Yaudah Vs Terserah

Standard

Jawaban yang paling sering dan paling enteng, sekaligus paling nyebelin dijawab lawan bicara kita adalah “Yaudah” atau “Terserah”.

Kalo aku sih lebih mending di “yaudah”-in daripada di “terserah”-in. Kalo di yaudah-in itu rasanya ya emang sebel sih walaupun kayaknya itu jawaban yang nggak nice gitu. Tapi ya, yaudah. Emang mau dijawab apalagi ya selain yaudah?

Nah, kalo “terserah”..

Jawaban “terserah” itu kalo dipake sekali-sekali ya okelah. Maksudnya mungkin untuk menghargai pilihan yang nanya. Tapi kalo dipake berkali-kali, rasanya orang yang ngomong terserah itu males mikir dan nggak bertanggung jawab.

Misalnya aja gini, lagi keluar sama temen. Trus aku nanya,”mau kemana nih?”, trus dia jawab,”terserah”. Nah itu masih nggak apa-apa. Tapi kalo di tengah jalan aku nanya,”mau makan dimana nih?”, dan dia jawab,”terserah,” oke lah masih bisa diterima. Tapi kalo sampe pada akhirnya aku nanyain,”kamu mau makan apa?,” dan dia jawab,”terserah,” lagi…………BOM ATOM MANA BOM ATOM???

Itu cuma contoh. Masih banyak orang yang suka banget jawab pake terserah. Sebel sih. Paling nggak jawab kek apapun yang dia pikirin, jangan dijawab terserah. Kalo dijawab “terserah” kan semua pilihan jadi tanggung jawab kita. Ya bukannya aku nggak mau bertanggung jawab, tapi kan lebih enak kalo kita sama-sama tau apa yang kita pengen. Menghargai pilihan orang itu boleh, tapi kalo dijawab “”terserah terus itu namanya udah nggak menghargai, itu namanya membebani.

Jawaban “terserah” itu kesannya nggak clear. Jadi masih harus diterusin.

Dan masih banyak lagi kejadian yang nyebelin tentang jawaban,”terserah.” Mending kalo udah jawab “terserah” tapi akhirnya nggak protes. Kalo udah jawab “terserah” tapi endingnya dia protes….bisa murka nih rahwana. Rahwana siapa sih? Pemain film India bukan sih? Bukan ya?

Dan kalo tentang “yaudah” itu ada beberapa konteks” yaudah” yang bisa diterima dan “yaudah” yang harus dibinasakan.

“Yaudah” yang perlu dibinasakan itu semacam yang kalo lagi diskusi serius atopun lagi berantem sama pacar trus dijawab “YAUDAH!” sambil nggebrak meja ato sambil banting pintu mobil, ato…sambil maksa turun dari motor. Kayak gitu tuh perlu dibinasakan karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan.

Selain itu, “yaudah” yang bisa diterima adalah “yaudah” yang dipake waktu mau mengakhiri pembicaraan yang udah jelas tapi malah ribet di akhir. Intinya, “yaudah” yang bisa diterima adalah “yaudah” tanda setuju dan tanpa emosi.

Kalo tadi aku bilang jawaban “terserah” itu kesannya nggak clear, jawaban “yaudah” itu yang nge-clear-in. Jadi udah nggak ada beban atau hal yang harus diterusin, nggak ada pilihan-pilihan lain lagi yang harus diterusin. Ngerti nggak?

Ya gitu deh intinya.

Nggak suka sama postingan ini? Yaudah, terserah! :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s