pergi ke sekolah, anak sekecil saya bisa tersinggung dan sakit hati pula, ciak! Ibu saya membawa saya ke sekolah dan bercerita kepada si ibu guru baru, dan ibu guru baru itu minta maaf dan tidak jadi marah kepada saya. Ibu Guru sangat menyesal, karena ternyata buku saya terselip di lemari buku kelas kami. Cerdas kan saya?

Kecerdasan kecerdasan saya sudah tampak sejak SD. Tidak percaya?

Waktu saya mengikuti lomba cerdas cermat di babak penentuan yang seharusnya saya dan tim saya memenangkannya, sampai di sebuah soal soal terakhir lampu kami mati. Ketika kami pencet dan hendak menjawab soal tersebut, bel tidak menyala. Kami berteriak, “okuler!”. Tapi tidak dimasukkan sebagai jawaban karena kami tidak memencet bel. Dan tim samping memencet bel serta menjawab,”okuler!”. Kami menyesal seumur hidup karenanya. Sungguh cerdas sekali saya.

Puncak kecerdasan saya terjadi pada kelas 6 SD.

Pertama, ketika saya dan beberapa teman saya hendak dikirim untuk mengikuti lomba tari Ngremo. 3 hari menjelang hari H, kaki saya terkena herpes sehingga tidak memungkinkan memakai kostum tari tersebut, akhirnya dibatalkanlah.

Kedua, ketika saya membagikan kartu spp kepada teman teman saya. Saya hendak menyebrang dari satu baris bangku ke bangku yang lain, dari pada saya harus memutari bangku tersebut, saya memilih untuk melompati bangku. Alhasil? Saya terpeleset dan kepala saya kejedot pinggiran meja dan berdarah darah hingga dijahit. Sangat cerdas.

Masa masa SD saya sungguh banyak cerita. Tentu saja bahagia. Kapan saya tidak bahagia?

Lihat saja cerita saya tidak ada yang menyedihkan, kan? Mulai dari tidak menang lomba, dimarahi guru, kepala bocor, salting di depan kelas. Semuanya cerita yang bahagia.

Ya. BAHAGIA. Maksudnya ya..memang bahagia.

3 responses »

  1. Pingback: Cerita dari Mama « The Little Things She Said

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s