Koma

Standard

Aku koma di alam bawah sadarku. Ya, aku masih terus menulis di kehidupan nyata. Tapi aku tidak mengerti dimana harus kuletakkan titik untuk mengakhiri tulisan ini.

Sama seperti menuliskan antara ketidaktahuanmu dengan ketidak-ingin-tahuanmu. Menerima mentah mentah informasi tanpa mengolahnya. Aku memberimu rasa sakit, dan kau menelannya kesakitan. Aku bersalah membuatmu sakit, dan kau menyakiti diriku dengan sakitmu.

Tidak sama seperti mempertahankan baju yang dipakai ketika basah kuyup. Kau tak akan melepasnya karena kau tak mau telanjang dan kau tak mau memakainya karena kau tak mau masuk angin.

Lalu kau nyalakan api, menghangatkan dirimu di sekitarnya hingga kau tiada lagi terjaga.

Kau tidak tau api berkobar, kau terlelap. Api melahapmu dan sekelilingmu. Lalu kau mati.

Aku bisa memberi titik pada cerita itu. Tapi bagaimana aku bisa memberi titik pada cerita yang tidak ingin ku akhiri? Pada cinta yang tidak ingin ku sudahi?

Pada hakikatnya, cinta adalah pengorbanan. Jika mengakhirinya merupakan bentuk cinta dan ketulusan. Maka kuberikan sebuah titik untuk menyudahi koma berkepanjangan, yang akan menggerus hati dan pikiranku, untuk cinta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s