Bahagia Itu Keputusan

Standard

“Yang penting agamanya bagus, Mep. Karena kalo agamanya bagus dia akan mampus memposisikan dirinya dimanapun dia berada, di setiap situasi, dan akan mampu membimbing kita sebagai imam keluarga kita. Tiang kehidupan. Sumber pengharapan. Yang kedua, rejeki itu sudah ada yang mengatur, bisa datang dari mana saja, dari berbagai sumber, sesuai dengan dengan usaha keras kita. Yang ketiga, kalau dia bisa setia, kenapa kita tidak.

Dijalani dulu.

Bahagia itu keputusan kok, Mep. Kalo liat ke atas, di atas masih ada yang selalu lebih dari kita. Bahagia itu berbeda-beda kok. Ada yang karena pangkat. Ada yang karena kesehatan. Ada yang karena kelebihan harta dan kekayaan, dan lain-lain. Bahagianya orang itu masing-masing. Beda-beda. Ada yang standarnya segini, ada yang segitu. Ada yang segini udah bahagia, yang situ belom. Jadi bahagia itu harus diputuskan mau bahagia dengan cara yang sederhana atau yang rumit.

Untuk tante, ini konsekuensi dari pilihan yang tante bikin. Harus bertanggung jawab. Tante memutuskan dengan rejeki yang ngos-ngosan sama om ini alhamdulillah bisa cukup untuk menghidupi keluarga tante, dengan dua anak tante yang istimewa ini bisa sekolah, dan kitapun masih bisa bercanda, tante bisa berbahagia. Walaupun di luar sana orang lain akan bilang,”Wah kasian ya, diparingi anak 2 kok ya autis semua,” tapi bagi tante ini adalah berkah. Bahagianya luar biasa ketika tante mensyukuri dua anak tante yang istimewa ini, tante bisa bercanda dengan mereka, karena inilah keluarga tante.

Kalo mau nggak bersyukur ya bisa saja tante mengeluh seperti apa yang orang kasihani terhadap kita, tapi kenapa? Nggak ada yang nggak perlu disyukuri dari keluarga tante. Tante menjadi lebih bersyukur lagi ketika tante bisa bahagia dalam kesederhanaan dan bisa kami nikmati. Baik buruknya yang terjadi di keluarga tante, tante dan keluarga tante sendiri yang mengalami, lalu kenapa membuat keadaan menjadi lebih tidak nyaman dengan nggak bahagia? Ketidakbahagiaan ketika misalnya tante dan om nggak menjaga keharmonisan, akan berdampak pada tumbuh kembang anak-anak tante. Kalo mereka sakit atu berkembang dengan tidak baik, kan tante juga yang merasakan, kan?

Dengan rasa syukur dan kebahagiaan tante ini, tante bisa melihat masih banyak orang di luar sana yang masih saja merasa kurang dengan apa yang sudah mereka dapatkan. Punya anak yang sempurna, harta yang lebih dari cukup, tapi hidupnya tidak bahagia. Kalo tante sih, tante memutuskan dengan apa yang tante punya, tante bahagia.”

Quality time siang itu saya gunakan dengan ngobrol sama tante saya yang saya dan kakak saya sepakat kalo tante saya yang satu ini adalah tante yang paling bijaksana dan paling sabar dalam silsilah Mahabarata. Saya pun manggut-manggut dengan baik mendengarkan apa kata tante. Tante juga nunjukkin buku pelajaran sepupu saya yang pertama, Qidran Roisal Qistan. Adek sepupu saya yang nomer satu ini autis, tapi tulisannya rapi dan bagus. Dia paling betah duduk di depan komputer atau laptop berjam-jam tiap hari. Suatu hari sepulang sekolah dia bilang sama tante saya,

“Oik juara satu,”

“Wah, nggaya tenan. Oik juara satu,” mamanya memuji Oik yang biasanya jarang mau cerita tentang sekolahnya.

Belakangan Oik lagi seneng-senengnya sekolah. Sementara cerita lucu lagi dateng dari Aldes Satya Amin, adeknya Oik. Adek sepupu saya ini lebih diem dari Oik, tapi dalam diam dia berkreasi. Tante saya masuk ke kamar bawa sarung bantal yang bolong tengahnya,

“Nah, kalo Aldes ini ngomongnya irit tapi diem-diem berkreasi, Mep. Itu juga sprei tiba-tiba bolong tapi sudah tante tambal,”

Tante saya juga cerita yang terjadi waktu Aldes sekolah.

“Waktu pertama kali dikasih buku, gambarnya transformer dia nggak suka banget. Dia nggak mau nulis kalo bukunya gambar transformer. Akhirnya sama gurunya disampul, digambarin gambar kayak gini,” tante saya nunjukkin buku tulis yang udah disampul putih, dikasih gambar boneka yang bentuknya nggak karuan kayak mukanya Kojack kalo lagi kelaperan, dan ada nama Aldes Satya Amin di bagian atas buku. Kayak gitu saking adek saya anti sama transformer.

Itu baru sebagian cerita tentang tante dan kebahagiaannya. Ini udah kepanjangan, saya tulis bagian selanjutnya di postingan berikutnya yah.

To be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s