Kambing

Standard

Jadi ceritanya hari ini saya main ke rumah kambing-kambingnya sahabat saya Veronika.

Saya salut loh sama sahabat saya yang satu ini. Sejak dulu dia nggak pernah berhenti bikin saya kagum sama dia. Dia ini orangnya nggak banyak omong, nggak suka pamer, mau belajar, dan pekerja keras. Kemaren waktu saya maen ke rumah kambing-kambingnya dia, dia kemudian ganti baju, ganti sendal jepit, dan bikin makanan buat kambing-kambingnya. Sementara saya bengong ngeliatin dia nimbang dan bikin makanan buat kambing-kambingnya dia.  Ada banyak ember disitu. Masing-masing ember isinya beda-beda. Ada yang isinya kulit biji kopi, kedelai, jagung, dan konsentrat.

Vero lagi nimbang nyampur bahan makanan buat kambing-kambingnya sesuai takaran

Vero lagi nimbang nyampur bahan makanan buat kambing-kambingnya sesuai takaran

Kambing gibas yang berubah menjadi ganas tiap liat makanan

Kambing gibas yang berubah menjadi ganas tiap liat makanan

Ada 10 kambing etawa dan beberapa kambing gibas. Sambil nunggu Vero bikin makan buat kambing, saya jalan-jalan di kandang. Saya langsung disambut oleh suara kambing. Bagaikan jalan di karpet merah, semua mata kambing tertuju pada saya. Bedanya, di karpet merah nggak ada eek kambing, disini banyak eek kambing. Waktu saya ngeliatin kambing-kambing itu, mereka juga ngeliatin saya. Terus kita saling liat-liatan. Kemudian kita jadian..

Kambing-kambing yang menyambut kedatangan saya

Kambing-kambing yang menyambut kedatangan saya

Makin saya liatin, saya makin gemes sama kambing-kambing itu. Abis suaranya lucu. Trus matanya innocent gitu. Kambing-kambing itu ngeliatin saya, saya juga ngeliatin kambing-kambing itu, tapi makin saya liat, saya kok ngerasa jadi mirip kambing. Abis kambing-kambing itu mukanya suka melas gitu. Mirip banget ama saya.

Merasa mirip

Merasa mirip

Udah agak sorean gitu, kita balik ke kampus. Di mobil si Vero cerita sama saya.

“Pegaweku itu suka ngeselin, kapan hari dia nggak kerja, kambingku jadi nggak bisa makan, trus kamu tau apa yang tak lakuin?”

“Apa?”

“Aku ngarit”

“…..”

“Aku ngarit, Mel. Akhire aku dikoncoi ambek Sutris. De’e sing ngarit. Trus aku sing makani kambing” (Vero cari rumput buat makan kambingnya, dibantuin sama supirnya yang namanya Sutris)

“Sutris setia ya, Ce”

“Iyo. Mari ngono, de’e ngomong ngene. Eh, aku ae sing ngarit. Saiki kon masak’o ya. Aku luwe” (Tapi abis itu Sutris nyuruh Vero masak soalnya dia laper abis cari rumput)

Saya ngakak keras-keras di dalem  mobil. Tapi saya makin angkat topi sama Vero ini. Dia bela-belain sampe cari rumput sendiri, ngasih makan kambing-kambingnya, bikin makan buat kambingnya, belajar dari buku, dan tidur di kandang kambingnya. Luar biasa.

Terus dia cerita lagi.

“Aku lho Mel, punya dokter hewan dan temenku yang dokter hewan. Waktu kambing-kambingku yang kecil itu mati sekitar 30 ekor, akhirnya kita otopsi. Trus waktu diotopsi dokternya bilang ‘Ini kenapa ya kok bisa mati?’ yo aku bingung mel. Lha dokter’e ae bingung, opo meneh aku”

“Terus temenku bilang, ‘ini keracunan Vero, kamu kasih makan apa waktu itu?’ ya tak bilang tak kasih makan biasa. Lamtoro, makanan kambing, dll. Trus dia bilang, ‘ooh nggak boleh Vero, kambing itu nggak boleh dikasih makan lamtoro Ve’. Abis gitu aku ketemu tetanggaku, dia bilang ‘lho, kambingku tak kasih lamtoro lho sehat-sehat ae'”

“Terus dokternya bilang lagi, ‘Ooh ini kekurangan kalsium ini, kamu suntik dia kalsium aja ya kalo gitu’. Abis gitu tak suntik kalsium, besoknya kambingku langsung mati”

Saya ini antara miris, tapi geli. Jadi mau nggak mau ya ketawa. Vero masih ngelanjutin ceritanya.

“Terus temenku bilang, ‘berarti ini nggak boleh disuntik Vero, ini kamu kasih garam beryodium itu lho’. Lhoalah, gimana Mel lha wong garam yang nggak beryodium aja menurutku udah mahal, sekarang dikasih yang beryodium pula, bangkrut lak’an aku”

Saya nyeletuk,”Iya Ce, nanti kambingnya lebih pinter dari kita pula”

“Kambingku ini juga manja. Dia tu nggak mau dikasih kulit biji kopi ini. Maunya dikasih kedele tumbuk yang banyak. Padahal kedele tumbuknya sekilo delapan ribu”

Saya nyeletuk lagi, “Kalo kedele mah aku juga doyan, Ce”,

Nggak lama kemudian kita sampe di kampus. Karena kebetulan jarak antara kampus sama kandang juga nggak jauh-jauh amat. Cuma jauh aja.

Sekarang si Vero lagi kewalahan karena pegawenya banyak maunya dan kurang banyak membantu, jadi kurang bisa diandalkan. Dia bilang kalo ada temen yang mau bantuin dia, dia akan sangat berterima kasih dan bakal ngasih apresiasi yang cukup banget. Jadi kalo ada yang berminat bantuin dia, silakan hubungi saya atau Vero via facebook: Melva Sabella atau Veronika Sugiarto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s