From Spring to Winter

Standard

Spring

Musim pertama kita bertemu tanpa nama, tanpa rasa dan tanpa problematika. Kehidupan kita masih sama layaknya kita adalah remaja seusia kita yang menkimati musim pertama. Pada awalnya kita hanyalah bertegur sapa atau bahkan tak sengaja bertatap muka. Semuanya tanpa sengaja, tanpa rencana. Hari hari berganti pada musim pertama, begitu juga dengan gejolak kehidupanmu. Hidupku penuh gejolak kebahagiaan yang dicemburukan banyak orang. Sementara kau dengan energi positifmu yang berpadu dengan gejolak negatif dalam hidupmu menarikku di musim pertama.

Aku siapa di musim pertama? Tidaklah penting bagi kau yang bukan siapa siapa di musim pertama. Merekah indah itu bukan salah kita. Berkembang di musim semi bukan masalah untuk kita semua. Yang salah adalah ketika kau menarikku dan aku telah berpegang pada musim kedua sehingga tarikan yang secara sengaja itu tidak berhasil. Tarikanmu hanya menimbulkan gesekan yang memanas di musim kedua.

Summer

Percikan api tanpa dipadamkan akan menimbulkan kebakaran hebat. Api yang besar dan tak terpadamkan kau nyalakan di antara kita. Sejenak aku merenungkan apa yang baru saja terjadi, apa yang telah kita lakukan, dan mengapa. Hari itu tanpa sadar pergantian hari sebelumnya yang tak pernah terasa dan tak pernah terelakan membawa kami pada sebaris frekuensi yang sama. Kami dalam frekuensi yang sama dan begitu banyak frenkuensi bergesakkan dalam frekuensi kami. kami tak sadar bahwa saat itu kami sedang berada dalam frekuensi yang sama. Saat itu kami tak sedang bersama, tapi kami masih dalam frekuensi yang sama.

Hujan kemudian turun setelah lama kami berada dalam frekuensi yang sama. Frekuensi yang sama terus berulang ulang, anehnya dalam frekuensi yang samapun kami tak bisa mendengar hal yang sama satu sama lain, karena kami tak berniat untuk berdiam dan merenungkan. Tak berniat untuk diam dan berpikir. Tak berniat untuk berubah. Maka kami berada dalam musim kedua yang tidak tersentuh cerita cinta.

Fall

Musim ini kami berkisah. Menceritakan suka dukanya selama musim sebelumnya berselang. Kilauan tangis dan air mata tercermin di gugurnya dedaunan sepanjang musim. Ada yang bersemi namun tak mekar. Ada yang mekar namun tak ada yang memetik, tak terpesona. Ada yang mempesona, tapi tertutup oleh dedurian tak tersentuh dari tanaman lain. Ada gerimis tak terundang. Gerimis yang menghidupkan suasana sepi. Gerimis yang turun karena resapan. Cih, musim ini semuanya gugur. Gugurnya daun, gugurnya gerimis.

Kita jatuh di tempat yang sama, dalam waktu yang berbeda. Dengan orang yang sama, dalam waktu yang berbeda. Dengan alasan yang sama, dalam waktu yang berbeda. Kita di musim ketiga yang menerbangkan semua harapan dan membawa kebahagiaan. Kita di musim ketiga dengan gemerciknya gerimis yang tak terperhatikan dan gugurnya daun daun sepanjang boulevard.

Winter

Musim ini begitu dingin. Salju tidak turun di pelataran, tak menimbun pula di genting ataupun pagar. Hanya saja udara dan angin yang berhembus begitu berniat untuk membekukan. Terucap kata kata hangat yang tidak mampu melumerkan bekunya hati. Berbagi pemanas dan penghangat untuk tidak mati karena beku. Hanya untuk bertahan hidup saja kami bergantung pada hal yang masih bisa diingat untuk menghangatkan ingatan agar otak tidak beku. Karena satu satunya yang tersisa hanyalah kenangan, ingatan, dan segala yang kami simpan di kotak musik penghangat dengan kunci rapat yang tidak bisa dibuka kembali bahkan walaupun dengan kunci yang semestinya.

Kami sama sama berada dalam kebekuan yang tak lagi sama seperti saat kita bersemi. 3 hari lagi musim itu berakhir. Akan kami lewati musim dingin ini, musim keempat, musim terakhir dalam tahun ini. Akankah kembali bersemi musim yang kami cintai? Ataukah biarkan saja tetap beku kami disini, agar kenangan yang lalu tetap beku dan tak lagi kami sesali? Sungguh, aku hanya menuliskan seberkas tahap demi tahap dari musim ke musim yang kami lewati. Dan sungguh aku hanya berharap musim semi akan datang lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s