Get The Hell Out of My Head

Standard

Back back back.

Kembali lagi menulis setelah sekian lama blog ini terpuruk dalam kegalauan yang berkesinambungan. Halah. Semenjak saya galau terakhir kali (baca postingan postingan sebelumnya) belum pernah lagi saya mulai menulis. Sudah banyak ide yang numpuk saking numpuknya sampe bingung mau nulis yang mana, akhirnya nggak ada satupun yang ketulis.

Semenjak itu tentunya banyak banget cerita cerita yang nggak sempet aku ceritain disini. Masih inget cerita tentang cewek yang hendak pulang ke Rahmatullah (obsesi jadi Song Hye Kyo di Endless Love)? Yang aku berusaha nyelamatin hidupnya (obsesi Manohara di MNC TV)? Nggak inget. Forget it. Belakangan aku udah ilfeel sama itu cewek, dibaekin, nggak tau diri. Hmm.. sekarang dia udah bersenang senang sama temen temen barunya yang entahlah bagaimana kualitasnya. Bener, semua orang punya kekurangan kelebihan, cantik pinter kaya populer, nggak menjamin kepribadiannya KW 1 ato desimal. Kalo diibaratkan emas ya emas muda lah o,3 gram karatan bukan 24 karat. jadi karena saya sudah kehilangan feeling untuk merengkuhnya berteman jadi sama sama lebih baik, saya putuskan untuk nggak lagi berkomunikasi. Mulai dari hapus bbm dan ngeblock facebooknya dia, also unfollow dia di twitter. Itu lebih baik daripada dia nggak nyaman dengan ketakutannya akan kebohongannya. Ya, bagus kan? Itu cerita pertama.

Cerita kedua.

Masih inget award terakhir yang aku kasih waktu ulang tahunku?

Orang itu kalo diibaratkan ya aku versi cowok. Labil person. Unstabile. Dalam beberapa hari bisa berubah dengan cepatnya, suatu malem dia cerita. Dia bilang dia bakalan nunggu aku sampe mantepin hatiku, apapun yang terjadi dia akan tetep sayang sama aku. Walopun kenyataannya aku sudah punya pacar. Kemudian 3 hari kemudian facebook saya di remove sama dia. Bagus. Jempol 5. Yang satu jempol tetangga. Dia bilang dia capek nunggu aku. Wow. Oke daripada dia kasihan, saya nggak maksa dia buat sayang sama saya maka saya bantu dia melupakan saya dengan ngeblock facebooknya dia. We’re done on facebook.

Cerita ketiga.

Saya baru saja selesai pindahan. Dari kos kosan ke apartemen. Keadaannya bukan semakin bagus. Berat badan saya turun 3 kilo akibat saya nggak bisa masak. Pola hidup tidak sehat mengakibatkan stress berat. 1. Nggak bisa tidur, memanage uang gimana caranya biar hemat buat bayar listrik dan segalanya. Gimana caranya bisa nabung dan beli banyak barang keperluan sesuai dana yang dipunya tanpa harus minta mama. Di apartemen yang baru jadi, signal simpati jelek. Kalo simpati aja jelek, gimana dengan SMA*T? Ya, anggap aja dia jadi S*UPID. Saya nggak ada koneksi internet, otomatis gimana bisa update tugas dan ngeblog? Far away dari peradaban. Walaupun hidup di jaman modern dengan sebalok bold 9000 yang supposed to be digunakan buat keep in touch sama network, kadang kadang yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Contohnya? Status bbm nggak bisa diupdate, twitter nggak bisa dipake, blekberi app world is not working, apalagi yang bisa dilakukan oleh gadis kecil dengan berat 40 kg —  ( minus minus ) selain sabar?

Cerita keempat.

Kuliah adalah hal yang penting. Maka dari itu dengan berbagai macam kestressan akibat, jauhnya pacar, melambungnya harga kedelai, cuaca yang tidak menentu, mahalnya harga mi lidi di kampus, dan rambut rontok harus bisa dikesampingkan. Karena hal hal tersebut bisa mengganggu konsentrasi belajar di kampus. Apa yang harus dilakukan kalau ketidakbisakonsetrasian akibat berbagaimacamstress tersebut telah terjadi dan mengancam kelangsungan pendidikan seorang gadis? Les. Mungkin beberapa dari kalian akan bertanya? Hello, ini sudah pada mahasiswa udah nggak jamannya les, tapi ngasih les buat anak anak. Tapi faktanya, tanpa les saya bisa berbentuk seperti lampu neon yang ketiup angin. Keliatannya terang, tapi kesenggol dan kena goncangan sedikit bisa pecah. PRANG!! Mati gelap. Kuliah yang berat ini mulai bisa saya jalani dengan asyik setelah saya berusaha untuk menjadikan diri sebagai bagian dari sebuah Universitas dengan pembelajarannya. Bukan menjadikan kuliah sebagai hidup saya. Karena setiap saya memikirkan bahwa kuliah adalah sesuatu yang harus saya lakukan, itu membuat saya malas dan merasa saya butuh kuliah. Tapi ketika saya memikirkan dari cara berpikir yang berbeda itu pun membuat perbedaan. Saya berpikir bahwa pembelajaran itu membutuhkan saya, maka saya haru ada agar tidak mengecewakan orang lain. Cara orang bertahan hidup memang berbeda beda, maka kita harus pilih salah satu untuk bisa beradaptasi. Entah itu masuk akal atau tidak. Jika menurut kalian tidak masuk akal, ingat saja bahwa saya ini anggota GEJEDOTCOM.

Cerita kelima.

Semenjak saya membuka laptop dan mulai menulis postingan ini, saya merasakan sesuatu yang tidak enak. Saya kebelet pipis. Tapi saya tetap bertahan karena saya tidak tau kapan lagi saya bisa ngenet dan menulis disini. Tapi rasanya saya sudah tidak tahan lagi, saya harus pulang. Mungkin besok saya akan kembali lagi. PS : Saya lagi ngenet di kampus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s