Tentang Bersyukur

Standard

image

Bismillah ir rahman ir rahim.

Setelah sekian lama saya nggak ngepost tulisan saya sendiri, akhirnya saya punya keberanian untuk menulis lagi. Belakangan mungkin bahasa saya udah nggak sesantai dan sebahagia dulu, saya kasih tau, saya lagi stress dan kurang travelling sama orang-orang kesayangan saya.

Tapi hal itu balik lagi ke topik yang akan saya bahas, yaitu bersyukur dan tidak mencampuri urusan orang lain. Seiring dengan perkembangan teknologi, sosial media merambah dan semakin melekat dalam kehidupan sosial kita yang pada dasarnya membuat kita makin anti sosial. Dengan adanya sosial media, yang jauh terasa dekat, yang dekat juga merasa lebih dekat dengan yang yauh. Hahaha.

Belakangan saya yang (dulunya) ada dimana-mana, jadi nggak ada dimana-mana karena pada taunya saya sibuk dan nggak asik lagi, nggak bisa diajak kemana-mana. Iya, memang itu yang terjadi. Sebenernya waktu sih banyak, ijinnya yang nggak turun. Kadang bos saya lebih suka saya diem aja di rumah daripada saya harus menikmati ciptaan Allah di luar sana. Hahaha.

Coba kalo saya anak nakal, pasti disuruh di rumah juga saya bisa aja ngelakuin hal yang maksiat. Maksiat toh nggak cuma bisa dilakukan kalo di luar rumah, di dalam rumah aja juga bisa. Bos saya tampaknya kurang bersyukur dan menginginkan saya jadi wanita sholeha sempurna. Hmm, aamiin. Siapa tau saya jadi satu-satunya di dunia ini sebagai makhluk yang sempurna.

Saya rasa dengan segala nikmat yang diberikan Allah SWT sejak kita lahir di dunia, sudah cukup dan tidak pantas rasanya untuk tidak bersyukur dan menginginkan lebih. Saya rasa apa yang ada sebaiknya diolah untuk menjadi sesuatu yang lebih dari diri kita, maksudnya meningkatkan kemampuan diri sendiri, bukan berarti harus iri pada apa yang tidak kita miliki, yakni kelebihan orang lain.

Di sosial media, banyak sekali orang yang punya waktu berlebih, ijin dari sana sini berlebih, uang berlebih, sehingga bisa digunakan untuk bersenang-senang yang kemudian di upload. Tanpa mereka sadari, makhluk seperti saya yang dulunya juga begitu, jadi merasa kecil hati.

Di sosial media, banyak sekali yang suka mencampuri urusan orang lain, maksudnya menunjukkan kepedulian, yang ada malah memicu bom waktu rasa tidak bersyukur seperti yang ada pada gambar di atas.

Pada dasarnya kita sudah diberi dengan cukup, pikiran kita saja yang menuntut kita untuk tidak bersyukur, sekeliling kita yang mempengaruhi pikiran kita, dan hati kita yang membuat kita merasa kecil.

Sebagai sesama makhluk sosial, marilah kita menggunakan sosial media dengan bijaksana, tidak untuk memata-matai urusan orang lain, tidak untuk mengurusi urusan orang lain, dan tidak untuk menyakiti orang lain.

Wassalamualaikum wr wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s