Menjadi Ikan Teri

Standard

Iya, ini ikan teri

Iya gambar yang di atas itu ikan teri. Kecil kan kalo dibandingkan ikan kakap?

Ikan teri akan menjadi santapan ikan ikan yang lebih besar. Nggak cuma itu, dia juga enak dinikmati sama kita kita. Apalagi teri medan. Sambel teri medan. Wuu ngiler dah. Apa yang hendak saya ceritakan tentang teri ini? Cekidot.

Perguliran politik di Indonesia tak ubahnya seperti persaingan ikan teri dari mangsa satu ke mangsa yang lainnya. Seperti bola api yang terus bergulir menjadi bola panas. Beberapa hari yang lalu ayah saya masuk koran. Ya koran yang berisi berita berita itu. Menjadi tajuk utama di headline koran tersebut. Bukan karena ayah saya berprestasi menjadi Duta Wisata Kota Madiun [ karena itu adalah saya], atau ayah saya menjadi pelajar teladan [karena ayah saya sudah bukan pelajar], tapi karena tersandung masalah politik.

Ya, ayah saya menjadi ikan teri dari kakap kakap yang hendak mencalonkan diri di persaingan perebutan kekuasaan masa mendatang kota ini. Beliau, [yang tak perlu disebut namanya] berusaha menyerang ayah saya dengan menjadikan ayah saya ikan teri atau umpan padahal sasaran sebenarnya adalah kakap lain alias calon lain yang juga menginginkan posisi itu. Tak pelak adalah penguasa kota kecil ini saat ini.

Politik itu kotor.

Seperti laut yang dulunya bersih, namun dengan campur tangan muncullah sampah sampah yang membuatnya tak menarik. Dilihat dari kedalamannya menjadi tempat yang mengerikan. Selain dalam dan tidak ada manusia di dalamnya, banyak ikan buas yang menanti mangsa untuk dilahap. Kalau Anda tidak pandai berenang dan mempertahankan diri, maka siap siap saja pergi ke neraka dengan tragis.

Saya bukan membela ayah saya, sejak dulu saya tidak suka pelajaran PKN. Karena ketika kami dihadapkan pada sebuah soal atau presentasi, saya harus menjelaskan soal pemerintah dan politik. Itu juga menjadi alasan mengapa saya tidak mau masuk jurusan Hubungan Internasional ketika kuliah. Saya tidak simpati pada apa yang pemerintah lakukan, etika politik, dan mengkerdilkan kasus menjadi hal yang sudah biasa saya lihat di TV. Pendapat saya tentang politik ialah, dunia yang penuh kebohongan dan kekuasaan.

Gayus sebagai ikan teri?

Iya, semua sudah tau bahwa Gayus Tambunan merupakan ikan teri. Yang berarti, masih ada ikan paus, ikan hiu, atau  bahkan ikan ikan besar lainnya. Kali ini saya tidak mengerti bagaimana ikan teri sebesar Gayus, melakukan penggelapan dana dan dianggap ikan teri. Sebutan yang tidak bisa saya terima. Bagi mereka itu hanyalah ikan teri, bagi kami, itu sudah bukan ikan teri. Ikan besar yang kecil, entah apa namanya.

Opini orang.

Saya tidak peduli apa pendapat orang tentang ayah saya lagi, tentang keburukan yang mereka buat, atau bahkan sms gelap dari tetangga yang berusaha menyudutkan. Hanya saja, saya bangga pada ayah saya yang membiarkan semua pendapat orang tanpa memperdulikannya, tidak melawan dan menerima saja apa yang terjadi. Kalau saya jadi ayah saya, mungkin saya tidak bisa setegar itu. Semua hal pasti ada sisi negatif dan positifnya, ketidak pedulian ayah saya ini justru membuat orang yang tidak suka semakin benci. Entah apa yang orang orang itu inginkan dari ayah saya. Entah mengapa ayah saya menjadi sasaran mereka. Tidakkah mereka liat betapa kotornya hati mereka yang merencanakan semua ini?

Ingat saja wahai orang orang berhati kotor,

Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s