Let Go

Standard

Saya nggak ngerti banget sih yang terjadi sama Aurel, but I think I kinda feel her. Di usianya segitu, wajar sih kalo dia meluap luapkan emosinya. Nggak pada inget apa waktu kita seusia Aurel kita bisa jadi lebih emosional dari dia. Bedanya, dia artis dan kita bukan.

Jaman saya seumuran Aurel, saya juga banyak nulis tentang apa aja yang saya lihat di kelas, di sekitar saya, dan saya hobi banget nulis di catatan facebook saya. Mana jaman itu saya sadar kalo saya lebih buta aksara kali ya, nggak sadar penulisan tanda baca yang tepat. Kadang kalimat saya dimulai dengan tanda titik. Bayangkan kalo dianalogikan dengan hidup manusia, hidupnya diawali dengan mati dulu. Itulah tulisan saya waktu saya seumuran Aurel. Masalah konten, insha Allah saya nggak missed any single thing, soalnya ingatan saya saat itu dahsyat. Beda sama sekarang. Sekarang tampaknya saya mulai butuh CT Scan untuk tau apa di otak saya terjadi penggumpalan karena jadi bloon dan sering ngefreeze di waktu tertentu.

Kayak kemarin, tiba tiba saya di perempatan yang sunyi sepi berhenti di sebelah kanan dan nggak sadar segambrengan kendaraan di depan saya dari arah berlawanan sudah siap melahap saya. Disitu saya merasa bagaikan disergap Dementor.

Kejadian kayak gini agak mengerikan sih buat saya yang sering kemana mana sendiri. Ini semacam peningkatan masalah otak dari tahun kemarin. Tahun kemarin saya udah pernah ngalamin brain freezing berkali kali. Kayak anggota badan saya nggak bekerja sesuai perintah yang dikirimkan impuls saraf otak. Tiba tiba aja. Misalnya lagi sholat, gerakan yang sudah hafal di luar kepala, tapi waktunya ngelakuin gerakan tertentu, badan saya nggak mau gerak.

Kata temen saya yang calon dokter, mungkin saya kecapekan. Emang bener sih, nggak lama kemudian saya sehat lagi. Tapi kejadian di perempatan tadi malem bikin saya kepikiran.

Pada akhirnya kita semua akan mati, dengan cara yang nggak akan pernah kita ketahui sebelumnya. Kalo tadi malem saya ditabrak mobil pajero putih, gimana? Kita juga nggak tau apakah kita sampai tua atau enggak. Saya lagi memikirkan kemungkinan kemungkinan dan hal hal yang bisa saya lakukan tapi saya sia siakan, saya diem aja. Dan mungkin 50 tahun dari sekarang saya menyesal nggak ngelakuin itu. Saya nggak tau dimana menyenangkannya wisuda, saya nggak tau gimana rasanya dateng ke wisudanya sahabat sahabat saya, saya nggak tau bahagianya bisa bikin orang tua bangga, saya nggak tau rasanya berusaha cari pekerjaan, saya nggak tau rasanya bahagia menikah dengan pasangaan yang dicintai, saya nggak tau bahagianya explore tempat wisata yang pengen banget saya kunjungi, saya nggak tau rasanya membangun sesuatu bersama yang sehati dan dimulai dari hati. Saya nggak tau sampai akhirnya saya menyesal dan kemudian saya mati. Saya hidup dengan apa adanya, apa yang ada di depan saya, sambil iri ngeliat yang lain bisa milih jalan hidupnya dan bahagia. Lalu pada akhirnya saya hanya mempertanyakan,”Untuk apa ini semua?”

Dan nggak ada lagi disitu yang akan peduli. Semua sudah sibuk dengan dunianya masing masing. I’m so sad, you know. I don’t even know which part of my life I have to let go and when do I have to let them go until I lose myself.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s