Another Garing Story..

Standard

Setiap ngomong sama orang orang yang nggak sepadan selera humornya rasanya hati saya perih. Pengen cepet cepet pergi, nangis, mual, muntah, jadi satu disitu. Aneh aja gitu ada bareng sekumpulan orang yang lagi ngomongin sesuatu yang kita nggak tertarik. Menjadi minoritas dalam suatu bahan pembicaraan, rasanya nggak enak. Trust me. Yang bisa dilakuin adalah, ikut senyum kalo mereka lagi ketawa kebahak bahak, ikut pasang tampang serius kalo mereka mulai masuk topik bahasan yang serius.

Swear, ini adalah kondisi yang paling nggak enak kalo kalian mau tau. Menjadi bagian dari pembicaraan yang GARING dan JAYUS. Oh please.

Yang pernah saya baca kalo nggak salah di blognya Jeannie Kristine Barata, berbicaralah pada orang yang mengerti pikiran Anda ( maksudnya sepaham gitu) dan jangan berbicara kepada orang orang yang tidak mengerti apa yang Anda bicarakan. Masalahnya, cara agar  kita bisa tau mereka mengerti atau tidak apa yang kita bicarakan kan ya dengan bergabung dulu sama mereka, kemudian muncullah hal hal yang saya sebutkan di awal postingan ini.

Entah bagaimana, tapi faktanya seringkali orang melihat saya seperti orang aneh. Ya memang walaupun saya benar benar aneh melebihi batas kewajaran manusia, tapi saya rasa saya tidak pantas diperlakukan seperti itu. Atau saya saja ya yang takut membuka diri kepada orang lain karena perasaan takut tidak diterima. Ya apapun alasannya, saya masih merindukan masa masa ketika semua orang menghargai saya sebagai manusia apa adanya yang bisa terluka dan ingin bahagia. Diperlakukan secara adil dan sama seperti orang lain memperlakukan orang lain pula. Memanusiakan manusia lainnya, itu istilah kerennya. Entah keren dari mana, ya daripada nggak ada keterangan lain, saya tulis saja itu.

Tapi belakangan project saya berjalan adem ayem (di dunia saya). Di dunia anggota kelompok saya yang lain mungkin sudah mau roboh, tapi saya sedang menikmati masa masa dihargai oleh sebuah kelompok kecil. Saya menghargainya teramat sangat. Pernah saya baca Jodie Foster mengatakan, ” Jika kau tidak menemukan tempat di duniamu, ciptakan dunia kecilmu sendiri “. Entah sejak kapan dunia kecil ini terbentuk, tapi saya percaya Allah telah memberikan saya anugerah berupa teman teman yang mau menerima saya apa adanya.

Semoga dengan demikian kegaringan demi kegaringan bisa saya lewati dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya.

Soerabaja , 26 Maret 2011

Atas Nama Diri Sendiri

Melva Sabella

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s