Pendidikan

Standard

Tes tes. Jadi saya lagi nulis ini di kantornya mama. Lagi dengerin karyawan-karyawannya mama ngobrol asik. Ngomongin soal anaknya pengen potong rambut kayak Alejandro. Saya sendiri nggak paham Alejandro ini siapa. Setau saya Alejandro ini judul lagunya Lady Gaga yang saya nggak ngerti juga model rambutnya kayak mana. Saya taunya model rambutnya Ainudin.

Ainudin itu siapa? Itu, mantan presiden kita. Ainudin Jusuf Habibie. Sejak kapan namanya ganti jadi Ainudin…

Hari ini saya mau ngobrolin tentang pendidikan. Sebenernya bukan ngobrol sih, orang saya nulis-nulis sendiri, ngomong-ngomong sendiri, jadi sebenernya saya ini ngobrol satu arah. Ya lebih tepatnya saya ngobrol yang bertepuk sebelah tangan. By the way ini kenapa sambil nulis ada lalat yang menclok sana sini sih. Dih, lalatnya ganjen.

Oke, mari kita fokus ke topik pembicaraan searah kita.

Beberapa hari yang lalu saya ngobrolin tentang pendidikan anak sama kakak sepupu saya. Kakak saya cerita, doi bilang besok kalo punya anak, doi nggak akan nyekolahin anaknya ke sekolah umum tapi bakal dimasukkin ke homeschooling. Doi bilang, pendidikan di sekolah umum sekarang nggak menjamin pendidikannya lebih bagus dibandingkan homeschooling. Selama ini stigma masyarakat tentang sekolah umum adalah kualitas anak dalam bersosialisasi, tapi sekarang banyak kasus bullying, dan banyak lagi kasus yang menyebabkan sosialiasi itu nggak lagi jadi sesuatu yang baik bagi perkembangan seorang anak, Contohnya, kemaren anaknya temennya kakak sepupu saya yang kita singkat jadi (ATKSS), doi diludahin sama temennya di sekolah. Dan kejadian tersebut nggak cuma terjadi sekali, tapi beberapa kali. Itu membuktikan kalo kualitas bersosialisasi di sekolah umum nggak menjamin bahwa ATKSS nggak bakal ngebales perbuatan si temen. Kalopun doi kagak bales ke si temen yang bersangkutan, bisa jadi suatu hari doi bakal ngelakuin hal yang sama ke orang lain.

Di samping itu, kalo sampe hal itu terjadi lebih dari sekali, berarti si sekolah nggak mampu menangani hal-hal kayak gitu secara personal. Coba kalo dibandingkan dengan homeschooling, masing-masing anak akan tertangani dengan baik. Kurikulum bisa diseleksi sesuai minat dan bakat, yang penting si anak bisa lulus ujian nasional. Selain itu, anak-anak nggak perlu belajar sesuatu yang nggak efektif dan efisien yang memang mereka nggak suka. Masalah bersosialiasi, mereka bisa berkumpul bareng sama anak-anak homeschooling lain yang punya minat dan bakat yang sama. Dengan adanya waktu yang dialokasikan ke hal-hal yang lebih efektif dan efisien, pendidikan mereka juga akan berkembang tepat sasaran.

Kakak sepupu saya juga bilang, besok nggak akan ngebolehin anaknya nonton TV. Yang ini agak ketat sih kalo saya bilang. Tapi alesannya doi juga demi kebaikan si anak. Karena sekarang TV juga nggak selamanya menginformasikan hal yang baik untuk penontonnya. Kita ambil contoh gampangnya, anak karyawan mama saya yang pengen potong rambut macem Alejandro. Dari mana si anak itu tau tentang Alejandro kalo nggak dari TV? Itu cuma satu kasus kecil. Ada berapa banyak hal yang nggak pantes diserap anak kecil tapi ditayangkan di TV? Silakan dipertimbangkan lagi.

Tapi ngomong-ngomong sendiri nih, banyak orang yang pendidikannya tinggi jaman sekarang kelakuannya jauh lebih buruk dibandingkan yang nggak berpendidikan. Justru orang-orang yang lebih berpendidikan lebih kreatif dalam bikin kesalahan. Saya lebih mengapresiasi orang-orang yang bekerja secara profesional walopun pendidikan mereka nggak tinggi.

Contohnya….saya. Saya sekolah. Lulusan S1 International Business Management. Bentar lagi lanjut S2 Public Relation. Tapi nggak banyak hal yang saya lakukan berdasarkan pendidikan yang saya tempuh. Dengan berbagai alasan. Dan saya agak sedikit menyesal, kenapa banyak hal yang saya sukai nggak saya lakukan. Itupun dengan berbagai pertimbangan. Tapi ya semua yang terjadi pasti atas seijin Allah. Sampai saat ini pasti ada hikmahnya. Insha Allah kelak ilmu yang saya dapatkan bisa berguna baik bagi diri saya maupun orang-orang di sekitar saya. Saya pun nggak bisa memaksa orang lain untuk hidup seperti saya, Bersekolah, cari banyak gelar, menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin. Setiap orang punya pilihan hidup. Setiap pilihan pasti ada alasan. Semoga saja masing-masing orang akan terus belajar baik di jenjang pendidikan formal maupun non formal dan bisa mengaplikasikannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Yang saya tau, ada pepatah mengatakan: Orang yang berhenti belajar, sama dengan orang yang tidak berpendidikan. Jadi, bagi siapa saja yang merasa sudah cukup lelah dengan pendidikan, jangan menyerah. Masih banyak hal yang bisa dipelajari dari hal-hal yang kita sukai. Kembangkan. Belajarlah dari hal-hal yang kita sukai dan bisa bermanfaat setidaknya bagi diri kita dan orang di sekitar kita. Jangan berhenti belajar yaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s