Sayap Sayap Patah

Standard

Lalu sayap yang beterbangan itu kembali bertengger pada sebuah dahan. Dia tau dia bisa beterbangan tapi dia memilih untuk tetap tinggal. Harapan-harapan yang dia lihat saat terbang berjatuhan bersama dengan rintik hujan. Menyadari bahwa impian itu mungkin hanya ada di kehidupan yang akan datang. Si kaya akan bahagia dengaan si kaya. Si miskin tidak mungkin menaiki tangga. Begitu kata burung burung lainnya.

Sayap itu memutuskan berhenti saja. Bukan karena tidak cinta. Tapi karena usaha itu membuahkan luka. Dia menenggelamkan diri pada duka. Menebar senyum pada burung burung lainnya. Kabar burung mulai bercerita, katanya si sayap tidak mau menyempurnakan agama.

Lah, siapa yang kemarin mematikan harapannya?

Sayap itu hidup di dunia, tapi mati hatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s