Regenerasi

Standard

Halooo.. Belakangan saya rajin sekali ya menulis lagi. Hihi. Lama lama blog ini sudah seperti buku harian. Tapi memang saya berniat begitu kok, membuat sejarah tentang kehidupan saya sendiri. Semacam autobiografi lah, tapi dalam bentuk lain. Topik bahasan kali ini adalah kekuasaan.

Emang enak ya jadi atasan, bisa nyuruh nyuruh, bisa merintah, ngelakuin yang dia mau, dapet apa yang dia inginkan. Mungkin sedikit melebar, tapi memang susah menjelaskan tentang kenikmatan yang didapatkan sang penguasa. Merasa dihormati atau dihargai, dan tidak mau turun dari jabatan. Contohnya saja Presiden Libya, Nurdin Halid, dan satu lagi siapa saya lupa. Lha kok yang besar besar, di lingkungan saya saja ada yang seperti itu. Saya ceritakan sedikit tentang pengalaman saya.

Saya bergabung dengan sebuah organisasi pada tahun 2009. Disini saya sama sekali tidak tau bagaimana cara kerja organisasi tersebut. Yang saya lihat adalah senior senior saya begitu mendominasi, seakan tidak percaya kepada juniornya akan apa yang bisa kita lakukan. Setelah even di 2009 saya tidak lagi bergabung secara langsung dalam organisasi tersebut karena saya tidak sepaham dengan cara kerja organisasi tersebut. Bukan salah organisasinya, bukan salah saya saja. Ini masalah prinsip. Lama tidak terdengar kabarnya, organisasi tersebut selalu baik baik saja bersama senior senior yang sudah profesional di bidangnya. Kemudian suatu hari terpilihlah junior junior baru yang seharusnya meregenerasi para senior tersebut. Menurut teori deontologinya nih ya (berkat kelas entrepreneurship sekarang kalo ngomong pake teori), senior akan mengajari para pemula, dan mereka bisa bekerja sama untuk mengembangkan dan memajukan organisasi tersebut. Namun kenyataannya, muncullah celetukan yang diakibatkan ketidak sukaan para senior terhadap para junior yang baru saja terpilih, “Biarkan mereka yang terpilih, tapi tetap kita yang bekerja”

Saya mikir, kok lama lama ini cara kerjanya sama kayak pemerintah ya. Kapan bangsa ini bisa maju kalo yang muda saja tidak dibina, tidak dipercaya, tidak diberi kesempatan untuk meregenerasi dengan sistem yang baru. Mama saya selalu berkata tetang pendapatnya agar bangsa ini tidak bobrok lagi,”Coba kalau dipotong satu generasi, ditumpas habis generasi yang lama dan membuat generasi baru, memang sulit start over, tapi lebih sulit lagi bertahan pada kebobrokan yang sudah terjadi”

Got the point?

Tafsirkan sendiri ya, saya mau berangkat kuliah. UTS cuy.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s