Seni Menghibur dan Membohongi Diri

Standard

Tidak berhasil. Gagal total.

Itulah hasil yang akan Anda dapatkan ketika Anda sekalian mencoba mempraktekannya.

Entahlah, saya kembali kepada masa resesi dimana kepala saya berdenyut denyut gara gara memikirkan hal hal bodoh yang saya inginkan agar terjadi. Apa salahnya orang berharap? Tapi tidak ada orang yang menasehati saya,”Berharaplah hal hal yang bodoh,” semua pepatah mengatakan untuk,”Gantungkan cita citamu setinggi langit,”

Langit mana yang di maksud? Semoga ketika mengatakannya mereka sedang berada di lapangan. Karena ketika berada di kamar yang kita gantungkan adalah langit langit kamar yang paling tinggi antara 3-4 meter.

Tulisan tulisan penuh harapan dan penuh makna yang selama ini saya baca dan saya tulis kembali atau bahkan yang tersirat dan tersurat dari pikiran saya itu semua adalah kebohongan yang hanya membawa saya pada permainan kehidupan. Untuk apa saya harus percaya pada jalan pikir diri sendiri atau jalan pikir orang lain? Memangnya saya siapa? Mereka yang saya percaya juga siapa? Bukankah kita semua sama sama manusia yang tidak sempurna?

Kemudian yang terjadi adalah, saya mulai tidak percaya pada diri dan pemikiran baik dari diri saya maupun orang lain. Ide ide dan kata kata itu tidak lagi berhasil mempengaruhiku. Saya membutuhkan lebih dari sekedar permainan kata kata dan pemikiran tanpa tindakan. Buat apa otak ini produktif menghasilkan pemikiran pemikiran yang saya bahkan tidak mengerti bagaimana cara melakukannya.

Briliant. Pada satu titik, otak akan membawa segala pemikiran dan perkataan kita pada apatisme dan atheisme. Ironis.

Pada dasarnya, inti menulis adalah mengeluarkan segala pikiran, mencatat sejarah. Sejarah kelampun tertulis di dalamnya. Tapi saya tidak suka menulis secara gamblang serta merta apa yang sedang terjadi dan apa yang sebenarnya terjadi. Lebih banyak tulisan tersirat penuh makna yang tidak diketahui siapapun. Apa namanya? Berbohong.

Siapa yang dibohongi? Diri sendiri. Siapa di dunia ini orang yang suka rela menjadi korban sakit? Tidak ada. Apakah pembalasan yang bisa dilakukan oleh orang lemah tak berdaya, tergolek, sekarat, dan besok mati? Tidak ada. Hanya segumpal harapan dan pemikiran pemikiran tak terungkap. Posisikan saja lah saya ada di posisi si pesakitan, saya tidak bisa mengungkapnya, kemudian menuliskannya. Karena tidak punya keberanian, karena saya besok masih hidup, masih ada resiko yang saya tanggung jika saya menuliskan apa yang sebenarnya terjadi. Maka saya hanya menulis secara implisit. Tapi kenyataan yang sebenarnya selalu menjadi hantu di benak saya. Alangkah pintarnya seni yang bisa menyembunyikan kenyataan, mengecoh penikmat seni, memecah belahnya menjadi ratusan makna yang bebas diintrepretasikan setiap sudut pandang dari jutaan umat manusia di dunia.

Tulisan tulisan yang menghibur dan membohongi diri, sejuta penghormatan saya haturkan. Saya muak menjadi peduli. Saya muak menjadi tempat kembali orang yang melanglang buana tak tentu arah. Saya bukan kampung halaman kehidupan insan insan yang mencari jati diri, ketika mereka merasa berhasil mereka tak mau kembali, ketika mereka merasa gagal mereka pulang menguatkan diri. Apa arti seorang saya bagi dunia? Apa dunia peduli ketika kekecewaan saya menjadi jadi, bercerita betapa tak adilnya dunia kepada insan insan tersebut, adakah yang peduli? Saya muak dengan kepedulian yang mereka berikan hanya untuk kebaikan semu dan pengharapan akan kembalinya kebaikan tersebut berlipat lipat dari orang yang sama. Bersyukurlah kalian karena saya bukan Tuhan, kalau saya Tuhan, hari yang tlah lalu sudah saya jadikan kiamat.

Saya bukan lampu pijar yang menerangi ruang kosong. Kalian datang saat nyala lampu pijar dan membiarkan menyinari kalian sampai matahari datang. Matahari menggantikan sinarku dengan kuasanya yang lebih dahsyat, kalian membiarkan lampu pijar meredup kemudian mati. Membiarkannya berhari hari, selang waktu berganti, hingga kalian membutuhkan lalu kalian menyalakannya lagi.

Hentikan. Hentikan saya bilang. Saya tidak tahan lagi.

Berhentilah mengasihani diri kalian sendiri. Saya muak membuat kata kata penyemangat yang mengecoh, membohongi kalian dengan kenyataan bahwa kalianlah yang tidak adil pada dunia sehingga dunia terlihat tidak adil. Kalian baik baik saja. Tidak ada yang perlu ditangisi dan dikasihani. Tidak ada, kembalilah pada Tuhanmu. Percayalah pada Tuhanmu.

Jika saya berkata, semua akan baik baik saja setelah kalian melakukannya. Maka kala itu saya berkata jujur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s