Fly Me To The Core

Standard

Ini sudah berhari hari saya melalui hari hari sendiri sepeninggalmu. Masih kerasa ati yang nyut nyutan gara gara semuanya. Kuliah kocar kacir. Tapi pada intinya seluruh keluarga mendukung patah hati ini. Haha.

Keluarga saya merasa bersalah dan bertanggung jawab atas status sosial yang dibuat oleh para pendahulunya. Sehingga menyebabkan orang orang yang dekat dengan saya minder. Jika saya patah hati dan kuliah saya kocar kacir menyebabkan kuliah saya tida berjalan dengan baik, ibu menyuruh saya untuk tidak memaksakannya dan tetap berbahagia.

Ibu saya akan memperjuangkan apa yang menjadi kebahagiaan saya. Walau pasti sulit mengembalikan hati anaknya yang sudah hancur sehancur hancurnya, melepas gengsi, menjatuhkan harga diri, demi orang yang dicintai.

Maka saya sebagai anak yang tau diri pun mengambil keputusan untuk mengulang semua kehidupannya. Berjauhan dari kehidupan yang pernah dilalui, berpamitan kepada kehidupan yang telah saya lalui hingga mengantar saya ke kehidupan saat ini.

Bahkan mengantar saya ke penyakit asma yang disebabkan oleh sakit hati yang terlalu dalam. Seandainya saya ini lebih pintar mengatasi stress dan emosi, mungkin saya tidak akan seperti ini. Rasanya saya masih belum rela melepas apa yang saya punya. Tapi menggenggam kehidupan nyata itu seperti membiarkan pecahan kaca menusuk nusuk tubuh kita. Apa daya melawan karena sudah terlalu lemah, satu satunya jalan ya pergi dari tempat itu agar tidak terkena pecahan gelas yang kita pecahkan sendiri.

Teman teman bertanya akan kabar saya yang begitu munafik menampik semua masalah tidak terjadi. Menutup dengan senyuman dan tawa riang. Setelah mereka pergi, hati ini semakin sakit dan menangis lagi. Setiap hari saya lalui antara tangisan dan kesakitan. Mau apa? Meraung raung saja orang yang saya cintai juga tidak peduli kok.

Duh kasian sekali perjuangan orang yang mencari jodoh ya, harus mendaki gunung lewati lembah dan sungai yang mengalir deras ke samudera. Weleh, saya jadi berasa kayak ninja hatori yang mulai beraksi membawa anak anak bermain di taman.

Hahaha.

Sekali lagi, itu tawa palsu. Bohong, bohong, bohong.

2 responses »

  1. is it true dear??

    well,thats life,so bittersweet.keep ur chin light up,,^^
    saya juga pernah merasakannya. perbedaannya,saya yang berada di posisi”minder” itu.u know what i meant,,^^
    memang sakit saat apa yang telah kita perjuangkan sedemikian rupa harus break out karena masalah,yang kalau menurut saya sih,tidak terlalu signifikan.bukankah ini adalah perasaan kita,tentang kita,bukan tentang mereka,apalagi status keluarga kita.

    sayang sekali tidak banyak orang yang berpikir seperti saya.bahkan saya sendiri juga tidak bisa berpikiran se-open minded itu 4 tahun yang lalu. 1 hal dalam hidup saya yang masih saya sesali sampai saat ini dan kadang menyebabkan efek samping berkepanjangan.

    tapi sekali lagi sayang,thats life. kadang so unfair,but we should let it go,,(padahal bohong sekali kalau saya bilang saya sudah ikhlas let him go and happy with his life,while im crawling alone through my tears,,)

    • iya mbak itu bener
      tapi nggak apa apa kok, dia sudah punya pacar lagi, udah seneng seneng.
      masak aku mau maksa dia buat suka sama aku.
      yawis aku nangis nangis dewe ae huhuhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s