Ternyata Nggak Gampang

Standard

Alhamdulillah, akhirnya ada waktu untuk nulis. Dari kemaren mau nulis nggak sempet-sempet. Rasanya nggak pernah saya merencanakan atau membayangkan kalau kesibukan saya akan jadi seperti ini. Namanya manusia yah, cuma bisa berencana, Allah yang menentukan.

Setelah sejak awal tahun saya pusing sama skripsi dan berbagai macem masalah yang kayaknya nggak ada abisnya, saya baru belakangan saya mulai sadar, kalo memang yang awal kemaren saya digembleng dulu, istilah kemahasiswaannya di-ospek-in dulu, supaya lebih matang dalam menghadapi masalah-masalah yang lebih besar.

Alhamdulillah setelah saya mengkihlaskan hal-hal yang bikin saya pusing, saya pasrahkan semuanya ke Allah, semuanya diganti jauh berlipat-lipat lebih bermanfaat sama Allah. Sejak saya udah nggak ngurusin kuliah lagi, sambil nunggu wisuda, dan belum apply s2, saya dapat amanah untuk antar jamaah umroh + Aqso. Ceritanya seharusnya dari tim kita ada beberapa orang yang berangkat, tapi karena ada sedikit musibah sehingga yang berangkat dari tim cuma saya dan satu lagi tour leader dari kita yang belum pernah berangkat ke Palestine. Sehingga tanggung jawab saya yang udah pernah berangkat jadi lebih besar, sementara total jamaah yang saya bawa adalah 60 jamaah.

Dari awal memang saya lillahi ta’ala untuk antar jamaah, memang saya suka kerjaan yang kayak beginian daripada di kantor urus berkas-berkasnya. Hehe. Kebetulan kok ya apes saya, sampai di Amman, Jordan, semua koper jamaah udah beres, cuma koper saya aja yang nggak ada. Memang waktu di Jakarta, pramugari Garuda Indonesia udah bilang kalo kabinnya full, jadi terpaksa koper saya dibagasikan, tapi dia bilang kalo akan diambil di Amman. Jadi kita nggak perlu repot urus bagasi. Ternyata sampai di Amman tanggal 8 Maret juga koper saya nggak ada. Setelah tiap hari saya track, koper saya baru sampe Amman pada tanggal 14 Maret. Hmm..anggep saja koper saya pergi umroh sendiri.

Karena ini pengalaman pertama saya anter jamaah sendirian tanpa mama papa ataupun dari tim, saya jadi banyak belajar. Menyatukan hati dan pikiran untuk bisa beribadah sama-sama itu nggak gampang. Karena setiap orang memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda. Tugas kita adalah memfasilitasi dan memastikan mereka terfasilitasi dengan baik.

Apalagi kalo ada kejadian yang di luar perkiraan kayak kemaren. Ceritanya, kemaren kita udah mau keluar dari Palestine. Untuk keluar dari Palestine, kita harus melalui perbatasan. Sementara di seberang perbatasan tersebut barusan ada penembakan, yang otomatis akan jadi issue politik. Jadi mau nggak mau kita harus cari perbatasan lain. Sementara itu jadwal seharusnya adalah kita lunch di Laut Mati, tapi karena ada kejadian yang di luar perkiraan tadi, jadwal lunch kita molor sampai akhirnya baru tiba di Laut Mati pada waktu dinner. Kasian jamaah saya.

Pada dasarnya umroh plus Masjid Al Aqso ini idealnya untuk jamaah berusia muda. Karena medannya berat dan diusahakan untuk membayangkan hal-hal terburuknya, karena sangat beda kalo dibandingin sama Makkah dan Madinah yang jarak hotel & masjid sangat dekat, semuanya aman dan terkendali. Untuk bisa sampai di Al Aqso, dari Jakarta kita menuju ke Kuala Lumpur (jarak tempuh kurang lebih 2 jam) untuk ganti maskapai dari Garuda Indonesia ke Royal Jordan. Dari Kuala Lumpur lanjut ke Bangkok (jarak tempuh kurang lebih 1,5 jam), dari Bangkok lalu ke Amman dengan jarah tempuh 9 jam, dari Amman menuju perbatasan Israel menggunakan bis. Di imigrasi Israel semuanya serba ketat, antriannya pun panjang, dan ketentuan imigrasi Israel untuk meloloskan dan tidak meloloskan pun terkesan suka-suka mereka. Setelah kurang lebih 2 jam di imigrasi, lanjut ke Palestine dengan bus yang makan waktu kurang lebih 40 menit. Sehingga total perjalanan mencapai kurang lebih 15 jam perjalanan.

Setelah 3 hari 2 malam di Palestine, rombongan jamaah menuju ke Madinah. Amman ke Madinah hanya berjarak 2,5 jam penerbangan. Setelah 4 hari 3 malam di Madinah, baru rombongan melaksanakan umroh ke Mekkah. Madinah ke Makkah dapat dijangkau dalam waktu 5 jam perjalanan darat. Baru setelah 3 hari 2 malam di Makkah, rombongan menju Jeddah dan menginap satu malam kemudian kembali ke Indonesia. Dari Jeddah ke Amman, Amman ke Bangkok, dan Bangkok lalu Jakarta. Biasanya karena tiba di Jakarta pada malam hari, kita akan menginap satu malam di hotel kemudian baru akan kembali ke kota masing-masing keesokan harinya.

Kebanyakan jamaah ngeluh karena capek. Tapi sejak awal kita sudah informasikan bahwa perjalanan umroh + Aqso ini adalah perjalanan yang jauh dan berat. Seperti dikutip dari buku Ensiklopedi Islam, sebagian ulama berpendapat bahwa masjid ini disebut aqsha (jauh) karena letaknya yang cukup jauh dari Masjidil Haram di Makkah. Menurut Al-Alusi, jarak kedua masjid ini 40 malam perjalanan dengan mengendarai unta. Jadi di awal sudah kita informasikan bahwa perjalanan ini akan berbeda jika dibandingkan dengan umroh plus Dubai atau plus Turki, dan plus negara lainnya.

Dan saya sangat salut sama seluruh tim Global Inspira Indonesia yang sudah terlebih dahulu berpengalaman menghandle jamaah, ternyata nggak gampang, dan saya masih harus banyak belajar untuk bisa melayani jamaah dengan lebih baik lagi. Insha Allah, aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s