Monolog

Standard

Cerita ini telah sering didengar oleh banyak khalayak. Tentang apa apa yang kita bicarakan tentang seandainya. Kalimat yang dibenci karena tidak terjadi. Kita telah berjuang mendapatkannya dan mempertahankannya, tetapi kemudian kesalahan kembali terjadi.

Dan kita sama sama mengetahui, manusia tak sempurna. Membuat kesalahan dan terus membuatnya. Mengulanginya untuk ke sekian kalinya. Dengan penuh maklum berusaha memaafkannya. Terus saja kesalahan terjadi dan hidup semakin tak sempurna.

Kami dibela, kami dicerca. Kata per kata terlontar mengisahkan sebuah cerita. Mulai dari waktu maghrib, menjelang fajar.  Caci maki terus terjadi, hentakan, bentakan tak terhindari. Kita saling beradu menunjukkan kebenaran yang fana, merasa telah sanggup menciptakan pengaruh tanpa efek samping yang berbahaya.

Padahal di balik sandiwara, kami berdoa untuk bisa saling mengasihi, berbicara tentang masa depan yang belum terjadi. Dan dengan waktu singkat menghancurkan impian hingga menjadi takkan pernah terwujud.

Tidak ada kata seandainya dalam kehancuran, yang ada hanyalah puing puing nestapa yang berceceran bercampur derai air mata. Suara parau melantunkan penyesalan dan bait bait syair keluhan akan perbuatan mereka.

Cinta itu terkubur dalam sebuah pusara yang ditaburi bangkai tanpa bunga dan sesajen. Tanpa doa. Dan orang orang meninggalkan tempat itu penuh cemooh berisi pengkhianatan, perselingkuhan, kebohongan, dan problematika kehidupan dalam bentuk dramatis. Tragis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s