Cerpen

Standard

Jaman saya SMA, banyak yang nyuruh saya jadi penulis. Tapi saya nggak pinter ngarang, saya bisanya nulis kejadian yang ada di sekitar saya. Kejadian yang saya alami, tentang kejadian di kelas waktu SMA, kekonyolan anak-anak di sekitar saya, tempat-tempat yang bagus yang saya datengin, dan lain-lain. Kalo lagi nggak ada hal yang bisa ditulis, ya saya nggak tau mau nulis apaan.

Beberapa hari yang lalu saya dapet kiriman buku dari Lely yang sebenernya dia ngejual buku itu buat saya dan saya nggak enak mau nolaknya. Hahaha. Akhirnya saya beli dan buku itu baru saya buka siang ini karena saya baru sampe rumah hari ini. Saya kabarin Lely kalo saya udah terima buku itu dan saya foto bukunya. Begitu saya buka bukunya, saya nemuin quote yang menyentuh,

“Karena pada akhirnya, mimpi terbesarku adalah menjadi bagian dari mimpimu,”

Ya saya suka aja quote itu. Walaupun nggak ada hubungannya sama paragraf selanjutnya.

Setelah saya baca cerpen pertama, saya sadar kalo saya lagi nggak suka sama cerpen. Saya sama sekali nggak tersentuh maupun terinspirasi dari cerpen. Bahkan saya rasa kehidupan kita lebih dramatis dibandingkan yang ada di cerpen. Ditambah lagi, saya kurang suka dengan ide cerpen. Bagi saya kurang adil. Kenapa dia bisa jadi cerpen yang semuanya serba singkat prosesnya dan langsung bisa lihat kesimpulan serta akhirnya. Sementara bagi yang prosesnya lama dan berat dan nggak kunjung selesai, itu nggak adil. Saya jadi nggak suka sama cerpen.

Mungkin sejak lulus SMA, cara pandang kita akan berbeda mengenai segala sesuatunya. Sebenarnya daripada saya nulis “kita”, lebih tepat saya nulisnya sebagai “saya”. Karena secara garis besar ini terjadi sama hidup saya. Secara sinisme memandang hidup. Rasanya dulu semuanya serba sederhana dan bahagia. Entah apa yang dunia perbuat sama hidup kita yang bisa menjadikannya begitu berbeda. Ketidakmampuan saya untuk menemukan alasan-alasan yang menuntut saya melakukan sesuatu diluar kehendak hati, di luar keinginan, di luar cita-cita, di luar passion, dan mengkihlaskan yang harus saya lakukan membuat saya merasa tersakiti dalam setiap prosesnya. Yang jelas, yang saya alami bukan berbentuk cerpen. Lebih mengarah pada cerita bersambung. Kadang jadi cerita misteri.

Rasanya semuanya sama. Yang membedakan hanyalah cara kita memandang dan menyikapi semuanya. Seperti yang pernah saya baca pada sebuah buku. Salju tetaplah salju. Namun ketika kita patah hati, salju bahkan terasa menyakitkan bagi kita. Akan berbeda saat kita bahagia. Salju akan memberikan kesan bahagia bahkan saat tidak ada salju disana.

Bagaimanapun alurnya, akan selalu ada kemungkinan sesuatu berbuah luka. Pertanyaannya, akankah itu membuka luka lama atau memunculkan luka baru?

Tapi bagaimanapun prosesnya pada akhirnya waktu akan menutup lukanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s