Celetak Celetuk – Part 2

Standard

Postingan yang belum selesai kemaren dikarenakan perpusnya tutup, padahal aku udah PW duduk disana sambil memanfaatkan fasilitas kampus yang tiap bulan bayar mahal itu. Jam 4 udah tutup. *muka datar*

Jadi perenungan saya kemaren sampe mana?

1. Karma

Saya pernah ditanya sama sahabat saya tentang karma. Jawaban saya kala itu adalah bahwa karma itu hanya datang dan menimpa pada yang percaya. Saya tidak. Suatu waktu saya merasa tertohok atas ucapan seorang rekan kepada saya akan apa yang dia doakan kepada saya agar saya merasakan apa yang terhadi padanya karena saya. Dan cobaan bertibi tubi datang kepada saya. Saya balik bertanya kepada sahabat saya, dan jawabannya membuat saya move on. Dia mengingatkan saya akan jawaban yang saya lontarkan kepadanya kala itu. Memang ya sahabat itu sangat amat berarti. Makasih ya J

Dulu saya juga bingung perihal karma, saya seperti melakukan semacam survey atau melontarkan pertanyaan kepada beberapa teman. Ada yang berkata tidak percaya, ada yang percaya, dengan berbagai alasan. Ada yang percaya mentah mentah, ada yang tidak percaya dengan alasan di Al Quran karma tidak disebutkan, ada yang tidak percaya dengan alasan lebih percaya pada hukum tabur tuai à barang siapa menabur benih dia yang akan menuai hasilnya.

Orang yang sedang terpuruk akan lebih susah dalam menerima hal hal yang dijelaskan panjang lebar oleh orang normal. Padahal kadang orang normal saja mendengarkan hal hal yang panjang lebar juga tambah puyeng, apalagi yang lagi terpuruk. Bisa bisa malah tambah terpuruk. Bersyukur saya percaya bawa Allah menangkap saya ketika saya jatuh, merengkuh saya ketika saya butuh, mencintai dengan segala cinta yang tidak bisa diberikan oleh makhluk manapun di muka bumi ini. Segala penjelasan soal karma tidak lagi saya pedulikan, apapun yang diusahakan oleh orang lain untuk menjatuhkan saya, asalkan Allah bersama saya, semua bukan masalah lagi.

 2. Anak saya besok kayak gimana?

Masih jauuuuh kalii… Tapi belakangan saya menyadari bahwa ibu dan ayah saya berjuang dengan kerasnya untuk mendidik saya menjadi seperti sekarang ini. Dulu, seringkali saya menyepelekan, meremehkan, bahkan tidak mematuhi apa kata orang tua. Dosa. Iya saya tau, tapi waktu itu saya belum sadar. Sekarang setelah saya sadar saya jadi takut dan berpikir bagaimana besok saya akan mendidik anak anak saya supaya bisa seperti saya atau bahkan lebih lebih baik dari saya. Yang saya tau, anak itu 7x dari orang tau. Entah baiknya, entah buruknya. Kalo saya saja yang hitam begini, akankah anak saya 7x lebih hitam dari saya? Ya Allah…tolong ampunilah dosa anakku.

3. Sombong

Bagaimana sih dibilang sombong atau tinggi hati itu? Orang yang iri hati seringkali merendahkan lawannya dengan,”orang itu sombong”. Entah apa maksudnya. Saya tidak mengerti bagaimana orang orang itu bisa berkata orang yang lain sombong, bahkan mereka tidak kenal sama sekali. Atau orang menyalah artikan karakter orang lain sebagai orang yang sombong, apa definisi sombong itu objektif atau subjektif?

Dewasa ini saya semakin tidak mengerti pemikiran dan sudut pandang beberapa orang. Ketika saya berusaha objektif, mereka tidak sejalan dengan saya. Apa saya yang kurang objektif atau mereka yang subjektif? Saya selalu minta petunjuk kepada orang yang lebih mampu, namun hasilnya tetap tidak memuaskan. Pada akhirnya seorang sahabat berkata kepada saya, kepada siapapun yang kau tanyai mereka bukanlah hakim yang mampu membenarkan segala ucapannya. Hanya Tuhan yang mampu membenarkan dan mengadili mana yang objektif ataupun subjektif.

