A Sad Story from My Study

Standard

It’s been a while and then I show up with a sad story. Sorry for that.

Mungkin cuma sebagian dari kalian yang inget tentang cerita saya di awal-awal kuliah, karena seiring berjalannya waktu, kisahnya mulai beda. Ceritanya udah kayak fase gunung, mulai dari aktif, setengah aktif, istirahat, sampai nggak aktif. Dalam fase tersebut ada siaga, waspa, sampai status awas. Kurang lebih kayak gitu.

Kalo cerita saya, intinya masuknya susah, keluarnya juga susah. Mungkin bener apa kata orang, hal yang dipaksakan nggak akan berakhir dengan baik. Tapi untuk beberapa hal tertentu, kalo nggak dipaksakan, kita nggak akan belajar.

2010. Saya masuk kuliah di Universitas Ciputra yang menurut mama saya,”Kalo dulu udah ada kampus kayak gini, pasti mama akan masuk disini”. Pada kenyataannya, 2 bulan setelah saya masuk kuliah, saya sakit-sakitan, berantem sama mama saya, berat badan saya tinggal 36, dan jadi apatis sama semuanya. Sampe akhirnya waktu liburan semester 1, saya memutuskan untuk berhenti kuliah.

Ngomong-ngomong soal berhenti kuliah, isinya bosen juga. Karena temen-temen kampus lain nggak libur, mama papa saya pergi haji, dan kakak saya di rumah kerjaannya selain kerja, belajar, buang ingus dimana-mana, dan berantem sama saya (karena buang tissue sembarangan). Akhirnya, mungkin mama papa saya waktu lagi haji berdoa biar saya mau kuliah lagi. Menjelang semester 2, saya akhirnya masuk lagi ke kampus yang sama, walaupun sudah pamitan sama dosen-dosen terdekat.

Semester 2,3,4, kuliah ya kuliah. Nggak pernah ada ceritanya ngejar nilai, mata kuliah yang saya ikutin ya saya ikutin dengan baik, yang saya nggak ngerti, ya…mau diapain lagi, namanya juga nggak ngerti. Udah pernah saya jelasin sebelumnya kalo saya sama sekali nggak ngerti dan nggak tertarik sama ekonomi. Jadi kalo udah ada yang ngomongin soal angka dan sebagainya, otak saya langsung nunjukkin “SYNTAX ERROR” kayak kalkulator kalo udah nggak ngerti lagi.

Mulai dari kuliah, pergaulan, kehidupan, sudut pandang, semuanya mempengaruhi saya sampai sekarang. Nggak perlu diceritain macem-macemnya disini sih, di postingan sebelumnya juga pasti ada kan. Intinya semua itu udah bikin saya jadi sangat amat mandiri. Atau mungkin lebih tepatnya lebih suka sendiri dibanding di kerumunan orang-orang yang nggak jujur.

Semester 5. Indeks Prestasi saya emang nggak pernah lebih dari 3,5. Baru waktu semester 5 ini bisa lebih dari 3,5. Sampe sekarang pun IPK saya juga nggak bagus-bagus amat walopun tetep di atas 3. Dosen pembimbing saya yang dulu tau kalo saya mau keluar bilang,”Akhirnya kamu bisa ngejar temen-temenmu ya, kamu pasti bisa lulus 3,5 taun juga. Semangat ya. Teruskan”. Sejak kecil mama papa saya emang nggak pernah nuntut saya untuk ngejar nilai sih. Banyak yang bisa dipelajari di sebuah institusi pendidikan, tapi apa yang bisa dipelajari di luar itu masih jauh lebih banyak.

Semester 6. Boring but I had a great time with Stephanie Felicia and of course her boyfriend, Christian Hartanto.

Semester 7. Ini semester paling menarik menurut saya. Saya ketemu banyak orang, kerja sama sama banyak orang, temen-temen yang dulunya nggak pernah kenal saya sekarang jadi deket. Tapi yang namanya kehidupan, yang satunya lancar, bukan berarti yang lainnya akan lancar juga. Mulai dari semester 7 ini saya dan keluarga saya jadi sedikit lebih renggang dari sebelumnya.

Pada akhirnya, saya minta tanda untuk ikut sidang skripsi sama salah satu dosen yang dulu pernah saya pamitin bahwa saya mau keluar, dan dia bilang,”Wah Melva, saya nggak percaya sama akan tanda tangan di atas nama kamu. Luar biasa ya akhirnya kamu sampai sejauh ini,”. Dan akhirnya saya lulus sidang skripsi dengan revisi.

