Teori Hanya Muncul Bagi Yang Percaya

Standard

Sedangkan untuk yang tidak percaya, akan muncul teori baru.

Banyak faktor yang akan mengubah cara pandang kita akan sebuah teori, yakni pengalaman dan keadaan. Memang saya sempat tidak percaya pada semua teori sampai akhirnya saya mentok tidak tau mau percaya apalagi. Kembali ke fitrah saja tidak cukup untuk mengisi hidup. Ketika hidup sendiri, akan muncul naluri egosentris dan individualistis. Namun ketika kembali berbaur dengan komunitas, kita akan dapat mengerti pelan pelan apa yang sedang atau telah kita pikirkan. Belajar dari kesalahan, mengkaji benar atau salah sudut pandang dan cara pikir kita.

Saya akan berhenti mengharapkan. Tapi saya tidak akan berhenti berharap. Mengharapkan akan membuat saya kecewa ketika harapan itu tidak tercapai, tapi berharap akan membuat saya kaya akan karya yang membuat harapan saya terwujud.

Saya akan berhenti memikirkan hal hal rumit dalam hidup, karena itu mempersulit hidup yang sebenarnya sederhana.

Saya akan berhenti terpuruk, karena membuat harapan saya semakin rumit menuju terwujudnya harapan itu.

Saya tidak akan berhenti membuat orang lain takjub, saya tidak akan berhenti memukau, saya tidak akan membiarkan pesona yang telah diberikan Tuhan menjadi pudar sia sia.

Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur.

Saya percaya, ada kebenaran dalam teori. Kebaikan di dalamnya. Tuhan adalah Maha Sempurna dari segala teori yang bisa terbantahkan. Saya akan selalu baik baik saja, karena setiap malam saya terpejam sambil mengucap doa saat kembali kepada-Nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s