Tour Leader Story (Part 2)

Standard

Maaf banget baru ngelanjutin ini sekarang. Inipun disempetin karena ada waktu. Saya inget temen saya Galih Edwin Hidayat nanyain saya dan ngedukung saya untuk nerusin postingan tentang tour leader di blog saya. Sedih banget kalo inget ini, bulan Maret lalu seharusnya saya jumpain papa mamanya Galih waktu lagi umroh, tapi karena saya bingung lokasi hotelnya, akhirnya saya nggak sempet kesana. Dan belakangan ini papanya Galih meninggal, bahkan saya belum sempet jumpain beliau. Innalillahi wa innailaihi rajiun, semoga beliau khusnul khotimah. Aamiin.

Ada orang yang pernah bilang ke saya,”Kabeh ki sawang sinawang,” (dalam bahasa jawa yang artinya semua itu tergantung bagaimana kita ngeliatnya), dan saya inget banget sorot matanya, raut wajahnya, penekanan kalimatnya saat dia ngomong itu. Kesannya santai, tapi ada banyak hal yang akan selalu jadi misteri kecuali kita sendiri yang berjalan di atasnya.

Ini tentang pekerjaan yang saat ini kita geluti. Berapa banyak dari kita yang akhirnya jadi pegawai bank padahal lulusan universitas ternama dengan jurusan yang nggak ada hubungannya? Berapa banyak dari kita yang masih duduk di belakang meja sambil mengerjakan pekerjaan kita dan berfikir apakah sudah ada di jalur yang benar? Berapa banyak dari kita yang menerima gaji sambil membandingkan pekerjaan kita dengan teman yang lainnya? Berapa banyak dari kita yang mengeluhkan ada di tempat yang tidak sesuai dengan passionnya?

Kabeh ki sawang sinawang.

Hampir setiap waktu saya kalimat-kalimat bernada iri dengan pekerjaan saya ini masuk ke telinga saya. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak mau bekerja di bidang seperti saya, bolak-balik ke tanah suci, bisa berdoa sepuas hati, dekat sekali dengan Illahi, pekerjaan yang mulia, tidak perlu memikirkan biaya akomodasi. Tentu semua orang melihat dari sudut pandang abu-abu yang tidak pernah mereka bayangkan apa yang kami alami sebagai tour leader, khususnya di perusahaan kami Global Inspira Indonesia (GII).

Selama ini, direktur GII terlibat langsung sebagai tour leader. Selain memantau jamaah, melayani jamaah, berhubungan dengan perwakilan, memantau perkembangan visa, memantau keluar masuknya jamaah, berhubungan dengan agen, menerima kritik dan saran, membangun jaringan, apapun dilakukan untuk perkembangan perusahaan.

wpid-wp-1433949190953.jpeg

Bagian melayani jamaah. Melayani jamaah tidak hanya tersenyum dan bertanya pada jamaah,”Sehat pak? Sehat bu? Sudah makan?”. Tapi memastikan jamaah lengkap, mencari jamaah ketika hilang, melengkapi kekurangan yang ada perusahaan sesuai kritik dan saran yang membangun, membantu jamaah yang sakit, membantu jamaah yang kesulitan dalam hal apapun termasuk kekurangan handuk, kran air mati, kran air bocor, AC tidak menyala, AC terlalu dingin, mencari nasi mandi (makanan khas Arab), menunjukkan letak pasar, menunjukkan tempat-tempat belanja, mengantarkan jamaah ke ATM, mengatur kamar, memastikan mutthawif bekerja dengan baik, menghitung jumlah jamaah beserta koper, menyimpan label bagasi, berjalan minimal 2-4 km dalam sehari untuk memantau beberapa hotel sekaligus, dan lain-lain.