Revisi. Ini momen dalam hidup yang disebut mental breakdown.

Ada 3 dosen, 2 dosen penguji skripsi dan 1 dosen pembimbing skripsi. 1 dosen penguji skripsi dan dosen pembimbing skripsi ini sudah tanda tangan pada bulan Januari. Dalam sehari saya bisa bimbingan dan langsung tanda tangan sama kedua dosen tersebut. Sedangkan untuk 1 dosen yang belum tanda tangan, saya harus pergi ke Malang ketemu Pakde saya yang juga penguji sekaligus pembiming skripsi untuk benerin revisi saya sebelum saya kumpulkan revisi saya ke dia. Setelah menurut Pakde saya bener, saya balik ke Surabaya untuk kumpulkan revisi saya.

10 Februari 2014. Deadline pendaftaran sidang yudisium, revisi saya belum selesai, saya belum dapet tanda tangan dosen, dan saya harus bayar jutaan untuk ngelanjutin ini semua. Nggak adil sih kalo saya harus bayar jutaan untuk sebuah tanda tangan. Kecuali, nilai saya belum keluar dan saya masih harus lanjut revisi. Kecuali, saya belum sidang skripsi dan saya harus bayar. Kenyataannya adalah, nilai saya udah keluar, revisi saya belum selesai, saya belum dapet tanda tangan dosen, dan saya harus bayar jutaan untuk ngelanjutin ini semua (part ini cuma copy paste dari kalimat pertama sih).

13 Februari 2014. Mama saya pulang dari Dubai dengan nggak tau sama sekali perkembangan revisi saya. Waktu saya cerita, mama saya udah ngomel dan nggak mau bayar lagi untuk kelanjutan revisi ini.

14 Februari 2014. Gunung Kelud meletus. Valentine Day dibubarkan. Dan revisi saya masih belum kelar. Saya akhirnya ikut temen saya pergi ke kandang kambing punya dia. Saya udah capek ada di kampus tanpa hasil.

14 Februari 2014 [03.34] Karena saya ada di kandang kambing yang nggak ada sinyalnya, saya kaget ternyata ada pesen dari dosen saya kalo saya harus ambil revisi saya jam 3 tadi. Dimana saya udah dateng sangat amat telat. Disitu saya dan dia bahas tentang revisi saya yang nggak kelar-kelar dan saya yang harus bayar.

Dear Ibu Dosen,

Saya minta maaf karena menurut ibu saya nggak dateng tepat waktu ketika mengumpulkan revisi. Saya minta maaf karena menurut ibu saya nggak berusaha. Saya minta maaf karena menurut ibu saya kerja saya nggak maksimal. Saya minta maaf karena menurut ibu saya nggak ngertiin ibu. Saya minta maaf karena menurut ibu saya nggak tau apa alesan ibu berbuat ini. Saya minta maaf karena nggak bisa jadi apa yang ibu harepin selama ini.

Giliran saya, anak yang ibu ngerasa nggak mau ngertiin ibu ini, mau cerita, waktu temen-temen nggak suka sama ibu karena cara ibu memperlakukan mereka, saya bilang ke mereka,”Dia kayak gitu sama saya karena mungkin karena dulu dia juga diperlakukan kayak gini sama dosennya” atau “Dia pasti punya alesan kayak gitu, toh yang dia lakuin juga bener” atau “Dia lagi sakit, jangan bikin dia tambah mikir” atau “Udah biarin aja, toh dia dosen favoritku”.

Seandainya ibu langsung koreksi revisi saya hari itu juga dan bukan setelah satu minggu ataupun 3 hari kemudian, revisi saya pasti sudah selesai. Seandainya ibu mau berusaha ada di posisi saya dan ngerti apa yang saya alamin, hidup saya nggak sekedar ngurusin skripsi. Untuk bisa sampai disini aja sudah berat. Tapi seolah cuma saya yang salah disini. Sekarang apa yang harus saya bilang sama mama papa saya yang semuanya udah merasa bangga sama saya, padahal ternyata yang dibanggakan itu bagi ibu belum ada apa-apanya? Gimana saya bisa pulang ke rumah kalo saya sendiri malu sama diri saya sendiri. I’m sorry Maam, I just can’t help myself from saying this.

——————————————

This is a sad story from my study. Cerita ini masih belum detil sih, karo kalo saya ceritain detilnya, pasti akan gemes. Nggak tau besok apa yang terjadi. Yang jelas besok dan lusa libur. Mungkin minggu depan kita baru tau. We’ll see.

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s