Tugas? Gue Jabanin!!

Standard

Belakangan ide datang dan pergi begitu saja dalam hidup saya. Ide untuk menulis ini dan itu secepat kilat datang dan melesat. Nggak kurang kurang rasanya inspirasi di dekitar saya, bodoo gitu saya biarkan inspirasi inspirasi itu gone with the wind. Saya bener bener gatel pengen nulis semua uneg uneg di pikiran saya yang sudah berasa gempa tektonik dalam kepala dan tak lama lagi akan mulai erupsi. YES, I THINK I’M GONNA EXPLODE! DUARRRR!

Apa ya kira kira isinya kalo saya meledak? Well itu nggak penting. Bahan tulisan saya kali ini adalah pemikiran saya tentang tugas tugas saya yang membuat saya stress. Pentingkah dibahas? Let’s see seberapa penting.

Saya bukan tipe anak rajin yang dengan rutin mengerjakan tugas yang diberikan dosen seusai kuliah. Membiarkannya, memikirkan kapan akan dikerjakan, dan mencari inspirasi atau bahan untuk menyelesaikannya itulah yang saya lakukan selama saya tidak mengerjakannya. Ketika saya mengerjakannya, apakah proses pengerjaan tugas saya akan berjalan dengan mulus? Tanpa HBO yang nyiarkan “The Curious Case of Benjamin Button”? Tanpa MTV yang membiarkan kita melihat betapa beruntungnya remaja umur 16 tahun yang sudah hamil? Tanpa Starworld yang menampilkan kasus kasus terbaru dan menarik dari cerita “Castle 2”? SUSAH.

Ditambah lagi apakah tanpa BBM yang on 24 jam 7 hari seminggu dan 30 hari sebulan? PING!! PING!! Seandainya saja ketika hal hal yang membuat saya ngehang itu ada alat buat PING remote servernya, mungkin saya akan dengan rajin mengePING syaraf pusat otak saya agar selalu fokus.

Saya selalu memberi motivasi pada diri sendiri, “you can do it” saya baca berulang ulang tapi tetap saja dengan rasa takut akan konsekuensi jika saya tidak bisa mengerjakannya. Saya memberi sugesti positif pada diri saya seolah saya akan mematikan dan menumpas habis sampai punah tugas tugas tersebut. Namun entah kebiasaan atau karena kesibukan (kesibukan bermain main dengan BB atau TV) terbiasa menunda pekerjaan membuat yang saya pikirkan tentang beberapa pekerjaan sekaligus berada di otak saya terlalu lama. Hal yang seharusnya sudah saya kerjakan dan tidak lagi menjadi pikiran saya justru mengganggu dan menghabiskan waktu saya dalam jangka waktu yang cukup lama sampai akhirnya saya menyelesaikan tugas tugas tersebut.

Saya tau, Allah benci kalimat pengandaian. Tapi saya seorang penulis, tanpa kata andai rasanya kurang kosa kata yang saya bubuhkan disini. Liat saja tanpa kata andai, postingan ini bagaikan garam tanpa sayur.

Andai saya tidak menunda pekerjaan pekerjaan tersebut, andai saya tidak memikirkan pekerjaan pekerjaan tersebut, andai dosen memberikan tugas yang harus dikerjakan pada saat itu sehingga tidak ada lagi tugas yang take home, andai starworld menayangkan film tentang motivasi belajar yang ces pleng, andai mata kuliah itu ditiadakan, anda pak ciputra tidak membangun kampus saya..

Pasti saya tidak akan sekarat dengan tugas tugas yang “work in progress” kalo dalam bahasa cost managementnya.

Sayangnya ketika postingan ini saya tulis, Brad Pitt tidak homo dan Jay Chow bukan vegan, sehingga saya masih menjabanin tugas tugas dengan pikiran melayang kesana kemari mencoba untuk konsentrasi dan tidak loncat loncat dari tugas satu ke tugas yang lainnya.

Semoga dari waktu ke waktu, saya bisa lebih semangat dan fokus dalam menjalani keseharian yang harus dilakukan. Karena ini PENTING untuk diperhatikan.

PENTING, ingat itu? Semangat, Melva.. Tomorrow is second chance.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s