Nilai

Standard

Sejak kecil, di bidang akademik aku slalu dapet nilai yang bagus. Slalu dapet ranking, nilai-nilai yang bisa dibanggain. Dulu, aku mikirnya dengan dapet nilai itu cukup buat jaminan hidupku bakalan bahagia, damai, sejahtera. Namanya juga dulu. Mana ngerti apa yang bakal terjadi di masa depan, aku kan bukan cenayang.

Masih terngiang-ngiang filmnya Will Smith yang The Pursuit of Happiness, disitu juga kisahnya si Will Smith ini emang orang yang pinter tapi kurang beruntung. Di bagian akhir filmnya dia juga sempet ngutarain kalimat yang intinya, dulu dia pikir dapet nilai A itu sudah bahagia, tapi setelah dia sadari dan dia jalani, ternyata kebahagiaan bukan melulu soal nilai.

Belakangan aku juga kepikiran, mau jadi apa ya? Bagi yang udah ngikutin blog ini sejak jaman Mahabarata, pasti udah tau kan kalo aku semacam mahasiswa yang salah masuk jurusan dan terdampar di kota orang dengan kesendirian. Kemudian galau.

Tapi sejak kuliah jadi berubah. Banyaknya mata kuliah bikin aku ngerti bidang-bidang apa aja yang bisa aku kerjain dengan baik dan bisa dapet nilai bagus. Dan bidang apa yang ancur-ancuran. Nggak kayak jaman SD dimana nilainya rata semua dari kelas 1-6 dapet ranking 1 melulu atopun SMA yang nilainya mentereng bisa masuk PMDK mana aja kecuali yang jurusan IPA atopun…angkatan militer. Life’s change.

Banyak mahasiswa yang melulu ngejar nilai, ya memang apa yang dia kejar itu yang bakal dia dapetin. Bahkan ada beberapa quotes yang bilang kalo di dunia kuliah ada triangle; social life, enogh sleep, dan good grades, dan setiap mahasiswa cuma boleh milih dua dari tiga pilihan tersebut. Mereka nggak mungkin ngedapetin ketiganya. Ya aku nggak bohong, kalo aku sih milihnya social life dan enough sleep.

Rasanya ya wajar belajar, tapi bagiku nilai itu nggak begitu penting bagi kehidupanku. Nilai kan yang nilai dosen, dosen juga manusia, bisa jadi nggak obyektif kan? Yah, kalo ini sih bisa dibilang paragraf pembelaan. Tapi bener kok, aku bukannya nggak peduli soal nilai, aku cuma bukan tipe mahasiswa yang punya ambisi melulu tentang nilai. Buat apa ngejar nilai dari sesuatu yang nggak kita suka, apa yang dikejar dari pencapaian atas suatu hal yang nggak bikin kita seneng? Itu aku lho ya. Kalo nggak setuju ya jangan diconto.

Ada yang lebih penting dari sekedar nilai, dan itu tergantung dari pandangan pribadi masing-masing. Kalo aku, yang lebih penting adalah gimana caranya memaknai hidup. Dan kata mama, “Belajar seperlunya dari akademi, banyak hal yang juga bisa dipelajari di luar akademi”. See? Nilai yang paling obyektif kan cuma bisa dinilai sama Allah, jadi ya nggak terlalu ambil pusing sama nilai dari kampus. Banyak yang heran sama saya karena saya nggak serajin anak-anak lain, ya gimana ya kayaknya ini sudah bawaan orok. Orok artinya apaan yah?

Yang jadi masalah adalah, semua perolehan nilai ini mau saya apakan?

Mau jadi dokter, nggak mungkin. Mau jadi pengusaha, passionnya kurang. Mau jadi penulis, nulis apaan? Mau jadi penyanyi, penyanyi kamar mandi? Mau jadi pemain futsal, yakali. Mau jadi pengacara, trus balik lagi S1 ambil jurusan hukum gitu?

Jadi, nilai yang bagus sejak SD nggak menjamin kalo kamu nggak bakal diselingkuhin, nggak bakal menjamin kalo kamu bakal kaya, nggak bakal menjamin kalo kamu nggak bakal galau, dan lain-lain.

Ah nggak ngerti lagi deh.

Ternyata dapet nilai bagus sejak SD nggak menjamin hidup bakalan semulus pipinya tante-tante yang perawatan di Natasha…

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s