Tentang Al Kahfi

Standard

Seringkali kita mempertanyakan dan langsung menghakimi apa yang kita lihat tanpa kita tau apa alasan orang melakukannya. Dan saat kita menyadari bahwa yang kita lakukan itu salah, semua sudah terlambat. Tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk berhijrah. Jauh sebelum hits kata “move on”, sudah terlebih dahulu ada kata “hijrah”. Sesungguhnya Allah lebih tau apa yang menjadi niat kita. Bukan untuk mengesankan orang lain, bukan untuk membuat orang lain cinta pada kita, bukan untuk pencitraan, tapi semata-mata untuk Allah taála.

Saya bukan mau cerita tentang sejarah Ashabul Kahfi. Toh juga mau kita perdebatkan berapa sebenernya orang yang disebut Ashabul Kahfi itu juga nggak boleh kan. Hari ini sebenernya mau cerita tentang saya sendiri yang selalu ngingetin orang untuk baca Al Kahfi dan diingetin orang untuk baca Al Kahfi, tapi baru ini saya baca juga sekalian sama artinya. Mengejutkan sih. Tapi ya walo sebenernya kaget, saya nggak perlu bilang wow sambil nyanyi fantastic baby-nya BIG BANG.

Antara agak dan sangat merefleksikan diri saya sendiri. Ketika diceritakan dalam surat Al Kahfi bahwa Nabi Musa mengikuti Nabi Khidir dan Nabi Khidir memperbolehkannya dengan syarat harus bersabar dan tidak boleh mempertanyakan apa yang Nabi Khidir tunjukkan tanpa Nabi Khidir sendiri yang menjelaskan kepada Nabi Musa. Tapi saat ditunjukkan oleh Nabi Khidir akan suatu hal, Nabi Musa selalu saja mempertanyakan bahkan semacam “ngejudge” Nabi Khidir bahwa yang dilakukan beliau salah sementara Nabi Musa tidak tau yang sebenarnya.

Sebenarnya sangat manusiawi yang kita lakukan sampai saat ini, mempertanyakan, menghakimi, merasa lebih tau, merasa baik, merasa lebih baik, dan sebagainya, padahal sebenarnya kita tidak tau alasan Allah menempatkan kita pada keadaan kita saat ini. Padahal Allah Maha Baik. Padahal Allah Maha Esa. Padahal Allah Maha Kuasa. Allah mengatur semuanya sendiri sementara kita tidak memikirkan Allah. Bahkan negarawan saja berkata, jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tanyakan pada dirimu apa yang kamu berikan untuk negaramu. Tapi kita bahkan tidak pernah berpikir, jangan tanyakan apa yang telah Allah berikan kepadamu, tanyakan kepada dirimu sendiri, apa yang kamu sudah berikan untuk Allah?

Masih saja kita berbuat maksiat. Masih saja kita mendzalimi orang lain dan diri sendiri. Masih saja kita bersikap seolah-olah kiamat belum dekat. Masih saja kita menantikan orang yang kita cintai padahal dia pun hamba ciptaan Allah. Masih saja kita tidak menantikan perjumpaan kita dengan Allah. Dan masih saja kita tidak berbuat kebaikan dan amal saleh.

Bahkan di akhir surat Al Kahfi pun disebutkan,

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.

Saya pun bukan sebaik-baiknya orang atau bahkan mungkin saya tidak pantas menyuruh orang untuk berhijrah padahal toh diri saya sendiri masih hina penuh dosa. Menurut pengalaman saya, menulis akan mengingatkan kita pada diri sendiri, saat kita mengingat kembali dan membaca apa yang telah kita tulis di masa lalu, bahwa kita selalu mengingatkan diri kita untuk bangkit dan selalu memperbaiki diri minimal lebih baik dari hari kemarin, kita akan terkejut sudah sampai dimana kaki ini melangkah. Tulislah hal yang baik, karena sekecil apapun perbuatan kita akan kita pertanggung jawabkan di akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s