Celetak Celetuk

Standard

Belakangan ini banyak sekali yang mau saya tulis tapi nggak sempet ketulis, udah nyabang nyabang di kepala ini sampe kayak pohon beringin yang udah tua, banyak akar akarnya, cabangnya kemana mana, sampe kayak jenggot Osama Bin Laden. *menghela nafas sejenak*

Baiklah tidak mau panjang lebar keburu banyak lagi yang saya pikirin. Langsung saya tulis random things yang belakangan kepengen saya tulis yah.

1. Nongkrong dan ngopi.

Weittss, mungkin saya bakalan diserempet sama temen temen yang hobinya nongkrong dan ngopi. Saya juga termasuk sih di dalamnya dalam garis bawah itu dulu waktu saya nggak ada kerjaan. Waktu nunggu dapet kampus, jadi ya luntang lantung nggak jelas. Yang saya heran, kenapa mahasiswa dan mahasiswi seangkatan bahkan bapak bapak, atau adik kelas saya suka melakukan hal yang tidak begitu bermanfaat dan cenderung menghabiskan waktu. Okelah bisa saja brainstorming ato refreshing, tapi.. err tetep aja kok menurut saya itu kurang produktif ya. Daripada nongkrong dan ngopi kenapa nggak bersihin kamar, silaturahmi ke rumah guru TK, ngerjain PR tetangga yang masih SD, ato siskamling. Kayaknya itu lebih……lebih kurang ya sama saja. Karena bagi saya ngopi dan nongkrong itu cenderung berhubungan dengan 1) malam, 2) rokok, 3) gosip. Walaupun sebagian teman teman saya pamitnya pergi ngopi padahal yang diminum es cendol atau es teh sih. Tapi mereka begadang malem malem, cuma demi nongkrong dan ngopi kok rasanya menghabiskan sisa umur ya. Maaf buat yang tersinggung, tapi hak untuk berpendapat dan hak untuk ngopi atau nongkrong itu berbanding lurus kok.

Saya heran saja, masa muda adalah masa yang berapi api <—— apakah maksudnya ketika muda saya harus membakar diri? Atau ngaben hidup hidup? Mungkin yang dimaksud adalah masa muda adalah masanya untuk bersemangat. Mari kita luruskan. Semangat dalam hal apa, hayo? Apakah dalam hal bermalas malasan dan menjadi tidak produktif? Apakah dalam hal mencari cinta? Apakah dalam hal menemukan nilai diri? Atau apa?

Kalo ini ditujukan buat berapi api dalam hal ngopi dan nongkrong, saya jelas tidak setuju. Dan parahnya, banyak orang yang bangga ketika mereka ngopi dan nongkrong di pinggir jalan, sambil ngeliatin orang berlalu lalang. Hmm.. *menghela nafas*

2. Allah itu Maha Adil, kita yang tidak adil. Tidak mendekati adil sama sekali, bahkan.

Pernahkah kalian berfikir dunia ini kejam, nggak adil. Saya tepekur abis sholat, duduk seolah olah sedang bicara sama Tuhan. Banyak pikiran berkecamuk, bagaimana Tuhan bisa begitu adil tapi banyak orang merasakan ketidak adilan. Banyak orang kehabisan pulsa sementara anggota DPR dapet anggaran dana beli pulsa 14 juta per tahun. Banyak yang hidup hedonisme sementara rakyat kecil masih tinggal sama kambing. Buat manusia manusia yang merasa kurang dan berpikir dunia itu kejam dan tidak adil, itu memang benar. Mereka tidak bisa melihat dari sudut pandang mana mereka bisa tidak mendapatkan keadilan. Kemudian mereka menyalahkan Tuhan. “Tuhan tidak adil!”, begitu seru mereka.

Apakah Tuhan yang memberikan anggota DPR anggaran dana 14 juta per tahun untuk beli pulsa? Apakah Tuhan berlaku hedonisme? BUKAN. Bukan Tuhan yang tidak adil, tapi kita para manusia yang memperkaya diri dan bersikap tidak adil kepada sesama. Boro boro terhadap sesama, terhadap Sang Pencipta saja kita tidak mendekati adil sama sekali. Mau bukti? Oke, pernahkah ini terjadi di kehidupan kalian sehari hari? Ketika adzan berkumandang, dan hp berdering entah itu notif sms, bbm, atau telepon, mana yang kalian dahulukan? Ambil air wudhu dan segera sholat atauu…mengambil handphone?

Pertanyaan di atas saya maksudkan sebagai rethorical question, pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. *benerin kacamata*

3. Rasisme.

Saya tidak pernah mengira rasis itu benar benar terjadi loh sampai saya mengalaminya sendiri. Seorang sahabat bercerita bahwa untuk menerima saya sebagai bagian dari dalam hidupnya membutuhkan proses dan dilema. Saya cukup terkesan dengan apa yang dia katakan, tidak mudah bagi setiap insan di dunia ini yang berlaku rasis mengakuinya. Saya bangga dan mengapresiasi kejujuran dan kebesaran hatinya. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia itu berbeda beda supaya kita saling mengenal, begitu kata Al Quran. Dan, terbukti janji Allah itu nyata. Kami saling mengenal, dan…*senyum* bersahabat.

4. Berbesar hati.

Menjadi orang yang berbesar hati itu tidak mudah, menerima kekalahan, mengakui bahwa dirinya lemah, itu berat. Segala kekecewaan yang saya terima awalnya membuat saya terpuruk sampai saya tersadar semua ini hanyalah kuasa Allah untuk menaruh saya di tempat yang lebih tinggi. Segala cobaan ini hanyalah hadiah dari Allah untuk menjadikan saya lebihi kuat. Kenapa saya bisa tidak percaya pada diri saya sendiri dan terpuruk sementara Allah begitu yakin saya bisa melampauinya dengan memberikan cobaan bertubi tubi? Allah tidak mungkin memberikan cobaan kepada hambaNya di luar kapasitas yang bisa dijalani. Dengan tenang saya menjawab semua ini, dengan pelan saya bisa melalui, dengan sabar saya bisa belajar dari pengalaman dan pelajaran ini. Allah yang telah menyiapkan semua ini untuk saya, jauh..jauh sebelum saya diciptakan. Allah telah menuliskannya, dengan segala kesempurnaan rencanaNya. Apa sih arti kita dengan semua rencana kecil kita? Jalani saja, pasrahkan, serahkan, ikhlaskan.. *ngelamun*

Lampu perpus dimatiin nih, aku lanjutin nanti malam aja yaaahhhh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s