Bagian memantau perkembangan visa. Saya yang bulan lalu tidur satu kamar dengan Tante Tiara selaku direktur, ikut memantau kenaikan harga visa, keluarnya visa, dan ikut harap-harap cemas. Dalam hal ini saya belajar, ijin masuk ke negara yang setiap bulan saya kunjungi ini tidak semudah dan seprofesional negara seperti Amerika Serikat. Mungkin ini disebabkan karena banyaknya kuota yang masuk ke negara ini, berbeda dengan Amerika Serikat yang tidak terlalu banyak orang bisa masuk kesana, ditambah persayaratan yang begitu ketat. Tidak bisa juga kita mengurus visa umroh untuk keberangkatan tahun depan. Dan Saudi Arabia juga tidak mengeluarkan visa secara berurutan, mereka mengeluarkan visa secara random. Harga pun semakin naik menjelang bulan Rajab, Syaban, dan Ramadhan. Bagaikan bisnis dengan hukum permintaan yang semakin tinggi, maka semakin naik pula harganya. Travel-travel menjerit. Berusaha memilih tetap berkomitmen untuk memberangkatkan jamaah dengan resiko rugi atau tetap mengambil untuk dengan mengorbankan komitmen pada jamaah. Provider-provider harap-harap cemas. Berharap kebagian visa dan persetujuan visa (mova) untuk mereka segera keluar. Sebagian provider paket visa beserta hotel menahan harga visa hingga makin tinggi sehingga mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari travel yang memilih untuk tetap berkomitmen tapi belum mendapatkan visa. Pihak yang mengeluarkan visa dengan santai mengeluarkan visa 5 biji setiap hari dibagi untuk seluruh travel di Indonesia. Sementara saya meringis tidak paham.

7754b-original

Saya sampai di Indonesia pada tanggal 23 Mei. Sementara jamaah yang mengalami penundaan di Indonesia sudah mencapai puluhan ribu. Di travel kami sendiri masih ada beberapa, dengan alasan yang sama yakni visa.

Bagian berhubungan dengan agen. Sampai di Indonesia, saya, ibu saya, dan suami Tante Tiara, Pak Edwin yakni pemilik yang juga direktur Global Inspira Indonesia, bersama-sama menghadiri undangan presentasi ke beberapa daerah. Melayani pertanyaan jamaah, menerima kritik saran yang masuk, dan mengadakan pemantapan untuk keberangkatan jamaah selanjutnya. Agen tidak selamanya satu visi. Ada agen yang baik, ada agen yang tidak baik. Sama seperti pemeluk agama. Ada orang Islam yang baik, ada orang Islam yang tidak baik, ada orang non Islam yang baik, ada orang non Islam yang tidak baik. Get over it. Sebisa mungkin kita harus bisa menutup kekurangan agen dengan menjadi tetap satu visi yaitu membantu jamaah untuk bisa berangkat ke tanah suci. Kami mengupayakan yang terbaik semampu kami. Terjadi penundaan, keterlambatan karena visa, rumah didatangi jamaah meminta pertanggung jawaban, dimaki-maki, ditunjuk-tunjuk, tapi kami tetap pada komitmen kami untuk mengupayakan yang terbaik bagi seluruh jamaah. Tidak ada secuil niat dari kami mengambil keuntungan dari keterlambatan ini. Merugi? Jelas.

Hari ini saja saya pergi ke Kediri untuk meminta ijin pada Ustad di Pondok Gontor Putra 3. Salah satu jamaah kami yang seharusnya berangkat hari ini beralasan tidak bisa menunda umroh ini karena ada yudisium. Kami mengupayakan kepada Ustadnya untuk memberi ijin pada jamaah kami. Alhamdulillah, tidak ada hasil yang mengkhianati proses. Jauh-jauh kami pergi demi selembar kertas ijin, diberikan dengan mudah oleh Ustad tersebut.

Karena yang orang lihat hanya yang di permukaan, mereka tidak punya kemampuan untuk menyelami dasar pekerjaan kita, jadi mereka selalu bilang,”Enak ya jadi kamu, aku juga mau,”

Boleh. Silakan saja. Saya yang lebih sering tidur bersama dengan jamaah saya sering keluar di pagi-pagi buta dan kembali ke kamar di tengah malam buta. Jamaah di kamar saya sering bertanya,”Kapan perginya mbak? Naik apa? Pulang kapan? Acara apa?”

