Apa Kabar Semester Tiga?

Standard

Semester 3. Sudah satu setengah tahun saya berada di Surabaya, menjalani kuliah yang dulu selalu saya keluhkan. Wait? Dulu? Ralat. Yang sampai sekarang selalu saya keluhkan. Bagaimana tidak mengeluh? Tugas-tugas berhamburan, konflik dengan teman, perbedaan pendapat, kehabisan uang, dan sebagainya, dan sebagainya (kata-kata dan sebagainya mengesankan bahwa sangat amat banyak hal yang patut dikeluhkan).

Memang susah ya kuliah itu, harus belajar mengatur semuanya sendiri. Mulai dari menata kamar, menata jadwal, menata kehidupan, menata cara berpikir, menata hati, sampai menata sikap.

Mungkin berat awalnya memulai semua ini. Bukan mungkin, tapi memang demikian adanya. Di awal akan tampak bayangan-bayangan mengerikan saat kita memasuki masa perkuliahan. Teman yang acuh, sendirian ketika sakit, kesulitan dalam mengerjakan tugas, kehabisan uang, dan pada saat yang bersamaan serta merta dunia terasa gelap. Begitulah suramnya semester awal.

Tidak lama kemudian, kita akan bisa beradaptasi. Dalam kasus saya, beradaptasi berarti bisa terbiasa dengan kesendirian, kesakitan, dan kegelapan (selamat datang di gua hantu). Nggak lah, saya memang nggak begitu suka hingar bingar, jadi lebih suka sendiri dan mikir semuanya sendiri. Sebisa mungkin untuk nggak bergantung sama orang lain, karena menurut ibu saya, kalo kita bergantung sama orang lain, saat orang lain itu pergi maka kita nggak akan bisa melakukan apa-apa tanpanya. Itulah yang membuat saya menjadi mandiri individualistis.

Menjadi individualis tidak mudah. Lebih banyak orang memberi saya label arogan atau sombong. Dan seumur hidup saya, menanggung beban label itu sudah menjadi hal yang biasa sejak SD. Kesan pertama orang yang melihat perilaku saya yang ajaib ini bisa dibilang wajar, karena saya memang tidak pintar mengambil hati orang untuk berteman dengan saya. Tapi kalo sudah berteman dengan saya, barulah kelihatan kalo saya ini binal.

Walaupun sudah terbiasa terlabeli dengan arogan atau sombong, tetap saja naluri manusiawi saya ini muncul (biasanya naluri nabati dan hewani sih yang muncul) dan saya sedih mendapat label seperti itu, seolah-olah orang tidak memberi saya kesempatan untuk menunjukkan siapa saya namun mereka sudah menilai saya dengan buruk. Namun bukan menjadi suatu rintangan yang besar buat saya, karena saya percaya pasti ada alasan dibalik semua hal yang terjadi di hidup ini.

Saat ini, masalah yang terjadi bukanlah arogan atau sombong, melainkan begitu banyaknya cabang di pikiran. Jika ditekan bisa gila, tapi hati ini begitu menginginkan kinerja otak menjadi 100% maksimal. Bisa saja menjalani semua ini dengan santai, tapi kadang keadaan di sekitar kita mendorong kita untuk harus menyelesaikan urusan pelik dalam waktu yang sama.

Terkadang bukan urusan pelik yang memusingkan, tapi pikiran yang pelik. Terlalu banyaknya hal yang dipikir membuat kinerja menjadi tidak produktif. Bahkan terkadang pikiran-pikiran hanya akan menambah beban dan menghambat kinerja. Mungkin sudah saatnya bagi saya untuk berhenti berpikir dan mulai melangkah lagi. Biarlah semua yang menjadi pikiran ini mengalir sesuai yang telah digariskan.

Semoga tulisan ini menjadi pencerah masa-masa sulit saya di semester 3 yang kian mencekik leher.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s