Tapi perlu digaris bawahi, bahwa Tuhan tidak termasuk dalam anggota kelompok kami, Tuhan bukan anggota organisasi kami, bahkan Tuhan yang kami sembah berbeda. Semua agama mengajarkan kebaikan, tapi baik yang bagaimana yang sama? Ada yang menurut mereka baik tapi menurut saya itu bukan jalan pikiran saya ( ini bukan dalam konteks ajaran agama secara mendetil, hanya secara universal ). Apakah semua orang benar benar mengerti nilai kebaikan yang diajarkan agama dan bisa mengaplikasikannya?

Saya bukan ahli agama, saya juga tidak sempurna, kalaupun saya sombong coba kita sama sama koreksi, itu karakter saya, cara berpikir Anda, atau memang yang sebenarnya?

Apa yang bisa kita sombongkan? Bahkan udara yang kita hirup saja bukan milik kita.

4. Bahagia

Saya tidak pernah bisa mendefinisikan bahagia lagi. Dulu apapun yang membuat saya tertawa itulah yang saya sebut bahagia, terlihat bahagia dan sempurna di foto, merasa aman dan nyaman dengan teman teman, prestasi, itulah bahagia. SMA. Itulah bahagia. Setelah masuk ke dalam kehidupan kuliah, kata bahagia itu sangat jauh jika definisinya seperti itu. Bahkan saya sangat amat jauh dari kata bahagia. Terpuruk.

Bahagia yang dulu itu bisa saya dapatkan secara cuma cuma, rasanya sekarang kebahagiaan itu mahal harganya. Saya bahkan tidak mampu membelinya kalau tidak menabung dulu. Bahkan kadang kebahagiaan harus saya dapatkan dengan mengarungi jarak, waktu, dan air mata. Berlebihan? Tidak, saya serius. Mungkin karena saya merasa saya sudah dewasa, semua yang kita inginkan harus melalui sebuah proses sehingga apa yang kita tuju menjadi tujuan yang sempurna seperti yang kita inginkan.

Saya tidak tau apa arti tangisan dari bayi yang baru saja lahir. Apa dia menangis kesakitan? Tangisannya meledak, padahal harusnya dia tertawa bahagia karena pada akhirnya dia bernafas lega dan bisa menghirup udara segar. Atau mungkin dia menangis karena rahim ibu jauh jauh jauh lebih nyaman, aman, tentram dibandingkan kehidupan dan realita sosial?

Tapi mana bayi seumur itu mampu berpikir sampai sejauh itu? Apa dia menangis bahagia? Saking bahagia sampai tangisnya meledak?

Saya tidak bisa memikirkan lagi definisi bahagia. Tapi saya bahagia. Saya bahagia melalui semua ini dengan sadar. Belajar banyak hal tentang arti menyesal dan menyadari. Belajar banyak hal, dan mengerti apa yang saya pelajari, apa yang telah saya lalui, mengerti. Semua hal yang pada akhirnya saya mengerti, membuat saya bahagia.

Saat saya menulis ini, saya sedang berada di Jogja dan baru pulang dari Magelang. Bayangkan berapa kilo yang saya tempuh, waktu, dan energi yang memang saya luangkan untuk mengembalikan kebahagiaan yang saya definisikan dulu. Dan ini adalah final kebahagiaan yang saya cari, meyakinkan diri bahwa definisi itu sudah berganti sesuai dengan keadaan. Dan dewasa ini, kebahagiaan tidak bisa datang begitu saja hanya dengan kita diam dan berharap. Tapi kitalah yang mencari dan mewujudkan kebahagiaan itu. Harus ada pengorbanan di setiap kebahagiaan. Maka, korbankanlah kesedihanmu untuk kebahagiaanmu.. Selamatkanlah kebahagiaanmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s