Saya suka iseng nongkrong di lobby, berkeliaran di tempat-tempat jamaah biasa bertebaran, di masjid, di toko-toko perbelanjaan, cuma pengen liat raut wajah mereka. Tapi itu kalo lagi iseng. Selebihnya saya jalan pantau dari hotel satu ke hotel yang lain. Setiap ada kegiatan yang diagendakan oleh travel, setidaknya saya harus ada disana walaupun sebentar, untuk menunjukkan bahwa jamaah kami tidak pernah kami tinggalkan begitu saja. Kami selalu ada untuk jamaah.

wpid-wp-1433949216010.jpeg

Bulan Maret lalu saya membawa 95 jamaah. Singkat cerita saat tawaf dan sa’i, tiba-tiba ada jamaah yang masuk ke grup saya (sebelumnya saya bagi jamaah menjadi 4 kelompok). Pada saat itu kondisi saya sudah mau berangkat sa’i, dan ibu ini bernama ibu Warni berkata kalau beliau mau pergi pipis. Saya kaget. Saya bilang,”Ibu jangan pergi sendiri, nanti ibu hilang,” sambil setengah berteriak. Ibu yang sudah agak berlari menjauh ini kembali dengan mata berkaca-kaca,”Saya ini punya diabetes, Mbak. Saya nggak bisa tahan pipis.” Saya langsung merasa bersalah dan menyesali perbuatan saya.

Setelah seluruh rukun umroh selesai dilakukan, kami kembali ke hotel termasuk Ibu Warni. Saya pastikan seluruh jamaah sudah mendapat kamar yang nyaman. Saya turun ke lobby dan mendapati ada bapak-bapak duduk di depan hotel. Saya tanya,”Bapak kok nggak masuk ke kamar?”

“Saya masih tunggu istri saya tadi mencar mbak,”

“Istri bapak asmanipun sinten?”

“Bu Warni, Mbak”

“Lho, bu Warni sudah ada di kamarnya, Pak. Ada di kamar 811”

“Mosok, Mbak? Coba saya mau lihat dulu, Mbak,”

Kemudian saya antar Bapak ini ke kamar istrinya. Begitu mendapati istrinya ada di kamar, Bapak ini langsung bahagia kayak anak kecil dapet arum manis,”Iya betul, Mbak. Makasih ya!!”

Sesederhana itu sebagai tour leader mendapatkan kebahagiaan. Bisa menyamankan dan membahagiakan jamaah, itu kepuasan yang tak terhingga. Saya masih selalu ingat memori ini karena sehari setelah umroh, saya memilih tempat sholat Isya bersama jamaah dari Madiun bernama Tante Tika, di depan Kakbah, saya keinget Bu Warni. Saya berfikir, semoga orang tua saya selalu sehat dan saat menjalani umroh tidak sampai kesulitan karena penyakit-penyakit. Dan setiap perjalanan saya menjadi tour leader, melayani jamaah, meninggalkan kedua orang tua saya di rumah dengan pikiran-pikiran mereka dan kekhawatiran mereka apakah saya bekerja dengan baik, apakah saya menjadi anak yang sholeha, apakah saya mampu menjaga kepercayaan mereka, apakah saya mampu memenuhi semua yang mereka angan-angankan, saya selalu berdoa supaya ketika saya jauh dari mereka, akan selalu ada tangan-tangan Tuhan yang menggantikan saya menjaga kedua orang tua saya dimanapun mereka berada, sama seperti saya melayani dan menjaga jamaah saya.

15cea-original

Dan saya selaku admin dari salah satu media sosial Global Inspira Indonesia, selalu mendoakan keselamatan petugas, semoga seluruh kegiatan yang bernilai ibadah, diterima oleh Allah SWT, segalah jerih payah, keringat, keluhan, kesabaran, digantikan Allah dengan berkah dan pahala yang tidak ternilai harganya. Insha Allah, aamiin.

Di atas segalanya, alhamdulillah, terima kasih yang tak terhingga atas segala kesempatan yang diberikan kepada saya, dan pertemuan saya dengan orang-orang yang bekerja di lahan ini, sama-sama satu perjuangan melayani tamu Allah, untuk Bp. Muhammad Edwin, Ibu Mahditiara, Ibu Rahmawati Eka Putranti, Bp. Abdul Munap, Bp. Sofyan Ilyas, Bp. Kholil Ismail, Bp. Nasir, Bp. Fauzi, Bp. Nawawi, Bp. Syakrie, Bp. Munir, Bp. Barmawi Mukri, Ibu Maemunah Barmawi, Ibu Koeswidayati Ardho, dan seluruh tim yang banyak membantu dan tidak bisa saya sebut satu-satu, tapi saya sangat sayang dengan seluruh tim yang bertugas. Sehat-sehat selalu ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s